New Yogyakarta, Sultan Diancam Bunuh

Peringatan Hari Buruh 2018 di Daerah Istimewa Yogyakarta berujung anarki. Tidak hanya mengamuk dengan merusak fasilitas umum dan membakar pos polisi, massa mulai mengancam membunuh Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Ancaman pembunuhan ini terjadi ketika berbagai elemen massa berunjuk rasa memperingati hari buruh internasional di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1 Mei 2018. Selain menuntut hak-hak kaum buruh, massa juga menyuarakan penolakan proyek pembangunan New Yogyakarta Internatioal Airport (NYIA). Aksi ini berujung rusuh. Satu pos polisi dibakar dan beberapa rambu lalu lintas juga dirusak demonstran.

Dalam penyisiran di lokasi kerusuham, polisi menemukan spanduk dan beberapa coretan dinding bertuliskan “Bunuh Sultan” di dekat Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bagi polisi tulisan ini tidak bisa dianggap main-main karena menyasar terhadap pejabat. ”Kami fokus memperhatikan keamanan sultan sekaligus gubernur. Kami tak akan membiarkan apa pun yang terjadi kepadanya,” kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto, Kamis dua pekan lalu.

Seusai ditemukannya spanduk berisi ancaman itu, Polda DIY langsung memperketat penjagaan Sultan Hamengku Buwono X. Yulianto mengatakan, penjagaan terhadap sultan tetap diperketat meski pihak keraton maupun kegubernuran juga turut melakukan pengawalan.

Direktur Reskrimum Polda DIY Kombes Hadi Utomo menilai tulisan ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada HB X merupakan aksi vandalisme. Tulisan itu bersifat menghasut sekaligus bertentangan dengan Pasal 160 KUHP. “Siapa pun pelakunya, bisa jadi tersangka,” terang Hadi.

Sri Sultan Hamengkubuwono sebenarnya tak menggubris ancaman pembunuhan. Raja Keraton ini memilih bersikap santai dan tak mau khawatir terhadap coretan ‘Bunuh Sultan’ yang ditemukan di sejumlah titik pada dinding kampus dan baliho.

Secara pribadi dia mengaku tidak marah dan berjanji tak akan bersikap antipati berlebihan seperti meminta pengawalan. Sultan pun menilai gerakan ancaman pembunuhan juga tak akan semudah itu dilakukan. Tapi dia mengaku cukup kecewa dengan aksi anarkistis mahasiswa yang hamper tak pernah terjadi pada aksi demonstrasi di Yogya sebelumnya. “Wong pas mahasiswa dulu saya juga jadi demonstran, yo podho (ya sama), jadi biasa saja dengan ancaman itu, “ ujar Sultan HB X ditemui di Kantor Gubernur DIY, Rabu lalu.

Sejauh ini Sultan HB X juga tak berniat memperkarakan siapa pelaku ancaman pembunuhan kepadanya itu. Ia tak berniat melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian. Hanya saja, ujar Sultan HB X, karena aksi itu sudah berujung anarki dan melakukan perusakan serta pembakaran pos polisi maka yang harus bertindak penegak hukum. “Biar diproses hukum seperti ketentuan saja, karena kan aksi itu membawa bom motov yang dipersiapkan,” ujarnya.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DI Yogyakarta Faizi Zain tak membantah pernyataan Sultan HB X. Dia mengakui aksi itu sudah melenceng jauh dari yang direncanakan dan diagendakan. Menurut dia, aksi itu semula hendak mengangkat isu tentang buruh berkaitan dengan peringatan May Day.

Namun belakangan, muncul isu lain, mulai penolakan pembangunan Bandara NYIA hingga Nawacita Presiden Joko Widodo. Pihaknya pun membantah keras jika aksi itu diatur untuk berbuat anarkistis, seperti perusakan dan pembakaran pos polisi.“Sudah melenceng, kami tidak bisa mengendalikan massa di lapangan,” kata dia.

Polda DI Yogyakarta sempat mengamankan 69 peserta aksi terdiri dari 59 laki-laki dan sisanya perempuan. Namun dalam pemeriksaan hanya 12 orang yang bisa dijadikan tersangka.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian RI Inspektur Jenderal Setyo Wasisto belum menjelaskan secara rinci mengenai peran masing-masing tersangka karena sedang didalami. Menurut Setyo, aksi yang di antaranya diikuti mahasiswa UIN Yogyakarta itu faktanya meneriakkan tuntutan yang tidak ada kaitannya dengan buruh. Polisi bahkan menyebut unjuk rasa itu ilegal karena tidak ada pembeitahuan ke Polda DI Yogyakarta.

Kombes Hadi Utomo menambahkan, sebanyak delapan tersangka diputuskan ditahan berdasarkan syarat subyektif yang dimiliki kepolisian, antara lain karena dikhawatirkan mempersulit penyidikan, mengulangi perbuatan, dan faktor lain. Sedangkan empat tersangka, yaitu MS, RAP, HSB, dan MA, tak ditahan karena perkaranya hanya terkait dengan Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang perusakan barang, yang ancaman hukumannya tak sampai dua tahun penjara.

Adapun delapan tersangka yang ditahan sebagian besar berstatus mahasiswa dari luar Yogyakarta yang sedang menempuh pendidikan di sejumlah kampus kota tersebut. Mereka dianggap terlibat dalam pembakaran pos polisi, pelemparan bom Molotov, dan perusakan rambu

lalu lintas. Mereka di antaranya AM (24) asal Bandung, mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang melempar molotov ke pos polisi. MC (25) asal Nusa Tenggara Timur, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai coordinator lapangan. MI (22) asal Kalimantan Barat, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memukul papan seng pos polisi dengan tongkat besi. Kemudian WAP (24) asal Wonogiri, Jawa Tengah, mahasiswa Universitas Islam

Indonesia (UII) Yogyakarta menendang water barrier ke dalam pos polisi yang terbakar. ZW (22) asal Sumatera Barat, mahasiswa UII mematahkan rambu lalu lintas. EA (22) asal Karanganyar, Jawa Tengah, mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta menyeret payung polisi lalu lintas (polantas) ke jalan dan merusak pos polisi. AMH (20) asal Jombang, mahasiswa UII yang memukuli pos polisi, melempar petasan, dan merusak rambu jalan.

Aksi demo sejumlah aktivis yang menamakan diri Gerakan 1 Mei di simpang tiga Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (DN Times/Ardiansyah Fajar)

Di antara para tersangka itu, kata Hadi, ada yang memiliki latar belakang organisasi lain. MC yang menjadi koordinator lapangan aksi tersebut merupakan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Sedangkan MI tercatat sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Adapun satu tersangka lain tidak berstatus mahasiswa, yaitu BV (24) asal Sulawesi Utara. Ia adalah seorang tukang sablon yang berperan melempar molotov ke pos polisi dan sepeda motor polantas. BV juga terbukti menggunakan narkoba.

“Delapan tersangka ini kita jerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 187 KUHP dan atau 170 KUHP dan atau 406 KUHP. Ancaman hukuman di atas lima tahun penjara,” beber Hadi.

Sementara pelaku penulisan ‘Bunuh Sultan’ ditangkap Polres Bogor Kota di Jalan Pengadilan, Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat, Selasa pekan lalu. Dalam penggerebekan tersebut, dua orang yang diduga tersangka, yakni Hasnul Arif dan Didi Nugroho, selaku pelaku

pembakaran dan ancaman terhadap Sultan. Tulisan ancaman terhadap Sultan dibuat pada saat aksi massa memperingati Hari Buruh Internasional pada 1 Mei lalu di pertigaan UIN Yogyakarta. “Dua pelaku ditangkap Selasa dini hari, sekitar pukul 01.30 WIB,” kata Kasubag Humas Polresta Bogor Kota AKP Yunih Astuti.

Proyek Bandara NYIA yang berada di Kulonprogo ditolak warga terutama yang berada di Kecamatan Temon karena akan menggusur tanah pertanian mereka. Sebelumnya massa sudah berulang kali menyampaikan keberatannya itu dengan berunjukrasa di Kantor DPRD DI Yogyakarta. Pembangunan bandara di Kulon Progo karena dinilai tidak memihak rakyat. “Kami meminta hentikan pembangunan bandara. Karena menggusur lahan petani,” kata koordinator aksi Fikri M Farok ketika berorasi di DPRD DIY, Selasa lalu.

Massa mengakatan aksi penggusuran yang dilakukan aparat sudah sangat keji. Aparat sangat represif dan tetap menggusur lahan warga, meski sudah menunjukkan dokumen kepemilikan sah. (Zainul Arifin Siregar)