Demonologi Partai Setan

 

Priyono B. Sumbogo

Bahasa memiliki kekuatan luar biasa untuk membuat kekuasaan  tersinggung, marah  atau ketakutan. Professor Noam Avram Chomsky, misalnya, adalah ahli linguistik yang paling ditakuti dan dibenci oleh pemerintah Amerika Serikat. Dia memperkenalkan apa yang disebut demonologi.

Secara etimologis, demonologi adalah the study of demons or evil spirits atau secara terminologis merujuk pada suatu perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar dipandang sebagai ancaman menakutkan. Dalam ilmu komunikasi, demonologi termasuk dalam teori-penjulukan (labelling theory) untuk menghancurkan reputasi pihak tertentu. Labelling theory bisanya dipakai dalam kegiatan propaganda.

Jika diterjemahkan secara sederhana, demonologi berarti pengiblisan atau pemberian cap jahat kepada orang atau pihak tertentu. Pemberian cap ”teroris, monster, kafir, setan, srigala, ular,  harimau, janda penggoda” atau ”buaya darat” dapat digolongkan ke dalam proses demonologi.

Noam Chomsky lahir di Amerika Serikat, pada 7 Desember 1928. Kepakarannya di bidang linguistik  mengantarkannya merambah ke studi politik. Ia telah menulis lebih dari 30 buku politik dengan beragama tema. Sejak 1965 hingga dia menjelma menjadi salah satu figur paling ditakuti pemerintah Amerika karena sikap kritisnya terhadap kebijakan luar negeri Amerika.

Salah satu bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris dan diberi pengantar oleh ahli komunikasi Jalaluddin Rakhmat. Dalam buku ini, Chomsky menyebut Amerika Serikat dan Isralel sebagai “dua komandan teroris terkemuka dunia. Amerika juga dicap sebagai ”kekuatan teroris utama dunia” karena menggunakan standar ganda ketika menuding Sudan, Libya, dan Iran sebagai teroris. Jika Amerika menyebut pemerintah Iran sebagai ”Setan Besar”, Noam Chomsky pun tak sungkan-sungkan memanggil pemerintah Amerika sebagai ”The Great Satan”.

Namun, pemerintah Amerika tidak pernah mengguggat Chomsky ke pengadilan. Mungkin karena Amerika memandang sebuah tulisan adalah wujud eskpresi dan bentuk kebebasan berpendapat yang tidak boleh dipidanakan. Jika itu alasannya, maka Amerika memang benar-benar demokratis bagi warganya sendiri.

Tapi bisa jadi, pemerintah Amerika tidak merasa terhina disebut ”komandan teroris”. Sebab, julukan itu mengesankan bahwa Amerika jagoan, gagah, hebat, dan keren.

Barangkali orang tak akan marah, bahkan merasa bangga, bila disebut buaya darat, srigala, teroris, preman, setan, atau harimau. Sebab, julukan-julukan itu menempatkan sesorang sebagai figur yang ditakuti. Dan pada umumnya orang akan senang bila ditakuti. Dalam cerita-cerita tentang kejagoanan, ada tokoh yang memakai atau diberi nama seram. Di Amerika ada jagoan fiktif bernama Dare Devil. Komikus Ganes TH menciptakan jagoan Si Buta Dari Goa Hantu. Orang Betawi punya jawara Ayub Macan Betawi.

Tapi, pengaruh bahasa juga tergantung pada siapa yang bicara dan dalam konteks apa. Perkataan seorang tokoh publik akan mudah memantik reaksi. Terlebih tokoh publik juga politisi.

Dengan cara berpikir sepertu itu, dapat dimaklumi bila ada yang bereaksi ketika Amien Rais dalam tasiahnya membuat kategori Partai Allah dan Partai Setan.

Karena Amien menggolongkan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dalam barisan Partai Allah, boleh jadi ada yang menafsirkan partai lainnya tergolong Partai Setan.

Tapi masalahnya, apakah proporsional memenjarakan seseorang karena pemikirannya. Terlebih tulisan itu secara umum merupakan ekspresi kekecewaan terhadap kehidupan kepartaian dan kekuasaan saat ini.

Akan lebih proporsional bila pernyataan Amienr ”dibalas” atau ”dihukum” dengan pemikiran atau pernyataan pula. Misalnya dengan mengatakan siapapun yang mengklaim sebagai pembela Partai Allah adalah sok suci, sok hebat, atau merasa paling agamis. Cap seperti itu sudah merupakan vonis yang tidak enak bagi seorang tokoh sekaliber Amien Rais.

Sebaliknya, ada baiknya pula para pamongpraja, termasuk para petugas hukum, bersikap proprosional. Di zaman demokrasi ini, memenjarakan pemikiran adalah tindakan berlebihan. Biasanya, hanya pemerintahan tiran, fasis, dan diktaktur seperti bekas Uni Soviet atau Nazi yang memenjarakan para pembicara, pekerja pena, penulis kolom atau pengarang buku.

Kata memang dapat menjadi pisau yang kejam. Di negara seperti Indonesia yang para pamongprajanya senang disambut dengan membungkukkan badan dan puja-puji, maka ada baiknya bersikap atau berkata lebih bijak bila ingin bersikap kritis terhadap mereka.