Miras Oplosan Pencabut Nyawa

Berdasarkan perhitungan sementara, korban miras oplosan maut mencapai 52 orang yang tersebar di tiga kota/kabupaten. Rinciannya, sebanyak 41 warga Cicalengka, Kabupaten Bandung, 7 orang di Sukabumi, dan 4 orang di Kota Bandung.

Miras oplosan itu dikemas dalam botol air mineral. Warnanya bening, mirip air biasa. Saat tutupnya dibuka, aroma asam bercampur manis menyeruak kuat, bisa membuat puyeng siapapun yang menghirupnya dalam waktu lama.

Aneka bahan misterius tak masuk nalar dicampurkan dalam racikannya. Yang pasti ada alkohol atau metanol berkadar tinggi, bahkan bisa di atas 90 persen. Biar enak, dicampur soda manis dan minuman berenergi, versi cair atau bubuk. Bisa juga pakai susu. Dan, supaya efeknya mantap, bahan-bahan tak biasa ditambahkan: obat nyamuk, obat tetes mata, obat kuat, spiritus. Pokoknya apa saja, campur aduk, yang penting bikin mabok.

Tak hanya disamarkan seperti air minum kemasan, racikan maut (miras) oplosan juga dibungkus dalam plastik. Warna cairannya yang cokelat membuat tampilannya mirip “es teh”. Harganya pun murah meriah, Rp 20-an ribu perbotol.

Sebenarnya sudah lama miras oplosan dipasarkan secara bebas. Razia pun ratusan kali dilakukan aparat, menyusul rentetan nyawa yang tamat gara-gara barang terlarang itu. Tapi selama ada permintaan, suplai pun terus ada. Sejumlah penjual menawarkannya sebagai “minuman berkhasiat” yang konon mengandung ginseng

Kasus miras oplosan belakangan kembali mengemuka. Gara-gara korbannya yang relatif masif. Data Polri menyebut, ada 89 orang yang tewas setelah menenggak racikan maut itu.

Jumlah korban sebanyak itu baru di dua provinsi. “Korban sampai hari ini di wilayah hukum Polda Jabar sebanyak 58 orang. Sementara di Polda Metro Jaya sebanyak 31 orang. Jadi total 89 orang,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat 13 April 2018.

Soal korban tewas, Kabupaten Bandung ada di urutan puncak. Sebanyak 32 meninggal di RSUD Cicalengka, tujuh orang di RS AMC, dan tiga orang di RSUD Majalaya.

Tragisnya, salah satu korbannya masih berstatus siswa kelas 2 SMP. Usianya belum genap 15 tahun saat ia dilarikan ke rumah sakit dengan gejala keracunan alkohol, pupil matanya melebar dan kejang.

Pemerintah Kabupaten Bandung lantas menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) miras oplosan sejak Selasa, 10 April 2018.

Korban minuman keras (miras) oplosan mendapat perawatan lanjutan oleh petugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/4). (ANTARA FOTO FOTO/Novrian Arbi)

Para petinggi pun gerah. Wakapolri Komjen Syafruddin mengeluarkan ultimatum: kasus miras oplosan harus tuntas sebelum Ramadan. Kapolres bahkan Kapolda yang dianggap tak serius terancam dicopot.

“Pokoknya sebelum masuk 1 Ramadan itu harus selesai. Kalau ada para kepala wilayah Kapolres, Kapolda yang tidak serius, kita akan ganti yang lain,” ujar Syafruddin di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat siang 13 April 2018. Safruddin tak mau masyarakat resah gara-gara miras oplosan.

Sementara, para tersangka pembuat dan pengedar miras oplosan bakal disanksi berat. Kalau bisa maksimal. Jika pembeli tewas gara-gara minuman memabukkan itu, penjualnya kena pasal pembunuhan.

“Kalau ada yang meninggal, itu (peracik) bisa dijerat pasal pembunuhan,” ujar Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu di Media Center Jurnalis Jakarta Pusat.

Pasal pembunuhan diterapkan karena para peracik dianggap mengetahui bahwa bahan yang digunakan untuk meracik miras oplosan itu berbahaya. Tak layak dikonsumsi manusia.

Tak hanya hukuman badan, para pembuat dan pengedar miras oplosan juga terancam “dimiskinkan”. Sebab, UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) akan diberlakukan.

Berbicara soal bisnis miras oplosan, meski terbilang bisnis recehan, pelaku peredaran miras oplosan bisa menangguk untung besar. Belum lama ini polisi menggerebek lokasi pembuatan miras oplosan di Kabupaten Bandung. Bangunan di Jalan Raya Garut-Bandung, Cicalengka itu tergolong mewah.

Rumah dua lantai itu terlihat kokoh, bergaya modern, dengan pagar besi menjulang serta parabola yang mencuat dari atap. Di bagian belakang ada kolam renang besar.

Hamciak Manik (HM), pemiliknya, diduga memproduksi miras oplosan jenis ginseng di bunker. Letak ruang bawah tanah itu berada di bawah gazebo berukuran 2,5 m x 2,5 m di tepi kolam.

Kepolisian menemukan sebuah bungker di bawah gazebo dengan tinggi 3,5 meter dan panjang sekitar 25 meter persegi. Bungker seluas sekitar 80 meter persegi itu terdiri dari dua bagian. Satu ruangan khusus tempat meracik dan bagian lainnya tempat penyimpanan bahan dan miras oplosan siap distribusi. Setelah selesai diracik, miras oplosan lalu dikemas ke botol mineral kosong. Setelah itu botol ditutup dengan plastik untuk dipanasi supaya lengket.

“Dalam bungker ada minuman oplosan siap edar, jerigen dan bahan oplosan seperti Kuku Bima, zat berwarna redbull dan alkohol. Persentase berapanya (alkohol) kami belum tahu, nanti setelah SS ditangkap baru bisa diungkap,” ujar Agung, Kamis, 12 April 2018.

Produk yang dihasilkan di pabrik milik miras oplosan milik HM dikenal sebagai Minola. “Minola merupakan alkohol yang ditambah zat pewarna merek redbell ditambah racikan Kuku Bima dan alkohol. Untuk persentase alkohol, belum bisa diketahui sebab masih diteliti ke laboratorium,” lanjut Agung.

Dari hasil penyelidikan, polisi sudah mengamankan dua tersangka atas nama Julianto Silalahi (JS) sebagai penjual dan HM sebagai pemilik. Duo maut ini mengedarkan miras oplosan ke daerah Cicalengka hingga ke Kota Bandung. Keduanya dikenakan pasal 204 KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.

Polri sendiri hingga kini masih terus memburu para produsen miras oplosan yang masih buron. “Buron itu tinggal (soal) waktu saja. Kalau dia keluar negeri pun kita bisa kerja sama dengan Interpol. Kalau di dalam negeri pasti ketemu,” ucap dia.

Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, miras yang diduga ginseng ternyata bohong. Menurut Kapolda Jabar, hasil terbaru uji laboratorium menunjukkan, minumam ilegal itu mengandung bahan kimia berbahaya metanol dan etanol.

“Saya imbau masyarakat jangan terbius nama ginseng. Ginseng itu seolah nambah kekuatan atau vitalitas, padahal tidak ada ginsengnya,” ucap Agung saat mengunjungi Pos Pengamanan Mudik Lebaran di Limbangan, Garut, Rabu sore, 11 April 2018.

Racikan dua bahan kimia dalam miras oplosan maut Cicalengka tersebut sangat berbahaya. Konsumen yang telah meminumnya akan merasakan gejala awal sesak napas, mual, muntah. “Hingga napas habis,” ungkap perwira tinggi Polri bintang dua tersebut.

Berdasarkan perhitungan sementara, korban miras oplosan maut mencapai 52 orang yang tersebar di tiga kota/kabupaten. Rinciannya, sebanyak 41 warga Cicalengka, Kabupaten Bandung, 7 orang di Sukabumi, dan 4 orang di Kota Bandung.

Sedangkan pelaku yang sudah berhasil diringkus berjumlah delapan orang yang merupakan penjual dan peracik. Sebanyak empat orang dari Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi dan sisanya di Cicalengka.

Meskipun kejadian miras oplosan maut yang terjadi di tiga kota/kabupaten di Jabar tersebut terjadi hampir bersamaan, Kapolda Jabar memastikan seluruh kasus tersebut tidak saling berkaitan. “Karena dia (Sukabumi) racik sendiri, minum sendiri, mabuk sendiri,” kata dia.

Ihwal pembatasan penjualan bahan kimia kepada masyarakat, lembaganya segera berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang merupakan kewenangan wilayah mereka.

Sedangkan untuk mencegah terjadinya korban susulan, termasuk menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kapolda Jabar telah mengintruksikan seluruh polres menggelar razia secara masif. “Semua daerah di Jabar akan kita sisir, agar bebas miras,” ujarnya.

Sementara itu, aparat Direktorat Reserse Narkoba Polda Banten menyita 1.620 liter minuman keras (miras) oplosan dari sebuah gudang di Kawasan Industri Jatake, Jalan Industri Raya 3, Kelurahan Cikupa, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Miras oplosan itu ditemukan di gudang milik warga berinisial Su, Selasa malam, 10 April 2018.

“Setelah dilakukan pemeriksaan, sebanyak 54 jeriken miras jenis ciu kita sita,” kata Kombes Pol Yohanes Hernowo, Ditnarkoba Polda Banten, Rabu, 11 April 2018.

Ribuan liter miras lainnya pun berhasil ditangkap oleh jajaran polres di wilayah hukum Polda Banten. Polres Cilegon menyita miras berbagai merek sebanyak 43 botol dan miras oplosan bernama Kecut sebanyak 80 plastik.

Selanjutnya, Polresta Tangerang menyita sebanyak 1.112 ciu, 2.225 miras oplosan, dan 247 miras berbagai merek. Sementara, Polres Pandeglang menyita miras berbagai merek 43 botol dan miras oplosan jenis kecut berjumlah 80 plastik.

Pemusnahan Miras di halaman Polres Jakarta Pusat oleh Kapolres Kombes Pol Roma Hutajulu bersama Dandim dan jajaran walikota jakarta pusat (Tribunnews.com)

“Terungkapnya peredaran miras oplosan jenis ciu tanpa izin edar berdasarkan informasi dari masyarakat yang resah dengan adanya jual beli miras,” terangnya.

Adapun Su, pemilik gudang penyimpanan ciu di wilayah Tangerang, digelandang ke Mapolda Banten untuk diperiksa lebih lanjut. Ia terancam Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun denda Rp 1,5 miliar.

Meski tak sampai merenggut korban jiwa, peredaran miras oplosan juga ada di Kota Jambi. Bahkan, dari hasil penyelidikan sementara, sang pembuat miras oplosan yang kini ditetapkan sebagai tersangka mengaku bisa memproduksi miras oplosan hingga 400 botol dalam sehari.

“Pelaku ditangkap Sabtu, 14 April 2018 lalu sekitar pukul 15.00 WIB. Hasil Operasi Pekat Siginjai,” ujar Kapolda Jambi, Brigjen Pol Muchlis AS dalam keterangan pers di Jambi, Senin (16/4/2018).

Ratusan botol miras oplosan itu diracik oleh pelaku bernama Ferry Azfra (41) di rumahnya yang berlokasi di Lorong Sepakat, Kelurahan Eka Jaya, Kecamatan Pall Merah, Kota Jambi.

Dari rumah pelaku itu, polisi menyita enam derigen berisi tuak berikut seperangkat komputer dan printer yang biasa digunakan untuk membuat merek botol miras.

“Polda Jambi akan menindak tegas pelaku miras oplosan. Ini untuk menjaga situasi kamtibmas jelang Pilkada dan memasuki bulan puasa,” imbuh Muchlis.

Total dari hasil penggerebekan di rumah tersangka, Polda Jambi menyita 62 lusin atau 744 botol miras atau tuak yang siap diedarkan ke sejumlah lokasi di Kota Jambi.

Pengakuan tersangka, kata Muchlis, untuk membuat miras oplosan itu terdiri dari sejumlah bahan. Seperti nira kelapa, sari manis, asam sitrat, gula batu, gula pasir hingga kayu gaharu.

Dalam sehari, tersangka mengaku bisa menghasilkan 800 botol dalam dua hari. Untuk satu botolnya, oleh tersangka dijual lumayan murah, yakni hanya Rp 8.500 setiap botolnya kepada pedagang.

Jauh sebelum kasus miras oplosan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, kasus yang sama juga pernah menggegerkan warga Kota Jambi pada 2008 lalu. Sekitar 21 orang meninggal dunia, diduga akibat keracunan miras oplosan di daerah itu. Diperkirakan korban lebih karena banyak yang tak terdata atau tidak dirawat di rumah sakit.

Bermula dari meninggalnya seorang pemuda usai menenggak miras oplosan. Kejadian sama tiba-tiba datang silih berganti. Rata-rata korban mengalami keracunan, badan lemas hingga mata mengalami kebutaan. Ada yang sembuh setelah dirawat di rumah sakit, tak sedikit pula yang harus meregang nyawa setelahnya.

Juru bicara Polda Jambi saat itu, AKBP Yatim Suyatmo mengatakan, untuk memastikan penyebab kematian sejumlah warga Kota Jambi itu, Polda Jambi mengirimkan sampel miras ke laboratorium forensik Polri di Palembang, Sumatera Selatan.

Tak ingin korban terus bertambah, Polda Jambi kemudian menyegel salah satu pabrik miras terbesar di Jambi saat itu yakni PD Lega Hati yang selama ini memproduksi miras merek “Cap Macan”.

Oleh sebagian warga Jambi, minuman merek Cap Macan memang sudah lama dikenal. Khususnya para penyuka minuman oplosan beralkohol itu. Saking terkenalnya, minuman dengan cita rasa manis itu bahkan banyak dijual ke luar daerah, salah satunya di Palembang.

Namun, usai penyegelan yang dilakukan Polda Jambi, pabrik tersebut tak lagi bisa berproduksi. Nasib minuman “Cap Macan” yang sempat tenar di Jambi pun mati dan tinggal cerita. SWU