Barter ala Sparkling

Sekelompok orang membentuk komunitas dengan tujuan yang sangat menjijikkan. Demi fantasi semata. Sebuah komunitas didirikan oleh sekelompok orang yang memiliki visi dan misi yang sama pada satu hal. Tentu, didirikannya komunitas agar apa yang menjadi poin penting dalam kelompok itu dapat dengan mudah dilakukan. Banyak komunitas yang memberikan inspirasi dan manfaat bagi masyarakat. Tetapi tidak demikian dengan komunitas yang satu ini.

Komunitas Sparkling, begitu namanya. Diwadahi dalam grup whaatsapp . Adalah THD, warga Keputih, Sukolilo Surabaya ini merupakan inisiator dan pembuat grup WhatsApp yang beranggotakan komunitas pasutri yang punya fantasi tukar pasangan dalam berhubungan intim alias bercinta. THD mengaku, dirinya sudah menjadi anggota komunitas sejak 2013 silam.

Keberadaan komunitas tukar pasangan terbongkar di salah satu hotel di Kota Malang. Keberadaan komunitas bertukar pasangan seks ini terungkap saat polisi menggerebek acara pesta seks mereka di salah satu hotel di Lawang, kabupaten Malang, Minggu 15 April 2018.

Anggota komunitas ini sengaja melakukan pertemuan dan pesta seks di waktu dan tempat yang ditentukan dengan saling bertukar pasangan. Aktivitas pesta seks di hotel dibongkar Unit III Asusila Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim.

Saat digerebek, polisi mendapati tiga pasangan suami istri (pasutri) dengan yang sedang pesta seks dengan cara tukar pasangan. Para pasutri yang digerebek polisi, yakni THD (53), warga asal Keputih, Sukolilo Surabaya, RL (49), SS (47), WH (51), DS (29) dan AG (30). “Ketika kami gerebek, keadaan di sana mereka sudah bertelanjang bulat, sudah bertukar pasangan, bahkan ada yang lari ke kamar mandi, lalu kami amankan mereka semua beserta barang buktinya,” uja Kasubdit 3 Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Yudhistira Midyahwan.

Kasus asusila ini terungkap bermula dari informasi masyarakat soal adanya aktivitas sosial yang menyimpang, yakni pesta seks berbertukar pasangan. “Para pasutri ini diamankan atas aktivitas seks menyimpang.”

Di hadapan polisi dan wartawan, THD mengaku, baru tiga kali melakukan pertemuan dan menggelar pesta seks. Semua dilakukan di hotel dan tempatnya pindah-pindah. Selain di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, juga pernah melakukan pertemuan di hotel kawasan Tretes, Prigen Pasuruan. “Saat ketemuan tidak semua anggota grup ikut,” ucap THD.

Anggota komunitas ini, kata THD, berasal dari beberapa kota/kabupaten di Jatim. Ada yang berasal dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, Tuban dan lainnya. Pertemuan dilakukan setelah ada kesepakatan.

Untuk bisa bertukar pasangan (swinger) dan merasakan sensasi seks menyimpang sebuah grup tukar pasangan suami istri, Sparkling, ternyata mudah. Ada satu syarat yang harus dipenuhi.

Dikatakan THD kepada penyidik, syarat untuk ikut dan menjadi anggota salah satunya harus pasangan resmi suami-istri. “Untuk bisa bergabung ke grup ini ada syaratnya, di antaranya harus punya surat nikah,” kata Kepala Sub Direktorat Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, Ajun Komisaris Besar Polisi Yudhistira Midyahwan, Senin 16 April 2018. Kini, THD bakal dijerat pasal 296 KUHP.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi Frans Barung memperlihatkan tiga pasangan suami-istri yang tergabung dalam grup seks bebas di Markas Polda Jawa Timur, Surabaya (viva.co.id)

Sosiolog Rissalwan Habdy Lubis mengatakan, kejadian itu diakibatkan dari ilmu agama yang kurang dimiliki oleh mereka. Menurutnya, bila mereka mendapat pendidikan agama secara benar, maka pasangan suami istri itu tak akan melakukan kebodohan yang mereka lakukan. Sebab, sudah jelas di dalam agama manapun melarang melakukan aktivitas seks seperti yang mereka perbuat. “Artinya sosial kontrol harus diperkuat baik berbasis agama maupun budaya susila yang pantas,” kata Rissalwan dikutip dari Suara, Rabu 18 April 2018.

Hawa nafsu yang tak bisa mereka tahan, lanjut dia, diduga sebagai salah satu indicator mereka nekat berbuat seperti itu. Sehinga, pasutri itu seakan tak mempedulikan bahaya yang mereka dapatkan akibat melakukan hubungan seks dengan cara saling bertukar pasangan. Padahal, sudah jelas, banyak informasi tersebar kalau berganti-ganti pasangan itu dapat berakibat kepada penyakit kelamin. “Ini memang bersifat sangat instingtif dan sudah berlangsung lama sejak manusia melakukan hubungan seks pertama kali,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, hasrat untuk melakukan fantasi ketika melangsungkan hubungan intim membuat mereka melakukan akitivitas seks yang menyimpang. Sebab, ada beberapa penyakit yang dimiliki seseorang, yakni ingin berfantasi kala melangsungkan berhubungan badan. “Saya kira itu dorongannya sama degan dorongan untuk melakukan selingkuh ya. Seksualitas itu kan bukan hanya aktivitas biologis, tapi terutama aktifitas fantasi. Jadi “tantangan” dalam seksualitas,” pungkasnya. JOKO MARDIKO