Sembilan Tahun Buat Auditor

Jaksa menuntut auditor BPK dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Terima suap dari pejabat PT Jasa Marga.

Wajah Auditor Madya pada Sub-Auditorat VII B2 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sigit Yugoharto tampak pucat saat jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin pekan lalu.  Sigit terlihat kaget saat mendengar tuntutan jaksa yang meminta agar majelis hakim menjatuhkan hukuman berupa pidana penjara selama 9 tahun.

Jaksa juga menuntut agar hakim menghukum Sigit untuk membayar denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.  “Kami menuntut supaya majelis menyatakan terdakwa Sigit Yugoharto terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi,” kata Jaksa Ali Fikri.

Dalam pertimbangannya, jaksa menilai perbuatan Sigit tidak mendukung pemerintah yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Sigit dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang yang diberikan untuk melakukan kejahatan. Kemudian, Sigit dinilai telah mencederai kepercayaan masyarakat kepada auditor BPK.

Seusai hakim mengetuk palu tanda berakhirnya sidang, Sigit sempat duduk di kursi pengunjung dan menarik napas panjang. Tak berapa lama kemudian, Sigit didampingi pengawal tahanan keluar ruang sidang menuju ruang tunggu tahanan. Saat sejumlah awak media mengambil foto, salah satu kerabat Sigit memeluknya dan mencoba menghalangi bidikan kamera wartawan.

Menurut jaksa, Sigit terbukti menerima hadiah berupa sepeda motor Harley Davidson.  Ia juga didakwa beberapa kali menerima fasilitas hiburan malam. Satu unit motor dan fasilitas karaoke tersebut diberikan oleh Setiabudi selaku General Manager PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi.

Sigit seharusnya mengetahui bahwa hadiah itu diberikan karena Sigit mengubah hasil temuan sementara Tim Pemeriksa BPK atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu terhadap pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi PT Jasa Marga tahun 2015-2016.

Adapun, Sigit merupakan ketua tim dalam pemeriksaan tersebut.  Anggota tim itu sendiri terdiri dari 10 orang.  Tim yang dipimpin Sigit menemukan dua temuan dalam PDTT yang dikerjakan oleh PT Jasa Marga yakni, kelebihan pembayaran sebesar Rp3,1 Miliar dan disinyalir merugikan perusahaan sebesar Rp4,6 miliar pada pekerjaan tahun 2015.

Sementara tahun 2016 disinyalir mengalami kelebihan pembayaran sebesar Rp5,9 Miliar. Selanjutnya, temuan itu disampaikan kepada Setia Budi. Setelah itu, Setia Budi memberikan arahan kepada tim BPK untuk tidak menyampaikan adanya dua temuan tadi. Atas permintaan itu Setia Budi menyiapkan dana sebasar Rp50 juta untuk fasilitas karaoke kepada tim BPK tersebut.

Kemudian pada tanggal 10 Agustus 2017, Setia Budi bertemu dengan Sigit di Food Court Hotel Best Western Premier The Hive Jakarta Timur untuk membicarakan tentang klarifikasi yang telah dilakukan oleh PT Jasa Marga. “Dalam pertemuan itu Sigit dan Setia Budi juga membicarakan tentang sepeda motor Harley Davidson,” kata Jaksa.

Setiabudi yang membayar makan malam tersebut. “Setelah makan malam, Tim Pemeriksa BPK bersama Cucup Sutisna, Asep Komarwan, dan Andriansyah pergi ke Havana Spa dan Karaoke di Jalan Sukajadi Bandung dengan menghabiskan biaya Rp 41.721.200 yang dibayar Janudin dari PT Gienda Putra (subkontraktor Jasa Marga).

Fasilitas karaoke juga diberikan kepada Sigit dan Tim Pemeriksa BPK lain saat mereka karaoke di Las Vegas Plaza Semanggi Jakarta Selatan. Biaya karaoke disebutkan senilai Rp 30 juta. Pada 11 Agustus 2017, Sigit bersama tim pemeriksa BPK lain bertemu Setiabudi di di karaoke Las Vegas Plaza Semanggi dan membahas jumlah kelebihan pembayaran. Kelebihan bayar bisa ‘close’ apabila Jasa Marga mengembalikan uang kelebihan.

Selain fasilitas karaoke, Sigit juga pada Juni 2017 menerima Rp 7,5 juta dari Deputi GM Maintenance Service Management PT Jasa Marga Cabang CTC Sucandra Hutabarat. Selain Sigit, ada 7 auditor BPK lain yang juga menerima uang dari Sucandra. Jumlahnya masing-masing Rp 2 juta.

Tak hanya itu, Sigit juga diduga menerima motor gede (moge) Harley Davidson dari Setiabudi. Harga moge senilai Rp 115 juta.  “Menerima hadiah yaitu menerima satu unit motor Harley Davidson Sportster 883 tahun 2000 dan menerima beberapa kali fasilitas hiburan malam di karaoke Las Vegas Plaza Semanggi dari Setia Budi selaku GM PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi,” ujar jaksa.

Awalnya pada 18 Agustus 2017, Sigit bertemu Setiabudi dan meminta motor tersebut. Sigit sempat meminta Deputi GM Maintenance Service Management PT Jasa Marga melihat-lihat moge di Arcamanik Bandung. Harley Davidsonk dari Setiabudi kemudian diantarkan langsung ke rumah Sigit di Bandung pada 24 Agustus 2017.

Jaksa meyakini semua fasilitas yang diberikan kepada Sigit terkait dengan diubahnya hasil temuan sementara BPK dalam pengelolaan keuangan PT Jasa Marga. “Terdakwa mengetahui atau patut diduga hadiah tersebut karena terdakwa mengubah hasil temuan sementara tim pemeriksa BPK atas PDTT terhadap pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya dan kegiatan investasi pada PT Jasa Marga cabang Purbaleunyi 2015-2016,” jelas Jaksa.

Akibat perbuatannya, Sigit didakwa melanggar Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1). Persidangan Sigit dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi. Ada sejumlah saksi dihadirkan.

Auditor Madya pada Sub Auditorat VII.B.2 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Sigit Yugoharto (kanan) bersiap untuk menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (8/2). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Diantaranya pemilik Harley Davidson, Indra Kharisma. Ia mengakui bertemu dengan Sigit pada Agustus 2017 di rumahnya. Pertemuan itu diawali dengan percakapan lewat Facebook. Sigit menggunakan nama Juan pada Facebook-nya. Lalu Sigit meminta nomor ponsel, nomor Whatapps dan sharing lokasi. Sigit lalu datang ke rumah Indra.

Saat keduanya bertemu barulah Indra mengetahui nama asli Sigit. Ketika bertemu dengan Indra, Sigit mengaku profesinya sebagai pengacara. Alasan Sigit membeli motor tersebut karena anaknya nakal. Ia menawar harga motor itu Rp 115 juta. Akhirnya keduanya sepakat. Malamnya Sigit menghubung Indra dan mengatakan besok akan ada temannyanya datang ke rumah.

Keesokan harinya ada dua orang datang ke rumahnya, yang belakangan diketahuinya bernama Cucup Sutrisna dan Jurry Oktavizar yang merupakan karyawan PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi. Setelah dilunasi, motor Harley Davidson itu kemudian dikirim ke rumah Sigit di Jakarta pada tanggal 25 Agustus 2017.

Sedangkan dalam kesaksian tiga auditor BPK Roy Steven, Imam Sutaya dan Kurnia Setiawan, ketiganya mengaku masing-masing mendapat uang tunjangan hari raya (THR) sebesar Rp 2 juta. Uang itu mereka peroleh saat tergabung dalam tim pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) yang dipimpin Sigit.

“Ada dua juta dari Pak Sigit. Katanya buat THR, uang buat tiket,” ujar Roy Steven. Uang tersebut diberikan menggunakan amplop. Sementara itu, Setiawan mengaku pernah dititipkan beberapa amplop oleh Sigit.  Namun, ia menolak memberikan kepada pihak lain. “Saya pernah dititipi untuk Roy. Saya menduga uang itu uang pribadi,” kata Setiawan.

Uang-uang yang dibagikan itu diduga berasal dari pejabat di PT Jasa Marga Cabang Cawang Tangerang Cengkareng (CTC). Namun, Roy, Setiawan dan Imam mengaku tidak mengetahui asal-usul uang tersebut. Mereka pun baru kali itu diberikan uang THR oleh Sigit.

Sedangkan Kurnia Setiawan dalam kesaksiannya membenarkan adanya tim BPK yang melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap pengelolaan pendapatan usaha, pengendalian biaya, dan kegiatan investasi PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi tahun 2015-2016. Adapun Sigit menjabat sebagai ketua tim.

Ia juga membenarkan adanya fasilitas menginap selama tiga hari yang menghabiskan biaya Rp 7 juta. Semuanya dibayar oleh PT Jasa Marga. Bahkan, selain fasilitas hotel, PT Jasa Marga juga memberikan fasilitas makan malam dan hiburan malam.

Namun kemudian pemberian fasilitas  tersebut membawa Sigit ke jeruji besi dan terancam 9 tahun.  Menanggapi tuntutan itu, Sigit sangat keberatan dan merasa shock. Bahkan suara Sigit menjadi parau dan terdengar seperti menahan tangis. “Saya merasa tuntutan sangat luar biasa dan sangat berat bagi saya,” ujarnya.  Ia pun meminta waktu dua minggu untuk mengajukan pembelaan (pledoi) kepada majelis hakim.  AFKHAR