Menanti SP3 Yang Tak Kunjung Muncul

Hakim memerintahkan penyidik dari Polda Jawa Tengah untuk menghentikan penyidikan. Namun, Surat Perintah Penghentian Penyidikan tak juga dikeluarkan.

Boy Sardi kini menjadi orang tua tunggal untuk anak tercintanya Mauludin Akmal. Bocah berusia 9 tahun ini harus kehilangan sang ibu Kartika Widiyati karena kanker stadium 3 yang menggerogotinya. Bukan karena tak ikhlas atas ketetapan Allah atas kepergian istrinya, Boy Sardi mengaku sangat kecewa atas perlakuan pihak kepolisian terhadap istrinya. Lantaran proses hukum yang harus dijalani Kartika semakin memperparah kondisi kesehatannya.

Boy masih terngiang-ngiang permintaan sang istri, agar dia selalu mendampinginya. “Pak, aku jangan ditinggal pergi jauh-jauh,” ujar Boy mengulang permintaan Kartika yang meninggal dunia pada Ahad 15 April 2018.  “Kondisinya memang terus drop karena kasus yang mempengaruhi fisik dan mentalnya. Polisi sangat arogan, sudah tahu kondisi sakit masih saja diperiksa. Padahal sebelumnya sudah mengirim surat keterangan sakit melalui pengacara. Dan yang membuat kaget, tanpa menunjukkan surat perintah Polisi ingin menahan istri saya. Yang tadinya hanya saksi, tiba-tiba menjadi tersangka,” papar Boy. 

Derita Kartika bermula ketika dirinya harus berurusan dengan penyidik dari satuan Jatanras, padahal tuduhan yang disampirkan pada Kartika adalah kasus pemalsuan surat. Kartika yang tengah sakit parah dipaksa untuk menjalani pemeriksaan.  Saran untuk meminta keterangan dari pihak medis diabaikan, Kartika tetap diperiksa. 

Lewat kuasa hukumnya dari Kantor Hukum Wilmar Sitorus& Partner mengajukan upaya hukum Praperadilan. Hakim Sigit Hariyanto, SH. MH. selaku Hakim Tunggal yang memeriksa perkara di Pengadilan Negeri Semarang tersebut mengabulkan seluruh permohonannya dengan salah satu amar Putusannya , yaitu : Memerintahkan Penyidik Polda Jateng untuk menghentikan penyidikan perkara pidana nomor.: LP/B/365/VII/2017/JATENG/Ditreskrimum, tanggal 30 Juli 2017, atas nama Tersangka KARTIKA WIDIYATI, SE dkk. 

“Putusan Prapera dilan tersebut adalah merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan yang sangat baik dan positif bagi kesehatan Kartika ketika itu sedang sakit parah, secara otomatis Kartika merasa lega, terhibur hati dan pikirannya karena terbukti penyidikan yang membuatnya menjadi Tersangka harus dihentikan; Akan tetapi setelah sekian lama Kartika menunggu namun Penyidik tidak juga menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) demi kepastian hukum,” ujar Wilmar dalam keterangan tertulisnya. 

Wilmar menegaskan, bahwa penyidikan atas pekaranya berdasarkan Perintah Putusan Pengadilan harus dihentikan. “Secara otomatis kenyataan tersebut sangat menggganggu pikiran Kartika dan mulai memicu penyakitnya kambuh pada akhirnya hingga Kartika meninggal dunia, tetapi SP3 yang dinanti tak kunjung tiba. Kartika Meninggal dunia dengan nama baiknya yang belum dipulihkan oleh Penyidik Polda Jateng, yang terbukti berdasarkan Putusan Praperadilan adalah “merekayasa perkara dan menjadikan Kartika sebagai Tersangka,” lanjutnya. 

Polda Jawa Tengah hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan. Pesan instan lewat whatsapp belum terjawab. JIR dan SWU

 

Kartika Widiyati:  “Mengapa Polisi Begitu Mudah Mengkriminalkan Masyarakat”

 

Kartika Widiati (dok forum)

Wawancara ini dilakukan pada Rabu, 21 Maret 2018 melalui percakapan dengan aplikasi whatsapp. Saat wawancara berlangsung, Kartika baru saja datang dari rumah sakit Sejahtera Bakti, Salatiga, dimana dia melakukan pengobatan kanker payudara yang telah dua tahun menggerogoti kesehatannya.

 

Pada Ahad, 15 April 2018, pukul 00.58, Kartika menghebuskan nafas yang terakhir. Kartika meninggal pada usia 46 tahun, meninggalkan suami dan putra semata wayangnya, Mauludin AkmalInilah petikan wawancara tersebut.

 

Tiba-tiba Anda dijadikan tersangka dan dipaksa dinterogasi oleh polisi walaupun dokter tidak merekomendasikan untuk dilakukan penyidikan mengingat kesehatan Anda yang sangat tidak memungkinkan. Bagaimana perasaan Anda saat itu?

 

Saya merasa terintimidasi tapi berusaha tetap tenang, karena keadaan saya waktu itu semakin strees saya semakin sesak nafas. Karena saya sudah melampirkan surat keterangan sakit tapi tetap didatangi penyidik dengan alasan tidak pernah datang memenuhi panggilan tanpa memberikan alasan apapun, padahal surat keterangan dokter sudah dikirim pengacara dan mendapatkan tanda terima.

 

Terhadap kasus ini dimana Anda serta merta dijadikan tersangka, apakah Anda tahu persis duduk permasalahannya?

 

Saya merasa ada suatu yang janggal karena saya sebagai pembeli (tanah) disidik sebagai saksi untuk dimintai keterangan. Dua minggu kemudian ada surat panggilan lagi yang sudah menetapkan saya sebagai tersangka penipuan surat surat tanah.

 

Dalam bab penyidikan sudah saya jelaskan bahwa saya tidak pernah bertemu lurah untuk pengurusan surat-surat maupun datang ke keluarga untuk mengurus surat-surat semua yang urus adalah penjual sebagai pemilik tanah.

 

Apakah Anda masih ingat hari, tanggal, dan jam berapa saat penyidik datang ke rumah dan melakukan interogasi? Saat itu Anda sedang beraktivitas apa? Berapa jam penyidikan berlangsung dan apakah Anda diberi waktu istirahat?

 

Penyidikan sebagai saksi dilakukan hari Rabu tanggal 17 Januari 2018 datang sekitar jam 10.30. Saya sudah dikabari pengacara jadi saya sudah menyiapkan diri dan mental. Saya disidik mulai jam 11.00 sd jam 17.00. Saya diberi waktu istirahat dan mereka familiar. Tahu kondisi saya sedang sakit tapi penyidikan tetap mereka jalankan.

 

Pada penyidikan ke dua saya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Hari Jumat tanggal 23 Februari 2018 datang sekitar jam 11.00. Waktu itu saya kondisinya sedang drop, sedang muntah hebat di kamar mandi, mereka datang tanpa pemberitahuan, tapi saya tetap menemui dan mereka minta saya menghubungi pengacara karena akan dilakukan penyidikan.

 

Setelah sholat Jumat, saat penyidikan akan dimulai, saya diperiksa dahulu oleh dokter kepolisian yang sudah dipersiapkan. Hasilnya dokter secara lisan menyampaikan ke saya bahwa dokter tidak akan merekomendasikan saya untuk disidik ke luar karena kondisi kesehatan saya. Kemudian dokter membuat surat keterangan untuk penyidik yang menyatakan  bahwa saya sakit. Tapi penyidik meminta penyidikan tetap dilaksanakan dan saya mensyaratkan bahwa saya menjalani penyidikan menyesuaikan kondisi saya. Penyidik setuju  penyidikan dimulai dengan mengulang pertanyaan seperti penyidikan pertama.

 

Saat ini apa aktivitas Anda sehari-hari?

 

Saya ibu satu anak. Saya bekerja di perusahaan swasta. Karena sakit sudah hampir empat bulan dispensasi dari untuk menyelesaikan urusan pekerjaan dari rumah.

 

Sakit kanker payudara yang Anda derita sudah berapa lama?

Sudah dua tahun, saat ini stadium 3.

 

Pertanyaan terakhir, hakim pra peradilan mengabulkan semua gugatan pemohon. Artinya kasus ini batal demi hukum. Apa komentar dan harapan Anda terhadap kasus ini ke depan?

 

Dengan menempuh  jalan pra  peradilan ada secercah harapan bagi masyarakat untuk berjuang mendapatkan keadilan. Maaf ya saya awam tentang hukum. Dalam kasus ini saya merasa polisi begitu mudahnya mengkriminalkan masyarakat dengan alasan yang sangat-sangat dipaksakan demi tujuan mereka.#