Rinjani, Geopark Dunia

Sebelumnya hanya dua geopark yang diakui UNESCO dari puluhan yang ada. Kini Rinjani dan Cileteuh juga sudah diakui.

Kawasan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya ditetapkan menjadi geopark dunia dalam sidang Unesco Executive Board, di Paris, Perancis, Kamis pertengahan April lalu.

Direktur Conservation Strategy Fund (CSF) Indonesia, Mubariq Ahmad melihat positif penetapan tersebut. “Hal itu merupakan pengakuan bahwa Gunung Rinjani itu spesial dan punya daya tarik khusus secara keilmuan geologi,” kata Mubariq yang dihubungi Mongabay-Indonesia pada Selasa (19/4/2018).

Kawasan Gunung Rinjani menurutnya istimewa berbeda dengan gunung yang lain di Indonesia karena masih aktif pergerakan geologinya. “Seperti living formation of geoform, Gunung Rinjani masih terjadi pembntukan, seperti makin tingginya gunung baru. Dari segi geological sains pasti menarik,” katanya.

Selain statusnya merupakan taman nasional, penetapan Gunung Rinjani menjadi geopark dunia juga bakal berdampak untuk menarik wisatawan berkunjung.

Disisi yang lain, lanjut Mubariq, penetapan geopark itu juga menjadi pressure bagi pemerintah untuk mengelola kawasan tersebut lebih baik lagi. Karena tidak hanya aspek geologis, kawasan Gunung Rinjani juga tentu mempunyai fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati yang perlu dijaga.

“Birokrat cenderung melihat penetapan status ini sebagai beban tambahan kerja,” katanya.

Penetapan status geopark, katanya, juga bisa menjadi daya tarik untuk mendatangkan pendanaan. “Meski penetapan status oleh Unesco ini tidak serta merta mendatangkan uang untuk penambahan biaya pengelolaan. Seperti banyak hal, misalnya Ramsar site dan heritage site, Unesco tidak serta merta memberi dana. Semua status Unesco tidak otomotis mendatangkan pendanaan, karena Unesco merupakan organisasi UN yang paling miksin dan tidak bisa mendatangan uang,” jelas Mubariq.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya ditetapkan menjadi geopark dunia. “Alhamdulillah sudah sudah ditetapkan pada sidang Unesco Executive Board kemarin di Paris. Geopark Rinjani kini resmi sebagai anggota baru Unesco Global Geopark,” kata General Manager Geopark Rinjani, Chairul Mahsul, pada Jumat (13/4) dalam siaran pers Kementerian Pariwisata

Chairul mengatakan indikasi Gunung Rinjani akan menjadi Global Geopark sebenarnya telah terlihat, ketika NTB ditunjuk sebagai tuan rumah Asia Pasific Geopark Network Symposium, pertemuan seluruh anggota Geopark se-Asia Pasific pada 2019.

“Secara de facto, Gunung Rinjani sudah masuk menjadi geopark dunia sejak ditunjuknya NTB menjadi tuan rumah kegiatan Asia Pasific Geopark Network Symposium pada 2019. Namun pengumuman resminya dikeluarkan pada April 2018. Sedangkan penyerahan piagam sebagai anggota baru geopark dunia akan dilaksanakan di Italia, September 2018,” katanya.

Dengan status tersebut, kawasan Gunung Rinjani akan semakin dipromosikan ke masyarakat internasional, yang akan berimbas pada sektor pariwisata NTB.

“Di seluruh dunia ini ada ratusan Unesco Global Geopark. Dengan masuknya Gunung Rinjani menjadi Unesco Global Geopark tentu menjadi ajang promosi yang efektif terutama bagi sektor kepariwisataan NTB. Tentunya, akan semakin banyak wisatawan internasional yang tertarik untuk berkunjung Gunung Rinjani,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal menyambut gembira penetapan tersebut, setelah diperjuangkan Pemprov NTB sejak 2013.

“Ini merupakan hal positif. Kawasan Gunung Rinjani akan makin mendunia. Imbasnya adalah peningkatan kunjungan wisata. Kalau sudah begitu porter, masyarakat yang punya homestay, kuliner, transport semuanya hidup, dan timbulkan efek domino yang luar biasa,” ujar Faozal.

Sedangkan Menteri Pariwisata Arief merasa senang dan hal ini membuktikan semakin banyak pengakuan dunia yang mampir ke Indonesia, semakin menaikkan pamor Indonesia. Penetapan ini juga akan meningkatkan kunjungan wisatawan yang akan meningkatkan perekonomian NTB.

Arief mencontohkan China yang berhasil mengembangkan Yuntaishan Geopark semula tahun 2000 dikunjungi 200 ribu wisatawan, meningkat menjadi 1,25 juta wisatawan dengan perolehan devisa sebesar US$90 juta pada 2004, setelah dua tahun bergabung dengan GGN UNESCO.

“Begitu pula Jeju Island Geopark di Korea Selatan tahun 2011 dikunjungi 7 juta wisatawan. Saya yakin Kawasan Gunung Rinjani bakal makin nge-hits lagi” kata Menpar Arief.

Selain Gunung Rinjani, Geopark Ciletuh, Palabuhanratu, juga resmi mendapatkan predikat sebagai Unesco Global Geopark, bersama dengan 12 geopark dari 11 negara.

“Semua negara menyetujui kawasan Ciletuh,Palabuhanratu, sebagai UGG,” ujar Dana Budiman, General Manager Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sabtu (14/4).

Dengan status tersebut, Ciletuh bakal menjadi destinasi wisata dunia. “Potensinya juga sangat besar. Keindahan alamnya lengkap. Ada landscape, gunung, air terjun, sawah, ladang, dan berujung di muara sungai ke laut. Karena itu harus cepat dikembangkan, agar bisa menghidupkan ekonomi masyarakatnya,” ujar Dana.

Geopark Ciletuh juga dikelilingi hamparan alluvial dengan batuan unik dan pemandangan yang indah. Selain itu, ada juga punya pantai yang keren. Menariknya, Geopark Ciletuh juga punya ombak yang disukai surfer-surfer dunia. Tengok saja Pantai Cimaja. Pantai itu sering terpilih sebagai lokasi lomba Surfing berskala internasional.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dari awal sudah yakin Geopark Ciletuh akan ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark (UGG). “Rumus destinasi kelas dunia adalah atraction, access, dan tourism resource. Saya lihat Geopark Ciletuh-Palabuhanratu sudah memiliki itu dan kita harapkan akan menjadi UGG,” katanya.

Tiga unsur yang harus dipenuhi agar menjadi UGG yaitu geodiversity, biodiversity, dan culture diversity, semua sudah ada di geopark ini. “Saya lihat sudah ada semua di sini. Saya sudah melihat dan menikmati Ujung Genteng. Sungguh luar biasa. Ini kepingan surga karunia Tuhan,” tambahnya.

Saat ini Indonesia memiliki hampir 30 geopark (Taman Bumi) di seluruh penjuru Nusantara. Diharapkan dengan adanya geopark ini bisa menjadi tumpuan wisata berbasis lingkungan.

Kendati demikian, hanya dua geopark yang berskala global dan telah masuk warisan UNESCO, yakni Geopark Gunung Batur (Bali) dan geopark Gunungsewu (Daerah Istimewa Yogyakarta). Selebihnya berstatus nasional dan kandidat. Dengan masuknya Rinjani dan Cileteuh tentu menjadi kebahagiaan yang luar biasa.

Untuk kembali mengingatkan, Kawasan Kaldera Gunung Batur resmi masuk jaringan Taman Bumi Global oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 20 September 2012 resmi. Gepark ini memiliki keragaman geologi, hayati, dan kebudayaan.

Taman Bumi Global Batur meliputi 15 desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kawasan ini sebelum diakui oleh UNESCO memang sudah diminati wisatawan. Kaldera Batur diterima oleh UNESCO sebagai anggota Global Geoparks Network (GGN) di urutan ke-74. Indonesia pertama kali menjadi anggota GGN melalui Taman Bumi Batur, Bali.

Pada 2016 dilakukan peninjauan ulang (revalidasi) Taman Bumi Batur dalam hal tata kelola dan lulus. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli I Wayan Adnyana menjelaskan saat ini sudah ada 15 kelompok sadar wisata yang dikelola masyarakat.

Sedangkan UNESCO resmi menetapkan Geopark Gunungsewu sebagai bagian dari Global Geoparks Networks pada September 2015. Lembaga itu bakal melakukan revalidasi lagi pada 2019. Geopark Gunungsewu meliputi tiga kabupaten masing-masing Gunung Kidul, Pacitan dan Wonogiri. Ada puluhan geosite didalamnya.

Luas Gunungsewu mencapai 1.802 kilometer persegi yang terdiri dari 33 situs alam atau geosite. Sebanyak 13 situs alam berada di Gunungsewu di wilayah Gunung Kidul.

Situs geosite di Gunung Kidul itu adalah, Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Kali Ngalang, Gedangsari, Hutan Wanagama, Playen, Air Terjun Sri Gethuk, Bleberan, Playen, Gua Kali Suci, Semanu, Gua Jomblang, Semanu, Gua Pindul, Bejiharjo, Karangmojo, Lembah Karst Mulo, Wonosari.

Selanjutnya, Pantai Baron-Pantai Kukup-Pantai Krakal, Tanjungsari, Pantai Siung-Gunung Batur-Pantai Wediombo, Tepus dan Girisubo, Hutan Wisata Turunan, Girisuko, Panggang, Gua Cokro, Umbulrejo, Ponjong dan Bengawan Solo Purba (Sadeng) wilayah Desa Pucung, Kecamatan Girisubo.IIEN SOEPOMO