Ratu Ekstasi Medan Terkurung Sepanjang Hidup

Meski bukan artis, namanya cukup kesohor di Medan. Kini dia harus mendekam di balik jeruji seumur hidupnya.

Eksekusi mati yang telah dilakukan jajaran kejaksaan seolah tidak membuat jera para pelakunya. Teranyar Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Lenny. Perempuan kelahiran 7 November 1978 itu terbukti menjadi bandar 16 ribu butir pil ekstasi dan 4 kg sabu.

Dalam amar putusannya, majelis hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UU RI.

Majelis hakim PN Medan, menjatuhkan hukuman penjara selama seumur hidup kepada Lenny (40), terdakwa dalam kasus perdagangan sebanyak 3 ribu butir narkoba jenis pil ekstasi, yang ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) dari areal parkir pusat perbelanjaan Center Point Mall, Jalan Jawa Kota Medan pada 2 Agustus 2017 lalu.

Vonis terhadap Lenny dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim, Richard Silalahi, dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Medan, Selasa 17 April 2018. “Menjatuhkan kepada terdakwa, pidana penjara selama seumur hidup,” tegas Hakim Richard.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim ini sama dengan tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), Randi Tambunanyang, pada persidangan sebelumnya.

Dimana JPU meminta agar majelis menghukum terdakwa dengan pidana seumur hidup. Atas keputusan itu pula, baik terdakwa dan penasehat hukumnya, maupun pihak Jaksa Penuntut Umum, menyatakan pikir-pikir.

Lenny saat menjalani sidang di PN Medan (medan.tribunnews.com)

“Ini kan sebenarnyanya ancamannya hukuman mati. Tapi kita bisa terima lah kalau dihukum seumur hidup. Itu pun kita tunggu sikap mereka. Kalau mereka banding, kita juga banding. Itu tadi makanya kita minta pikir-pikir dulu,” tukas Jaksa Yudi.

Dalam kasus ini jelas Yudi, terdakwa hanya sebagai pesuruh. Pemilik dan pengendali transasi narkoba itu adalah Ega Halim, seorang narapidana yang tak lain adalah kekasih Lenny.

“Dalam kasus ini Ega pun telah divonis seumur hidup. Hubungan Lenny dengan Ega adalah pacaran, sehingga Lenny bersedia mengikuti seluruh arahan untuk mengedarkan pil ekstasi di tempat-tempat hiburan di Medan,” terangnya.

Setelah mendapat perintah dari Egah Halim, terdakwa kemudian dihubungi oleh 2 orang suruhan Egah Halim yang akan mengambil pil tersebut dengan kesepakatan serah terima barang dilakukan di areal Centre Poin Mall di Jalan Jawa Kelurahan Gang buntu, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. Selanjutnya terdakwa pergi ke Centre Poin Mall dengan membawa 3 bungkus plastik berisi narkotika dalam bentuk pil dengan total berkisar 3 ribu butir.

Sekira pukul 14.00 Wib terdakwa bertemu dengan seorang laki-laki orang suruhan Egah Halim di salah satu cafe di Center Point Mall. Dia lalu menyerahkan sebungkus plastik berisi seribu butir ekstasi kepada yang bersangkutan. Lenny kemudian menunggu orang kedua untuk diperintahkan Ega mengambil narkotika 2 ribu butir di areal basement mall. Saat itu lah tiba-tiba Petugas Polisi BNN Provinsi Sumatera Utara menggrebek terdakwa dan langsugn menangkapnya bersama barang bukti 2 ribu butir ekstasi.

Polisi kemudian melakukan penggeledahan di tempat kos terdakwa di jalan Candi Prambanan Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, dan menemukan serta menyita 15 bungkus plastik berisi narkotika dalam bentuk pil sebanyak 14.991 butir. Sehingga total keseluruhan berjumlah 17 (tujuh belas) bungkus sebanyak 16.992 butir.

Sebelumnya Plt Kabid Pemberantasan BNN Provinsi Sumatera Utara, Sanggam Nainggolan mengatakan, Lenny merupakan pemain lama dalam perdagangan narkoba. Perempuan yang mendapatkan julukan sebagai “Ratu Ekstasi” Kota Pematangsiantar itu sebelumnya juga pernah dihukum atas kasus kepemilikan 3 gram narkoba jenis sabusabu.

“Atas kepemilikan narkoba itu, ia dihukum 3 tahun penjara di Lapas Siantar dan baru keluar dengan status curi bersarat pada pada Mei 2017 setelah menjalani hukumannya.

Nama Leny di Kota Medan bak pesohor. Meskipun dirinya berstatus residivis ia tidak kapok. Dari catatan kepolisian wanita berusia 39 tahun itu terlibat perkara sabu seberat tiga gram, kali ini “ratu ekstasi” dari Medan tersebut terlibat kasus kepemilikan 17 ribu butir ekstasi.

Warga Pematangsiantar itu diciduk petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut di parkiran salah satu pusat perbelanjaan, kawasan Jalan Jawa, Medan.

Lenny dan barang bukti pil ekstasi saat diamankan dikantor BNNP Sumut (foto istimewa)

Kala itu, Kepala BNN Provinsi Sumut Brigjen Pol Andi Ludianto mengatakan, penangkapan terhadap Lenny telah disusun secara matang. Selama kurun waktu sekitar dua minggu, BNN terus mengintai hingga akhirnya tepat pada Rabu, 2 Agustus 2017, Lenny diringkus beserta barang bukti belasan ribu pil ekstasi.

“Yang bersangkutan kita ringkus di parkiran mal saat hendak menunggu pembeli. Saat pertama diamankan, yang bersangkutan membawa sekitar 5.000 butir ekastasi di dalam kendaraannya,” ucap Andi di Kantor BNN Provinsi Sumut, kawasan Medan Estate, Kabupaten Deli Serdang, Jumat 4 Agustus 2017.

Usai ditangkap, petugas BNN kemudian menginterogasi Lenny yang kemudian terungkap masih menyimpan belasan ribu pil ekstasi di kamar kos yang berada di kawasan Jalan Candi Prambanan, Medan Petisah. Dari kosan tersebut, petugas menemukan kurang lebih 12.000 ribu pil ekstasi.

“Untuk barang bukti ekstasinya kurang lebih sebanyak 17.000 butir, pil ekstasi berwarna merah muda,” Andi menjelaskan.

Kepada petugas, Lenny mengaku sudah dua kali menjual barang haram tersebut dengan jumlah besar. Untuk aksi yang kedua ini, ia awalnya memperoleh sebanyak 30.000 pil ekstasi dari seseorang berinisial S asal Aceh. Sebelum tertangkap, sekitar 13.000 pil ekstasitelah berhasil tersebar di berbagai daerah Sumut.

“Sebelumnya pelaku ini pernah dipenjara atas kasus sabu dengan hukuman tiga tahun di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Siantar. Ini baru keluar sekitar tiga bulan, statusnya cuti bersyarat. Pelaku ini teridentifikasi sebagai pemain lama,” ia menerangkan.

Setelah diinterogasi dan diusut lebih mendalam, ternyata Lenny menjalankan aksinya tidak sendiri. Hasil penyelidikan menunjukkan, bisnis narkoba yang digeluti Lenny dikendalikan oleh seseorang dari dalam Lapas Tanjung Gusta, Medan, yang tak lain mantan suaminya. “Namanya masih kita rahasiakan untuk penyelidikan. Jadi, yang di dalam Lapas Tanjung Gusta ini yang mengendalikan dan memerintahkannya,” ujar Andi.

Andi menjelaskan, untuk mengetahui dan membuka seluruh sindikat narkoba yang terlibat, petugas akan terus mengembangkan kasus tersebut. BNNP Sumut juga akan mengejar beberapa nama yang diduga terlibat jaringan ratu ekstasi tersebut.

Misalnya, pemasok berinisial S dari Aceh. Selain itu, pengendali “ratu ekstasi” dari dalam Lapas Tanjung Gusta yang berstatus narapidana.”Masih kita kembangkan, kita akan kejar pelaku lainnya. Saat ini tersangka masih kita periksa. Kita juga sedang kumpulkan bukti-bukti,” Andi memungkasi.SOFYAN HADI