Nyawa Dibayar Sebungkus Sembako

Peristiwa tragis terjadi dalam acara pembagian sembako yang digelar oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI), di Monas, Jakarta, Sabtu 29 April 2018. Demi beberapa liter beras, dua bocah bernama Adinda Rizki (12) dan Mahesa Janedi (10) harus meregang nyawa.

Kejadian nahas ini sontak menyita perhatian publik. Banyak yang prihatin, tak sedikit yang mengecam. Ternyata, tragedi berdarah dalam kegiatan bagi-bagi beras, bahan pokok, dan sejenisnya, bukan kali ini terjadi. Terhitung ada lima kejadian cukup besar yang menuai prihatin lantaran beras ditukar nyawa.

  1. Antre daging di Istiqlal berujung maut

Hari Raya Idul Adha tahun 2013 silam harus memakan nyawa. Ketika itu, sejumlah media berburu berita atas meninggalnya seorang lansia yang dalam pembagian daging di Masjid Istiqlal yang semula diduga akibat berdesak-desakan.

Lansia yang tewas yang saat itu diketahui berusia 74 tahun itu bernama Sukiyo, warga Pasar Baru Sukiyo, Jakarta Pusat yang saat itu datang seorang diri.

Saat mengantre kakek ini tiba-tiba terjatuh, tubuhnya terlihat membiru, nadinya sudah tak lagi berdenyut. Dia kehilangan nyawanya. Kakek tersebut tewas karena riwayat stroke dan darah tinggi yang dideritanya dan diperparah ketika mengantre menukarkan kupon daging untuk bisa mencicipi gulai bersama keluarga.

  1. Wanita tewas di tengah desakan berebut uang Rp 20 ribu

Peristiwa lain yang tak kalah mengundang prihatin adalah pembagian zakat untuk warga miskin di Jalan KH. Mas Mansyur Surabaya, Senin, 5 Agustus 2013 silam.

Melansir dari website Sinar Surabaya, sekitar 3 ribu warga berdesak-desakkan demi mendapatkan uang zakat senilai Rp 20 ribu yang dibagikan oleh seorang pengusaha sarung.

Tidak hanya dewasa, banyak pula lansia dan anak-anak yang ikut mengantre. Bahkan, tak sedikit balita yang menangis akibat terjepit warga yang berdesak-desakan. Akhirnya, demi Rp 20 ribu, seorang wanita yang ikut antre harus meninggal dunia.

  1. Nenek meninggal saat mengantre beras raskin

Kejadian antre sembako berujung maut terjadi di Kudus 2017 lalu di Desa Bulungcangkring, Jekulo Kudus. Pasalnya, seorang peserta penerima jatah beras Ranstra, seperti dikutip dari infokudus bernama nenek Nurisih (70), bertaruh nyawa demi mengambil jatah beras Ranstra di depan Balai Desa Bulungcangkring Jekulo Kudus, Senin, 19 Juni 2017 lalu.

Setelah mengambil jatah beras, nenek tersebut sempat mendapatkan pertolongan oleh sejumlah warga dan perangkat desa setempat, sayangnya, beras tersebut harus dibayar dengan nyawa sang nenek dengan penyebab kematian diduga karena serangan jantung.

  1. Sebanyak 21 Orang tewas saat antre pembagian zakat

Insiden antre sembako paling mematikan terjadi di Pasuruan, Jawa Timur. Korban tewas akibat berdesak-desakan terjadi di bulan Ramadan tahun 2008 silam.

Ketika itu, ribuan warga sejak pagi sudah berkumpul di dekat halaman rumah sang dermawan untuk berebut masuk demi mendapatkan zakat 2,5 kg beras yang diuangkan senilai Rp 30 ribu per orang.

Tak sedikit warga yang terjepit dan pingsan akibat berdesak-desakan. Tidak berhenti di situ, saling desak ini pun merenggut korban jiwa. Akibat antrean yang membeludak, tercatat 21 orang tewas dan puluhan lainnya tak sadarkan diri.

  1. Dua anak meninggal saat ikut orang tua mengantre beras

Kematian Muhammad Rizki Syahputra (10) tahun, dan Mahesa Junaedi (13) menjadi kasus terbaru yang menuai rasa simpati publik. Saat berdesak-desakan menunggu giliran mendapat beras, Rizki dan Mahesa pingsan. Sempat dibawa ke rumah sakit Tarakan, tapi nyawa korban akhirnya tak tertolong pada pukul 04.35 WIB.

Ibunda dari Adinda Rizki, Komariyah, melapor ke Bareskrim Polri guna mencari keadilan atas kematian anaknya. Ibu berusia 49 tahun itu merasa shock karena panitia yang menjaga lokasi tidak sigap dalam memberikan bantuan kepada sang korban.

“Saat kejadian kami minta tolong ke beberapa panitia laki-laki. Namun mereka sibuk mengurusi chaos. Saat tak diacuhkan, korban sudah tergeletak dengan kondisi muntah dan kejang,” terang Muhammad Fayyadh selaku kuasa hukum pelapor di Bareskrim Polri, Rabu (2/5).

Lantas jika bagi-bagi sembako dengan menukarkan dengan kupon kerap kali berujung nyawa, apakah masih pantas dilakukan?