Meringkus Pembantai Helarctos Malayanus

Polisi mengamankan empat orang yang dengan sengaja membantai beruang madu. Dagingnya diolah menjadi rendang.

Entah apa yang ada dalam pikiran empat warga Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Keempat pria berinisial CS,GS, E, dan Zds dengan sengaja menangkap Beruang Madu lalu membunuhnya. Paeahnya, daging binatang dengan nama latin Helarctos Malayanus itu mereka masak menjadi rendang. Akibatnya mereka harus berurusan dengan hukum.

Keempat pria berinisial CS,GS, E, dan Zds mengungkap bahwa tiga ekor beruang madu mereka dapatkan menggunakan jerat. Zds mengaku memasang 50 jerat untuk menangkap babi bersama tiga rekannya pada 18 Maret 2018. Saat mereka memeriksa perangkap selang 12 hari kemudian, bukannya babi yang terjerat, melainkan seekor beruang. “Langsung saya tombak, karena masih hidup, kawan yang lain memukulnya pakai kayu hingga tak bergerak lagi,” sebut Zds.

Pemasangan jerat diulangi dan pada 1 April 2018 mereka mendapati dua beruang madu. Beruang ini sempat dimasukkan ke kandang, kemudian ditembak menggunakan senapan angin.

Tersangka Zds mengaku mengolah daging beruang itu menjadi rendang untuk dikonsumsi. Rekannya yang lain malah memasak daging beruang menjadi sup dan gulai.”Dagingnya kami makan, kalau saya dimasak rendang,” ujarnya.

Selain dimasak menjadi rendang, empedu beruang diambil untuk diolah sebagai obat tradisional menyembuhkan sesak nafas.Keempat pria tersebut tidak mengetahui bahwa beruang madu merupakan hewan yang dilindungi, tidak hanya di Indonesia, tapi juga dilindungi oleh komunitas internasional. “Saya nggak tahu pak kalau beruang itu dilarang ditangkap dan dimakan,” katanya.

Penangkapan keempat pria itu dilakukan setelah Polres Indragiri Hilir dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mendapat informasi dari media sosial. Rupanya, salah seorang tersangka mengunggah perbuatan mereka ke Facebook. “Info awal postingan di Facebook kita telusuri, koordinasi Polres Inhil. Tidak lebih beberapa jam kita langsung sepakat bergerak ke lokasi,” jelas Kepala BBKSDA Riau, Suharyono.

Di lokasi aparat bertemu dengan para tersangka pelaku. “Para tersangka hidup di kebun, mungkin pas lagi jerat dan buru liar. Mereka mengonsumsi daging itu. Kita amankan juga ada senapan rakitan, dan pisau. Senapan digunakan menembak beruang di kandang sebelum disembelih,” ungkapnya.

Dari hasil penyidikan, keempat pria itu diketahui punya peran masing-masing. CS mengaku berperan sebagai penyembelih beruang, GS sebagai penembak, sedagkan E dan Zds berperan memasang jerat. Mereka telah dibawa ke Pekanbaru dan ditahan di BBKSDA Riau.

Putra Tastri Ublr saat memamerkan hasil buruannya. FOTO: Facebook

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, mengatakan keempat tersangka terancam hukuman lima tahun penjara sebagaimana diatur dalam Undang Undang Konservasi Sumberdaya Alam Nomor 5 tahun 1990. “Melanggar UU nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam, ancaman Hukumannya lima tahun penjara,” ujar Suharyono.

BBKSDA, menurutnya, tidak hanya berhenti pada keempat orang tersangka ini. Tim penegakan Hukum (Gakkum) masih terus melakukan penyidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya kejadian serupa lainnya.

Mengutip dari Wikipedia, Beruang madu (Helarctos malayanus) termasuk familia Ursidae dan merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini adalah fauna khas provinsi Bengkulu sekaligus dipakai sebagai simbol dari provinsi tersebut. Beruang madu juga merupakan maskot dari kota Balikpapan. Beruang madu di Balikpapan dikonservasi di sebuah hutan lindung bernama Hutan Lindung Sungai Wain. Namun, dibeberapa kawasan di tanah air, beruang madu juga bisa ditemukan.

Panjang tubuhnya 1,40 m, tinggi punggungnya 70 cm dengan berat berkisar 50 – 65 kg. Bulu beruang madu cenderung pendek, berkilau dan pada umumnya hitam, matanya berwarna cokelat atau biru,selain itu hidungnya relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong. Jenis bulu beruang madu adalah yang paling pendek dan halus dibandingkan beruang lainnya, berwarna hitam kelam atau hitam kecoklatan, di bawah bulu lehernya terdapat tanda yang unik berwarna oranye yang dipercaya menggambarkan matahari terbit.

Berbeda dengan beruang madu dewasa, bayi beruang madu yang baru lahir memiliki bulu yang lebih lembut, tipis dan bersinar. Karena hidupnya di pepohonan maka telapak kaki beruang ini tidak berbulu sehingga ia dapat bergerak dengan kecepatan hingga 48 kilometer per jam dan memiliki tenaga yang sangat kuat. Kepala beruang madu relatif besar sehingga menyerupai anjing yakni memiliki telinga kecil dan berbentuk bundar. Beruang jenis ini memiliki lidah yang sangat panjang dan dapat dipanjangkan sesuai dengan kondisi alam untuk menyarikan madu dari sarang lebah di pepohonan.

Selain itu, lidah yang panjangnya dapat melebihi 25 cm itu juga digunakan untuk menangkap serangga kecil di batang pohon. Beruang madu memiliki penciuman yang sangat tajam dan memiliki kuku yang panjang di keempat lengannya yang digunakan untuk mempermudah mencari makanan. Beruang madu lebih sering berjalan dengan empat kaki, dan sangat jarang berjalan dengan dua kaki seperti manusia. Lengan beruang jenis ini cukup lebar dan memiliki kuku melengkung serta berlubang yang memudahkannya memanjat pohon.

Kuku tangan yang melengkung digunakan oleh beruang ini untuk menggali rayap, semut dan sarang lebah dan beruang yang sedang mencari madu akan segera menghancurkan kayu yang masih hidup dan segar dan bahkan berusaha untuk menggaruk pohon yang kayunya keras.[14]Rahang beruang madu tidak proporsional karena terlalu besar sehingga tidak dapat memecahkan buah-buah besar seperti kelapa.

Gigi beruang ini lebih datar dan merata dibandingkan dengan jenis beruang lain, gigi taringnya cukup panjang sehingga menonjol keluar dari mulut. Ukuran tulang tengkorak kepala beruang madu pada umunya memiliki panjang tengkorak 264,5 mm, panjang condylobasal 241,3 mm, lebar zygomatic 214,6 mm, lebar mastoid 170,2 mm, lebar interorbital 70,5 mm, lebar maxilla 76,2 mm.

Pelaku Pembantaian Beruang Madu (istimewa)

Beruang madu hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian, mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 – 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk membuat sarang. Habitat beruang madu terdapat di daerah hujan tropis Asia Tenggara.

Penyebarannya terdapat di pulau Borneo,Sumatera,Indocina, Cina Selatan,Burma, serta Semenanjung malaya. Oleh karena itulah jenis ini tidak memerlukan masa hibernasi seperti beruang lain yang tinggal di wilayah empat musim.[20] Beruang madu pada masa lalu diketahui tersebar hampir di seluruh benua Asia, namun sekarang menjadi semakin jarang akibat kehilangan dan fragmentasi habitat.

Beruang madu adalah binatang omnivora yang memakan apa saja di hutan. Mereka memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman jenis palem. Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak, setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain. Pada wilayah yang telah diganggu oleh manusia, mereka akan merusak lahan pertanian, menghancurkan pisang, pepaya atau tanaman kebun lainnya. JULIE INDAHRINI