Shalawat Pancasila Paguyuban Sawunggaling Yang Meresahkan

Kepolisian Sektor (Polsek) Lakarsantri Surabaya melarang kegiatan ritual kebangsaan dengan menyanyikan Shalawat Pancasila. Ritual itu sebelumnya dilakukan oleh komunitas dari Paguyuban Sawunggaling di Surabaya pada Januari 2018.

“Persoalannya komunitas Paguyuban Sawunggaling ini mengunggah video saat menggelar ritual kebangsaan itu dengan menyanyikan Shalawat Pancasila yang kemudian beberapa hari terakhir ini viral di media sosial,” ujar Kepala Polsek Lakarsantri Surabaya Komisaris Polisi Dwi Heri di Surabaya, Selasa (6/3/2018).

Viralnya video tersebut dikhawatirkan berpotensi menimbulkan konflik dengan kelompok masyarakat. “Terlebih ritual kebangsaan dengan Shalawat Pancasila ini digelar di situs cagar budaya Makam Sawunggaling, wilayah Lakarsantri, yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Al Kubro,” katanya.

Sehingga, Polsek Lakarsantri merasa harus mengumpulkan pihak-pihak terkait untuk meredam agar video yang telah viral tidak berujung konflik.

“Kami pertemukan pihak dari komunitas Paguyuban Sawunggaling serta tokoh masyarakat dan pemuka agama di wilayah Lakarsantri kemarin malam,” ujarnya.

Pertemuan itu juga dihadiri dari oleh Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kota Surabaya Muhaimin Ali. “Istilahnya, dalam pertemuan ini kita tabayun atau mengonfirmasi kepada Paguyuban Sawunggaling, kenapa dalam ritual ini menggubah Shalawat Nabi menjadi Shalawat Pancasila,” katanya.

Dwi memaparkan, Paguyuban Sawunggaling dalam pertemuan itu mengungkapkan tidak ada maksud Salawat Pancasila yang digubah dari lagu Shalawat Nabi yang dilantunkan dalam ritual kebangsaan tersebut menghina kelompok masyarakat tertentu. “Mereka menyatakan tidak tahu kalau videonya kemudian viral dan menuai tanggapan,” ujarnya.

Hasil tabayun akhirnya disepakati agar Paguyuban Sawunggaling tidak mengulangi lagi melagukan Shalawat Pancasila dalam melakukan aktivitas ritualnya.

“Mereka tetap boleh menggelar ritual kebangsaan di situs cagar budaya Makam Sawunggaling. Hanya saja, demi menjaga situasi agar tetap kondusif, tidak diperbolehkan melagukan Shalawat Pancasila. Paguyuban Sawunggaling menyatakan sanggup tidak mengulanginya,” ucapnya.