Transkrip Pidato Prabowo Subianto Tentang Indonesia Bubar Pada Tahun 2030

 

Ketua umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto menyampaikan pidato politiknya saat acara HUT Partai Gerindra yang ke 10 pada Minggu (18/3/2018) lalu.

Pernyataan itu sontak membuat geger berbagai kalangan. Prediksi Indonesia bubar yang diungkapkan Prabowo dianggap beberapa kalangan sebagai ekspresi yang tidak berdasar.

Tema itu sebenarnya tak hanya kali ini disampaikan. Prabowo pada momen lain memaparkan hal yang sama saat berada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Senin 27 September 2013.

Kala itu, dalam acara bedah buku Nasionalisme, Sosialisme, dan Pragmatisme, Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo, mantan Danjen Kopassus tersebut menyinggung soal geopolitik dan ekonomi Indonesia.

Di sela pidatonya, Prabowo mengeluarkan tiga buah buku. Buku itu dibeli saat berkunjung ke luar negeri. Salah satunya adalah novel fiksi ilmiah karya PW Singerdan dan August Cole.

Dalam buku itu, ahli politik luar negeri tersebut memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dalam konflik global.

Di mana China mengambil alih sebagai negara super power mengalahkan Amerika Serikat. Buku ini membedah kebangkitan ekonomi China. Indonesia sendiri dalam novel itu tidak disebutkan secara mendalam bahwa Indonesia akan musnah atau failed state seperti Uni Soviet.

Berikut transkrip video orasi pidato politik Prabowo diunggah oleh akun resmi Partai Gerindra di sosial media. Berikut kata Prabowo dalam video tersebut:

Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.

Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar, elite kita ini merasa bahwa 80 persen tanah seluruh negara dikuasai 1 persen rakyat kita, enggak apa-apa.

Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, enggak apa-apa. Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.

Ini yang merusak bangsa kita, saudara-saudara sekalian! Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin curang! Semakin culas! Semakin maling! Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi.”