Tragedi Pembagian Sembako di Monas

Dua bocah tewas dalam acara bagi-bagi sembako di Monumen Nasional. Panitia dianggap tidak mampu mengelola acara yang menghadirkan banyak orang.

Pagi itu, wajah Komariyah tampak sumringah. Sabtu pagi, 28 April 2018, ia dan putranya berangkat dari rumahnya di Pademangan, Jakarta Utara. Dengan kupon di tangan, mereka bersemangat menuju Monas. Konon, ada pembagian sembako gratis, dapat makan siang, dan berpeluang memenangkan undian hadiah.

Bersama warga yang lain, mereka menumpang bus yang disediakan panitia, berangkat dari Ruko Permata Ancol. Pukul 10.00 WIB, mereka tiba di kawasan Monas.

Namun, kondisi di lokasi pembagian sembako di Monas tak seindah bayangan. Warga tak langsung mendapatkan paket yang dijanjikan. Pemilik kupon harus menghampiri stan demi stan, untuk mendapatkan beras, gula, minyak, kupon makan, kupon hadiah, dan seterusnya. Itu berarti mereka tak hanya antre sekali.

Komariyah menambahkan, jelang siang, suasana kian tak nyaman. Ribuan manusia berjejal di tengah cuaca yang panas menyengat.

Para pemilik kupon yang sedang antre pun gelisah. Mereka yang tak sabar mencoba menyalip giliran. Aksi saling dorong pun terjadi. Situasi pun ricuh, teriakan emosi, seruan dari panitia, serta tangis dan jeritan bocah-bocah cilik yang diajak orangtuanya bercampur jadi satu.

Saat itu, Komariyah mengaku, putranya minta diturunkan dari gendongan. Bocah itu mengaku lapar. Mereka pun mengantre di stan penukaran kupon makan.

Tatkala sedang antre, aksi dorong kembali terjadi. Pertama, dorongan datang dari bagian belakang. Kala itu, Komariyah dan putranya masih baik-baik saja.

Tiba-tiba, dorongan datang dari arah depan. Saat itulah, MRS terjatuh dan terinjak-injak. Dengan perjuangan, Komariyah berhasil menarik anaknya keluar dari kerumunan dan melarikannya ke bawah pohon.

Di situ, bocah berkebutuhan khusus tersebut muntah disertai kejang-kejang. Padahal, saat berangkat ia dalam kondisi sehat.

Dua orang anggota TNI yang melintas lalu membawa MRS ke posko kesehatan di lingkungan Monas. Lantaran fasilitas tidak memadai, ia langsung dirujuk ke RSUD Tarakan, Jakarta Pusat.

Namun, MRS tak mampu bertahan. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Minggu dini hari pukul 04.35 WIB. Komariyah merasa, kehilangan anaknya tak sepadan dengan paket sembako gratis. Namun, sesal selalu datang belakangan.

MRS bukan satu-satunya korban jiwa. MJ, seorang bocah 12 tahun, juga meninggal dunia setelah menghadiri acara pembagian sembako gratis di Monas.

“Kami sangat prihatin ada dua korban yang mesti kehilangan nyawanya. Dua-duanya warga Pademangan,” ucap Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, di kantornya, Jakarta, Senin 30 April 2018.

Keduanya diduga tewas karena terinjak-injak. Kericuhan dalam pembagian sembako itu berbuntut panjang. Panitia dianggap tidak mampu mengelola acara yang menghadirkan banyak orang.

Pembagian sembako di Monas (Foto: Ist)

Komariyah, didampingi kuasa hukumnya, melaporkan Ketua Panitia Penyelenggara Pesta Rakayat Forum Untukmu Indonesia, Dave Revano Santoso, ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu 2 Mei 2018.

Laporan polisi itu terdaftar dengan Nomor: LP/578/V/2018/Bareskrim. Dave dilaporkan dengan dugaan tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 359 KUHP.

Dave sama sekali tak mau buka mulut terkait tragedi yang menelan korban itu. Padahal, beberapa hari sebelumnya, ia masih terbuka meluangkan wawancara dengan seputar insiden di Pesta Rakyat ke beberapa media. Kepada sejumlah wartawan, ia membantah aksi kelompoknya itu terkait partai politik tertentu.

Ada perbedaan informasi antara Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno dengan pihak Polda Metro Jaya perihal tragedi bagi-bagi sembako di Monas ini.

Sandi mengaku mendapat laporan ada dua orang yang meninggal dunia dalam kegiatan pembagian sembako di Monas. Sementara, Polda Metro Jaya menyebut, dua anak yang meninggal dunia di Monas, Sabtu 28 April, bukan peserta acara bagi-bagi sembako yang dilaksanakan Forum Untukmu Indonesia (FUI).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono pada Selasa 1 Mei 2018 mengatakan, polisi mendapat laporan pada 28 April sekitar pukul 15.00, ada anak laki-laki berumur 13 tahun pingsan di luar area Monas atau di seberang Mabes Angkatan Darat. Anak ini kemudian dibawa Satpol PP ke RS Tarakan.

“Setelah dicek di RS Tarakan masih hidup. Kemudian beberapa menit kemudian korban meninggal dunia,” jelasnya. Belakangan, atas instruksi Kapolda Metro Jaya, tim khusus dibentuk untuk menyelidiki kasus tersebut.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan, hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi.

Rekaman itu diperlukan untuk memastikan, apakah meninggalnya kedua bocah terkait antrean pembagian sembako di Monas.

“Kita akan lihat nanti. Ada video atau CCTV untuk cek itu,” tutur Setyo di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Kamis 3 Mei 2018. “Kita ingin mendalami dan memastikan kronologi kayak bagaimana,” jelas Setyo.

Selain itu, penyelidikan juga akan menyoroti perizinan penyelenggaraan acara yang digagas Forum Untukmu Indonesia (FUI).

Terkait itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya mengatakan, bukan tak mungkin Wakil Gubernur akan diundang untuk menjelaskan duduk persoalan perizinan acara bagi-bagi sembako tersebut.

Ketidakjujuran panitia penyelenggara disinyalir sebagai pangkal masalah pembagian sembako maut di Monas. Menurut Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede, izin yang diajukan panitia berupa kegiatan kebudayaan.

Kenyataannya jauh panggang dari api. Forum Untukmu Indonesia nyatanya juga menggelar pembagian sembako. Hal itu yang menjadi daya tarik masyarakat.

“Panitia tidak menjelaskan sedetail mungkin acara dan seberapa besar jumlah massa yang hadir. Dan ternyata jumlah massa yang hadir luar biasa banyaknya,” kata Mangara.

 

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono (Poskota News)

Menilik Peraturan Gubernur nomor 186 tahun 2017 tentang Pengelolaan Kawasan Monas Pasal 6 ayat 2, kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar harus mendapat persetujuan Gubernur.

Tak hanya itu, proposal permohonannya pun lebih dulu dikaji tim khusus yang melibatkan Sekretariat Negara, Polisi, TNI dan Pemprov DKI.

Manggara menuturkan, ribuan massa menyemut di Monas pada Sabtu 29 April 2018 lalu. Pada pukul 11.00, jumlah peserta bagi-bagi sembako sudah mencapai 100 ribu orang.

Informasi yang sejak awal keliru diduga membuat aparat tidak siap mengantisipasinya. Mangara sempat turun langsung ke lokasi hari itu. Ia berdiskusi dengan Kapolres Jakarta Pusat, Dandim Jakarta Pusat, dan Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya.

Keempatnya sepakat pembagian sembako harus segera dihentikan. Namun, kondisi di lapangan membuat semua jadi serba salah. Massa sudah membeludak. Keputusan itu pun urung terlaksana.

Skenario penghentian diubah, menjadi mengawal pembagian sembako. “Bukan menjadi pelaksana, tetapi mengawal supaya tidak terjadi situasi yang tidak dikehendaki,” ungkap Mangara.

Pemprov DKI, kata dia, kemudian membantu untuk mengatur cara bagi-bagi sembako. Acara baru usai menjelang Maghrib.

Tak hanya keramaian ekstrem yang diduga merenggut korban jiwa. Belakangan, masalah lain yang tidak diantisipasi juga muncul. Yakni, sampah yang menumpuk hingga 70 ton beratnya. Juga ada sejumlah problem lain seperti kerusakan sarana dan prasarana.

Yang jelas, Pemprov DKI kini memasukkan Forum Untukmu Indonesia dalam daftar hitam. Mereka tidak akan mendapat lagi izin penyelenggaraan kegiatan. Rupanya, FUI tak hanya melanggar Pergub nomor 186 tahun 2017.

“Kedua, melanggar peraturan ketenteraman dan ketertiban. Banyak sekali yang dilanggar. Beberapa sedang diinventaris biro hukum apa saja yang dilanggar,” kata Sandi di Kementerian Koperasi, Rabu 2 Mei 2018.

FUI juga mencatut logo resmi Pemprov DKI tanpa izin. Seolah, kegiatan itu diselenggarakan Pemprov DKI.

Di sisi lain, Sandiaga mengatakan peristiwa ini akan menjadi pelajaran bagi Pemprov DKI. Ke depan, perizinan akan diperketat.

“Dan ini jadi koreksi untuk Pemprov. Bahwa penggunaan daripada Monas ini betul-betul harus dipastikan,” Sandiaga berujar.

Ia menegaskan bertanggung jawab terhadap insiden pembagian sembako di Monas. Bagaimanapun, menurut Sandi, peristiwa itu terjadi di wilayah DKI Jakarta.

Politisi Gerindra ini juga meminta pihak penyelenggara secara kesatria meminta maaf pada keluarga korban. “Kita harapkan panitia juga gentleman dong, kesatria minta maaf. Kami saja yang tidak salah minta maaf,” ucap Sandiaga.

Spekulasi dan isu terkait pembagian sembako di Monas berseliweran. Dari menyinggung politik hingga yang menyerempet SARA.

Meski demikian, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno meminta insiden pembagian sembako di Monas tak dipolitisasi.

“Mari kita tidak mempolitisasi musibah ini,” kata Sandiaga di Pasar Pelita, Jakarta Utara, Kamis (3/5/2018). Ini, kata dia, sebagai bentuk penghormatan bagi para korban dan keluarganya.

“Jangan bentur-benturkan kami dengan penyelenggara, jangan benturkan kami dengan parpol yang kebetulan tidak mendukung kami pada pilkada sebelumnya,” ujar dia.

Sandiaga Uno mengaku sudah bertemu Ketua Forum Untukmu Indonesia (FUI) Dave Santosa. Pertemuan dengan Dave difasilitasi Ketua Perindo DKI Jakarta Sahrianta Tarigan. Mereka bertemu pada Senin malam.

“Dave Santosa bukan relawan OK OCE (One Kecamatan One Center of Enterpreneurship). Saya baru pertama kali bertemu,” kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (4/5/2018).

Sandiaga bercerita, pertemuannya dengan Dave terjadi setelah ada kekisruhan dalam acara di Monas pada Sabtu lalu. Dia memanggil Dave melalui Ketua DPD Perindo DKI, Sarianta Tarigan.

Kepada Dave, Sandiaga meminta Forum Untukmu Indonesia meminta maaf dan bertanggung jawab atas kekisruhan itu. Dia menegaskan, pertemuan itu tidak ada yang ditutupi.

“Jadi pertemuan itu langsung, saya tidak ada yang saya tutupi, di depan semua saya minta, karena saya enggak kenal dengan FUI. Melalui Pak Sarianta Tarigan sudah diperkenalkan,” kata Sandi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Pasar Koja Baru, Jakarta Utara, Selasa (17/4/2018)–FT WARTA KOTA/YOSIA MARGARETTA

Sandiaga membantah telah mengenal Dave sebelumnya, apalagi jika Dave disebut anggota relawan OK OCE. Sandiaga mengatakan, dia mengenal hampir semua penggerak OK OCE di Jakarta.

“Saya kenal 63-70 penggerak OK OCE. Satu-satu saya tahu di mana rumahnya, saya tahu nomor teleponnya, saya tahu WA (nomor Whatsapp) sama seluruh relawan OK OCE. Jadi untuk beliau tidak, bukan anggota OK OCE,” kata Sandiaga.

Sahrianta Tarigan membenarkan dia telah memfasilitasi pertemuan antara Sandi dan Dave. Namun, ia mengaku tak mengenal Dave sebelumnya. “Sebelumnya saya tidak pernah kenal dengan Dave tetapi saya pakai jaringan saya. Maka ketemulah di Balai Kota dan selama ini saya belum pernah ketemu Dave,” ujar dia.

Ia mengaku tak tahu menahu isi pertemuan tersebut. Ia hanya mengantarkan Dave kepada Sandi. Ia juga menampik pernah mengatakan Dave adalah relawan OK OCE. “Pertemuannya saya tidak tau dan saya tidak terlibat sama sekali di dalam kepanitiaan dan saya tidak pernah mengeluarkan statement apapun, apalagi Dave sebagai Relawan OK OCE,” ujar dia.

Merebaknya isu bahwa Dave adalah relawan OK OCE bermula ketika sebuah media nasional menuliskan pernyataan Sahrianta. Dalam wawancara itu dituliskan, Sahrianta mengatakan bahwa Dave aktif dalam kegiatan OK OCE.

Dave R Santoso merupakan ketua panitia kegiatan bagi-bagi sembako yang berujung maut di Monas. Sebelum acara, Dave mengaku jumlah paket yang dibagikan dalam acara tersebut lebih dari 100 ribu. Ia tak dapat menjawab dengan pasti saat ditanya beberapa kali, berapa jumlah personel yang diturunkan untuk acara bagi-bagi sembako.

Ia hanya menyebutkan ada sekitar 4.000 personel yang akan menjaga keamanan dalam keseluruhan acara, mencakup polisi, tentara, satpol PP, dan relawan. “Paling banyak untuk pembagian sembako,” ujar dia.

Dalam acara itu, jumlah paket sembako yang dibagikan sekitar 400 ribu paket. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) dan Unit Pengelola Teknis (UPT) Monas mengaku sudah menyampaikan larangan secara lisan tentang acara bagi-bagi sembako tersebut. SWU