Setelah Diprotes Mahasiswa, Rektor UIN Sunan Kalijaga Cabut Larangan Memakai Cadar

Semula Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang mahasiswi memakai cadar. Namun larangan itu diprtes mahasiswa. Desakan agar pihak kampus mencabut larangan cadar terus mengemuka. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Ali Muthohirin bahkan meminta pemerintah melalui Kementerian Agama segera mengganti rektor UIN Sunan Kalijaga, termasuk memberikan batasan-batasan kebijakan dalam kampus.

Ali mengatakan, pemakaian cadar merupakan hak pribadi, apalagi di dunia kampus yang seharusnya memberikan ruang pemahaman sepanjang masih dalam ruang lingkup intelektual. “Ini menjadi kecerobohan kebijakan, bahkan menghadirkan tendensius yang luar biasa karena ini bentuk pemaksaan pemahaman dalam praktik keyakinan,” ujarnya, Sabtu.

Seharusnya, kata dia, kampus menyediakan ruang diskusi terkait perbedaan pemahaman dalam praktik beragama, bukan malah melarang, bahkan mengancam mengeluarkan. Kalaupun pihak kampus menilai praktik itu kurang tepat, kampus harus melakukan pembinaan. Sebab, setelah masuk kampus, mahasiswa menjadi tanggung jawab perguruan tinggi.

Menurut Ali, pelarangan justru tidak mencerminkan pendidikan kampus, tetapi lebih sebagai gaya berpikir para pemangku kebijakan di kampus. Dalam konteks tersebut, kampus tidak lagi menjadi ruang diskusi, tetapi sudah menjadi otoriter.

“Memaksakan kehendak dan pikiran serta melanggar hak mahasiswa dalam praktik keyakinan. Kalau pelarangan ini diikuti, dampaknya adalah akan menguatnya konflik pemahaman dan terkesan ada stigma negatif terhadap mahasiswi bercadar. Mengurangi nilai kampus sebagai basis pendidikan yang menghadirkan kesejukan dan diskusi,” ungkapnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sadam Al Jihad meminta pemerintah memberikan penjelasan kepada publik mengenai aturan hak warga negara dalam kebebasan beragama. Menggunakan cadar merupakan hak setiap Muslimah. Segala hal yang berhubungan dengan aturan ini harus diberitahukan.

Menurut dia, pemakaian cadar dalam pandangan Islam bukan bagian dari radikalisme. Setiap warga negara pun harus bisa menghargai perbedaan dalam simbol beragama. “Cadar merupakan kebutuhan sebagian keyakinan setiap Muslim,” ucapnya.

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga mencabut surat pembinaan mahasiswi bercadar. Pencabutan surat pembinaan itu telah pula dikonfirmasi langsung Rektorat UIN Sunan Kalijaga.

“Betul,” kata Rektor UIN Sunan Kalijaga saat dikonfirmasi terkait beredarnya surat pencabutan pembinaan mahasiswi bercadar, Sabtu (10/3/2018) malam.

Keputusan pencabutan itu sendiri baru dikeluarkan mengingat surat pencabutan tertanggal pada 10 Maret 2018. Pencabutan surat pembinaan mahasiswi bercadar itu dikonfirmasi pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Waryono.

Surat itu sendiri menerangkan jika keputusan pencabutan diambil berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Universitas (RKU) pada Sabtu 10 Maret 2018. Untuk alasannya, disebutkan jika pencabutan demi menjaga iklim akademik yang kondusif.

Surat pencabutan ditandatangani langsung Rektor UIN Sunan Kalijaga. Surat berkop UIN Sunan Kalijaga itu ditujukan untuk Direktur Pascasarjana, Dekan Fakultas, Kepala Unit/Lembaga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.