Geng Motor Depok Kembali Berulah

Sebuah barbershop dan warungkopi menjadi sasaran amuk kawanan geng motor. Tiga korban terluka. Geng motor merusak sebuah tempat pangkas rambut atau barbershop di Jalan Mandor Samin, Beji, Depok, Minggu malam, 1 April 2018. Menurut polisi, geng motor tersebut menamakan diri ‘Pulang Pagi.’

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan selain merusak tempat pangkas rambut, anggota geng ‘Pulang Pagi’ itu juga menganiaya warga dan merusak warung kopi. “Di Depok pada Minggu 1 April 2018 kemarin, sekitar jam 23.45 WIB ada penganiayaan dari sejumlah geng motor yang mengatasnamakan geng motor ‘Pulang Pagi’,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Senin 2 April 2018..

Argo menerangkan ada tiga orang warga yang kebetulan sedang duduk di tempat pangkas rambut itu terluka akibat dianiaya anggota geng motor.”Sudah dibawa ke rumah sakit umum. Ada luka di lutut, kepala, ada juga luka di siku, tangan sebelah kiri. Saat ini korban sudah rawat jalan,” kata Argo.

Berdasarkan keterangan korban kepada polisi, peristiwa perusakan itu bermula ketika tiga korban yakni Rizal, Yadi dan Wiria sedang nongkrong di depan barbershop. Sekitar pukul 23.35 WIB, sekitar sepuluh motor melintas melewati barbershop.

Tiba-tiba para pelaku mendatangi tempat cukur rambut tersebut dan langsung melakukan perusakan. Para pelaku juga menganiaya Rizal, Yadi dan Wiria.

Polisi masih mengejar pelaku dan mendalami kasus ini. Tindakan kekerasan oleh geng motor ini sempat terekam kamera CCTV barbershop. “Saat ini kami menyita satu barang bukti berupa satu sepeda motor yang diduga milik pelaku. Mudah-mudahan kita segera mendapatkan informasinya,” kata Argo.

Tak menunggu lama, Polisi menetapkan lima anggota geng motor ‘Pulang Pagi’ sebagai tersangka dugaan penganiayaan dan perusakan tempat pangkas rambut atau barbershop di Jalan Mandor Sanim, Beji, Depok.

Argo Yuwono merinci lima orang tersangka yakni DL (23), AR (23), RRF (18), MIK (24), dan MF (25). “Lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan terhadap tersangka,” ujarnya.

Dalam kasus penyerangan geng motor ini, Polres Depok mengamankan belasan orang yang diduga melakukan perusakan tempat cukur rambut (barbershop) di Beji, Depok itu Minggu (1/4) malam. Dari belasan orang itu, lima ditetapkan sebagai tersangka, tujuh lainnya dilepaskan. “Tujuh lainnya diperiksa sebagai saksi dan setelah diperiksa akan dikembalikan kepada keluarganya. Mereka juga akan dibina oleh Binmas dan diwajibkan membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan pelanggaran hukum,” tutur Argo.

Dari penangkapan tersebut, polisi juga telah menyita empat buah sepeda motor milik para pelaku. “Kami bawa juga empat kendaraan roda dua yang dipakai saat aksi itu,” kata dia.

Sementara itu, kata Argo, saat ini dua anggota geng motor Pulang Pagi masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Salah satunya diduga sebagai otak atau aktor intelektual dalam aksi pengeroyokan dan penganiayaan. “Kami telah menetapkan dua tersangka yang masuk dalam daftar pencarian yaitu SY dan MRF,” ujar Argo.

Polisi, kata Argo, mengamankan sejumlah barang bukti yakni empat motor, rekaman CCTV, pecahan kaca di tempat kejadian dan hasil visum.

Geng motor berulah di Depok bukanlah kali pertama, sebelumnya pada Desember tahun 2017 lalu. Ketika itu, Kelompok geng motor menjarah sebuah toko pakaian di Jl Sentosa Raya, Sukmajaya, Kota Depok. Selain dilakukan oleh anak pria, ada juga ABG perempuan yang ikut dalam aksi brutal itu. “Iya ada anak perempuan juga yang ikut melakukan pencurian di toko tersebut,” ujar Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Putu Kholis Aryana.

Tim Jaguar polresta depok berhasil menangkap 12 anggota geng motor Terduga Penyerang Babershop YouTube)

Pelaku diperkirakan berjumlah 20-30 orang dengan berboncengan motor. Sebagian turun dari motor dan menjarah di toko ‘Vernando’, sebagian lagi menunggu di atas motor.

Pengamat sosial budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati, dikutip dari depoknews menilai, aktivitas kriminal yang dipicu oleh aksi geng motor bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, trend ini juga terjadi di negara-negara maju sekalipun. Penyebab dari aktivitas oleh geng motor ini beragam. “Aktivitas ini diawali oleh kehadiran sekelompok orang yang memiliki komitmen untuk tergabung dalam sebuah kelompok yang difasilitasi dengan sumber daya transportasi kendaraan roda dua,” katanya.

Faktor terikatnya para individu tersebut secara umum ialah faktor kebersamaan dan merasa nyaman. Mereka adalah kumpulan orang yang membutuhkan kehangatan kelompok (belonging) dan merasa aman (security) di dalam sebuah kelompok. Yang memungkinkan hal tersebut terjadi ialah ketersediaan waktu untuk terus bersama-sama. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mereka adalah anak-anak muda yang tidak memiliki banyak aktivitas lain selain sekolah ataupun pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Sehingga mereka dengan leluasa untuk terus menjalin komunikasi dan secara intensif menyusun berbagai rencana aktivitas non kriminal maupun kriminal,” tukasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kondisi mental individu ketika berada di dalam kelompok akan mengalami perubahan. Karena di dalam kelompok individu akan kehilangan ‘diri’nya karena faktor anonimitas. Di dalam kelompok, individu tidak lagi memiliki identitas sebagai individu.

“Individu yang ada hanya individu kelompok. Situasi ini yang membuat mereka dapat mengekplorasi jati diri mereka yang lain, yang tidak pernah mereka
tunjukkan selama ini. Ini yang memungkinkan mereka melakukan tindakan tidak terpuji,” paparnya.

Ada beberapa kemungkinan mengapa mereka bertindak demikian. Pertama, kurangnya ruang ekspresi mereka di sekolah atau ingkungan masyarakat. Kedua, mereka tidak memiliki aktivitas produktif. Ketiga, pola asuh yang membebaskan. “Sehingga memberikan kepercayaan yang tidak terkontrol pada anak dan remaja,” tukasnya.

Remaja dan pemuda adalah fase yang krusial. Dimana proses pembentukan jati diri dan identitas harus didampingi dan diarahkan dengan tepat. Maka yang harus dilakukan orang tua dan lingkungan adalah dengan pola 5B. Yaitu, banyak berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang mudah mereka pahami.

Jangan gunakan model komunikasi orang berkuasa dengan yang tidak. Komunikasi bersifat sejajar. Kedua, bantu mereka temukan minat dan kepercayaan diri mereka. Ketiga, beri kesempatan mereka melakukan banyak aktivitas produktif sehingga mereka dapat menyalurkan energi dan bakatnya.

“Keempat, beri penghargaan pada mereka. Terakhir,bangun batasan terhadap pola aktivitas, perilaku dan pertemanan yang tidak produktif dengan cara yang tegas,” pungkasnya. JULIE INDAHRINI