Dollar Melejit, Rupiah Terpuruk

Banyak faktor yang mempengaruhi melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Pemerintah optimis akan membaik.

Dua pekan sebelum memasuki bulan Ramadhan, rupiah tak terkendali. Dan memasuki bulan Ramadhan, rupiah makin terpuruk. Pertengahan pekan lalu, Rabu 16 Mei 2018,

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menekan rupiah pagi ini. Mengutip Reuters,  dolar AS sempat menyentuh Rp 14.095. Tercatat, dolar AS sudah mengambil ancang-ancang penguatan pada posisi Rp 14.070, lebih tinggi dari posisi kemarin yang ada di Rp 14.017. Jelang siang, dolar AS terus merangkak naik dan menyentuh angka Rp 14.080.

Penguatan dolar AS tidak hanya dirasakan rupiah, yen Jepang juga ikut melemah hingga menyentuh level 110,260 pukul 10.55 WIB. Nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang sempat menyentuh level 110,340.

Penguatan dolar AS juga dirasakan ringgit Malaysia yang saat ini berada di level 3,954. Nilai tukar dolar AS terhadap ringgit Malaysia sebelumnya berada di level 3,9600. Nilai tukar dolar AS terhadap dolar Singapura saat ini berada di level 1,3418 atau mengalami pelemahan dari sebelumnya berada di level 1,3452.

Sementara itu, dolar AS terhadap dolar Hong Kong berada di level 7,8498 dari sebelumnya 7,8499. Nilai tukar dolar AS terhadap dolar Hong Kong bergerak fluktuatif.

Nilai Tukar Rupiah Tahun 1998 Pelemahan nilai tukar rupiah ke zona Rp 14.000 per dollar AS sebenarnya tidak terjadi kali ini saja. Sebelumnya, tiga tahun lalu, tepatnya pada 29 September 2015, nilai tukar rupiah tersungkur hingga Rp 14.728 per dollar AS, melemah dari Januari 2015 yang masih Rp 12.474 per dollar.

Tidak heran jika pelaku ekonomi saat ini dibayang-bayangi masa-masa krisis 1998. Maklum, saat ini, nilai tukar rupiah hanya selisih Rp 2.000 dibanding nilai tukar saat krisis 1998. Pada Juni 1998, rupiah berada di posisi Rp 16.800 per dollar AS, atau terburuk sepanjang catatan sejarah republik ini.

Padahal setahun sebelum krisis terjadi, tepatnya 1997, rupiah aman di angka Rp 2.400 per dollar AS. Saat itu, pergerakan keterpurukan rupiah berlangsung cepat. Dari Rp 2.400 menjadi Rp 3.200 lalu bergerak ke level Rp 5.500 per dollar AS.

Gubernur BI Agus Martowardojo (kiri) didampingi Deputi Gubernur Erwin Rijanto (kanan) menyampaikan paparan terkait perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di Jakarta, Kamis (26/4). . (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Namun kondisi itu ternyata hanya sementara. Badai lebih besar datang dan menghantam Rupiah ke level paling buruk yakni Rp 16.800 per dollar AS pada Juni 1998. Perbedaannya dengan pelemahan rupiah sekarang, pelemahan rupiah terhadap dollar AS terjadi cukup lambat.

Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, bisa jadi inilah rupiah menempati posisi yang terbilang lemah. Bahkan pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings menilai depresiasi Rupiah belakangan ini dapat menambah tekanan pada pengembang (developer) di Indonesia.

Menurut Fitch, hal tersebut dikarenakan pengembang di Indonesia memiliki sebagian besar pinjaman dalam mata uang dolar AS. Rupiah adalah mata uang berkinerja terburuk kedua di Asia dalam tiga bulan terakhir dan menembus Rp14.000 per USD, level yang tidak terlihat sejak Desember 2015.

“Dalam jangka pendek, ini akan mempengaruhi pengembang Indonesia karena bunga dan pembayaran modal akan meningkat dalam mata uang lokal. Masing-masing pengembang yang di-rating oleh Fitch memiliki 50% atau lebih dari pinjaman mereka dalam dolar AS karena obligasi berdenominasi dolar secara tradisional lebih menarik karena mereka memiliki basis investor yang lebih luas dan lebih murah daripada pinjaman bank atau obligasi domestik,” tulis Fitch dalam pernyataan resminya, Rabu 16 Mei 2018.

Fitch juga percaya bahwa depresiasi mata uang juga dapat menyebabkan buyers menunda pembelian besar karena ketidakpastian seputar pemilihan presiden pada 2019. Akibatnya, ini dapat menghasilkan presales yang lebih rendah dari perkiraan dan arus kas yang terkait.

Margin keuntungan tebal pengembang Indonesia berasal dari bank-bank tanah mereka yang besar dan berbiaya rendah, yang menyediakan bantalan yang cukup terhadap depresiasi rupiah, tetapi marjin dapat menipis seiring waktu jika permintaan properti lunak dan depresiasi mata uang masih ada.

Depresiasi rupiah juga akan berdampak terbatas pada profil leverage pengembang. Jika Rupiah melemah ke sekitar Rp15.000 per USD, leverage untuk pengembang yang di-rating oleh Fitch akan meningkat antara 2 hingga 6 persen.

Terpuruknya rupiah, tentu akan memberikan dampak di beberapa sektor ekonomi.  Mengacu pada krisis tahun 1998, berdasarkan riset yang dilakukan peneliti Bank Indonesia pada 1998, secara umum disebutkan, perusahaan yang memiliki sumber daya di dalam negeri yang kuat, berorientasi ekspor, memiliki sumber pembiayaan non-rupiah yang rendah, mereka mampu bertahan jika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sedang tertekan. Bahkan perusahaan itu tetap bisa tumbuh positif.

Namun ada usaha-usaha yang harus menanggung beban gulung tikar karena pengaruh nilai tukar dollar terhadap rupiah. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Noor Yudanto dan M. Setyawan Santoso terasa masih relevan hingga saat ini, perusahaan yang harus bersiaga adalah industri pengolahan, sektor ini memiliki kandungan impor yang tinggi sehingga sangat terpengaruh dengan pelemahan rupiah terhadap dollar AS. Kegiatan produksi sektor ini menjadi sangat mahal dengan kondisi rupiah yang sedang melemah. Saat bank menaikkan suku bunga kredit, sektor ini juga akan mengalami tekanan baru.

Sektor bangunan dan property juga harus waspada. Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan cukup memukul sektor properti ini, bersama sektor industri pengolahan. Karena sektor bangunan ini banyak menggunakan bahan baku impor, terutama perlengkapan pembangunan properti, dan pinjaman non-rupiah. Tekanan dari sisi suku bunga juga cukup besar. Sebab konsumen mengerem membeli bangunan jika suku bunga bank naik.

Berikutnya adalah sektor perdagangan, Dimana pelemahan rupiah cukup berpengaruh terutama pada sektor perdagangan konsumer goods, barang-barang mewah, peralatan elektronik, dan barang kebutuhan lain yang puna kandungan impor tinggi. Dari sisi kenaikan suku bunga, sektor ini juga cukup rentan karena memiliki kredit perbankan untuk kegiatan usaha maupun kredit konsumsi oleh konsumen.

Lalu bagaimana tanggapan Bank Indonesia (BI)? Bank Sentral itu menyebutkan penguatan dolar AS terhadap Rupiah dan seluruh mata uang di dunia terjadi karena sejumlah faktor. Dalam pernyataan resminya, Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan saat ini ekonomi dunia masih dibayangi oleh tantangan dari global seperti siklus kenaikan bunga di Amerika Serikat (AS). Kemudian harga minyak dunia juga turut memengaruhi gejolak nilai tukar ini.

Selain itu, risiko geopolitik seperti meningkatnya suhu sengketa perang dagang AS dan China serta pembatalan kesepakatan nuklir Iran dan AS juga mempengaruhi nilai tukar. “Hal ini telah mengakibatkan menguatnya dolar AS terhadap seluruh mata uang dunia termasuk Rupiah,” kata Agus dalam keterangan resmi.

Dia menyebutkan, Per 9 Mei 2018, selama Mei 2018 (month to date) Rupiah melemah 1,2 persen, Thai Bath 1,76 persen, dan Turkish Lira 5,27 persen. Sementara itu, sepanjang tahun 2018 (year to date) Rupiah melemah 3,67 persen, Pilipina peso 4,04 persen, India Rupee 5,6 persen, Brazil Real 7,9 persen, Russian Rubel 8,84 persen, dan Turkish Lira 11,42 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani//ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini (11/5) nilai dolar AS tercatat Rp 14.048. Kemudian dari Reuters pukul 11.27 tercatat Rp 14.070.

“Bank Indonesia meyakini bahwa Indonesia juga akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dengan perekonomian yang tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil,” sambungnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB Triwulan IV 2017 serta pertumbuhan PDB Triwulan I 2018 sebesar 5,06 persen (yoy). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi itu stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2018 merupakan capaian tertinggi di pola musiman triwulan I sejak tahun 2015. “Permintaan domestik yang meningkat pada triwulan I 2018 juga didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5%+/-1%,” terang Agus.

BI juga menilai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa pekan terakhir sudah tak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Agus Martowardojo menjelaskan terkait hal tersebut masih ada potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang.

Dia menjelaskan Bank Indonesia akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas. “Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo). Respon kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas,” kata Agus.

Kemudian, BI juga akan konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik.

Selain itu, operasi moneter di pasar valuta asing tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar agar keyakinan pelaku ekonomi dapat dipastikan tetap terjaga. “Operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang, dalam koridor yang sejalan dengan stance kebijakan moneter Bank Indonesia,” kata dia.

Kolaborasi dengan otoritas terkait dan industri keuangan terutama asosiasi, akan semakin diperkuat untuk memperdalam dan mengefisienkan price discovery di pasar valuta asing dan pasar uang, termasuk melalui penambahan variasi instrumen, penguatan infrastruktur pasar keuangan, dan memperkuat kredibilitas suku bunga acuan pasar (market reference rate).

Koordinasi dengan Pemerintah akan semakin diperkuat untuk memastikan terjaganya inflasi sesuai sasaran, memastikan berjalannya reformasi struktural secara efektif untuk memperkuat struktur neraca transaksi berjalan dan neraca modal, serta berbagai kebijakan struktural lainnya untuk meningkatkan daya saing perekonomian.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya menjaga kondisi ekonomi Indonesia. Hal itu terutama menghadapi dampak ketidakpastian global.

Selain itu, Sri Mulyani juga menjelaskan mengenai persentase pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampak lebih besar ketimbang negara lain. Hal itu karena nilai nominal rupiah lebih besar. Paparan itu disampaikan Sri Mulyani saat hadiri talk show bertajuk YouthxPublic Figure pada Sabtu 12 Mei 2018.

“Karena kita mata uangnya 13.800, berapa digit itu? Lima digit. Turki 7,1. Jadi mata uangnya diredenominasi, Turki itu dulu nolnya juga banyak. Kemudian Presiden Turki dia potong nolnya. Sekarang USD 1 sama dengan 7,1. Jadi kalau melemah 10 persen, 0,7 jadi 7,8. Tapi kalau Indonesia 13.000 melemah 3 persen berapa? Banyak. Terus lewat 14.000 orang Indonesia merasa kita sudah yang paling jatuh,” ujar dia.

“Hanya karena kita digitnya banyak, terus lewat 14.000 psikologi goyang semua. Padahal itu tiga persen dari 13.000. Yang satu 10 persen,” lanjut dia.

Sri Mulyani menegaskan, Pemerintah dan lembaga terkait, seperti BI dan OJK akan terus berupaya agar kondisi perekonomian Indonesia tetap baik dan mampu bertahan. Ini mengingat faktor yang mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS berasal dari faktor luar.

“Kami di Keuangan, OJK akan jaga, ada hal yang tidak bisa kami kontrol misalnya Donald Trump berantem sama China. Kemudian bank sentral (AS) naikan suku bunga. Yang bisa kita kontrol dampaknya. Supaya walaupun ada goncangan, kami akan buat lewati ini dengan smooth,” kata dia.IIEN SOEPOMO