Proyek 27 Miliar Stain SAS Babel Bakal Jadi Bidikan Polda Dan Kejati

Forumkeadilan.com, Petaling Bangka — Proyek pembangunan gedung kuliah terpadu di STAINS SAS Babel saat ini menarik perhatian  dua lembaga penegak hukum di Bangka Belitung.

Setelah kasubdit tipikor Polda Kep. Babel, AKBP Selamet menyatakan akan melakukan penyelidikan terhadap proyek yang pagu dananya mencapai 27 milyar itu mulai dari proses lelang hingga proses pelaksanaannya.

“Kita akan selidiki mulai dari proses lelangnya hingga ke pelaksanaannya. Infonya proyek itu dilelang sampai dua kali. Sehingga pemenang lelang yang pertama sempat menggugat ke Pengadilan,” ungkap Selamet di ruang kerjanya belum lama ini.

Namun, kata perwira berpangkat dua melati ini, untuk dilakukan pemeriksaan pihaknya harus menunggu waktu dead line pelaksanaan proyek tersebut.

“Kita tunggu lah habis waktu pelaksanaan pekerjaanya. Soalnya pelaksanaan proyek yang menggunakan APBN masih bisa addendum penambahan waktu pelaksanaan hingga 90 hari berdasarkan PMK No 05 tahun 2014,” kata Selamet.

Bulan Maret ini tepatnya tanggal 31 batas deadline (batas akhir) pelaksanaan proyek gedung kuliah terpadu STAIN SAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Babel diyakini banyak pihak tidak akan selesai.

Diduga proyek yang menelan uang negara hampir 27 miliar ini banyak masalah disana-sini. Jika benar tidak selesai dan terjadi kecurangan, proyek yang dikawal Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Pusat (TP4P) dan Daerah (TP4D) maka pihak Kejati Babel juga akan melakukan penyelidikan.

Tidak hanya itu bahkan proyek ini jika gagal akan membawa aib sendiri bagi yayasan STAIN SAS Babel yang digadang-gadang akan menjadi Institute Agama Islam Negeri (IAIN).

Dari pantauan Forumkeadilan.com di lapangan, Rabu (28/02/2018), proyek gedung kuliah terpadu STAIN SAS Babel yang berlokasi di Desa Petaling Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Induk tidak nampak adanya perkembangan progres pembangunan yang signifikan meskipun informasi yang didapat bahwa proyek itu sudah mencapai progres 74 persen.

“Bangunannya masih kerangka, tidak ada perkembangan yang signifikan, katanya sudah 74 persen ini kok seperti ini, ” kata salah seorang wartawan.

Zacky, Kasubag Perencanaan Proyek Stain SAS Babel yang berhasil ditemui di ruang kerjanya, mengatakan dirinya tidak dapat memastikan apakah proyek itu selesai atau tidak karena ia bukanlah orang yang kompeten untuk menjelaskan.

“Tidak tahu saya, kalau dikerjakan terus menerus (siang/malam) kemungkinan selesai, ” kata Zacky tersenyum.
Zacky juga mengungkapkan bahwa ada permasalahan yang terjadi pada proyek STAIN SAS Babel namun itu sudah diselesaikan. “Sudah selasai dimediasi,” ungkap Zacky.

Terkait pengadaan konsultan supervisi (pengawasan/red) senilai Rp 600 juta yang kabarnya di PL kan oleh PPK Hadarah. Zacky membenarkan namun dirinya saat itu meminta hal tersebut untuk tidak dipublikasikan.

“Iya 600 juta supervisi di PL, tolong jangan dipublikasi ya karena berdampak buruk bagi nama baik STAIN SAS Babel,” pinta Zacky.

Soal pendampingan yang dilakukan TP4D. Asdatun Kejati Babel, Amir selaku wakil ketua Tim menyatakan kalau pihaknya sudah maksimal melakukan pendampingan agar gedung STAIN SAS dapat selesai tepat waktu dikarenakan proyek ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Kita sudah maksimal melakukan pendampingan namun mau bagaimana lagi kalau dilapangan seperti itu,” kata Amir di kantor Kejati Babel, didampingi Asintel, Said Muhammad dan Sekretaris Tim Pendampingan Budi, Rabu (28/2/2018).

Dijelaskan Amir, ada dua faktor yang menyebakan tersendatnya pembangunan gedung STAIN  SAS yaitu proses lelang terlalu lama dan faktor rangka besi bangunan yang tidak ready sehingga pelaksaannya harus menunggu.

“Ada dua faktor, proses lelang  dan faktor rangka besi yang tidak ready ,” jelas Amir.
Amir yang didampingi Asintel awalnya pesimis kalau proyek STAIN  SAS Babel akan selasai tepat pada waktunya namun Amir berharap proyek STAIN SAS Babel dapat selesai tepat waktu pada tanggal 31 Maret 2018.

Kenapa sampai mangkrak proyek STAIN SAS Babel, Amir memberberkan secara detail. “Pada saat proses lelang tahu-tahu dalam perjalanannya lelang pertama dibatalkan. Pembatalan ini karena ada masalah dan pihak yang merasa sudah menang tidak terima lalu melapor kemana-mana. Selaku pendamping (TP4D) kita panggil mereka apa persoalannya,” bebernya.

Waktu itu, sambung Amir, ibu PPK tetap ngotot untuk membatalkan tender ini. Alasannya sudah kordinasi kemana-mana.  “Kalau PPK sudah yakin ini akan menjadi masalah, TP4D hanya selaku pendamping sementara mereka yang di lapangan dan lelang ulang tetap dilanjutkan dengan alasan-alasan tersebut. Akhirnya tiba tiba muncul lelang ulang yang kedua. Itu juga mereka jalan sendiri tanpa melakukan kordinasi dengan kita,” katanya.

Dikarena terjadi keributan, kata Amir, pihaknya memanggil PPK untuk duduk bersama-sama. “Alasannya ibu PPK ini sudah kordinasi kemana-mana. Taunya tahu dari mana, saat TP4D diudang tanda tangan kontrak pada bulan September. Dan saya berpesan tolong  ini dijaga diwaktu yang mepet  jangan sampai dimainkan oleh waktu yang mepet karena tinggal 3 bulan,” kata Amir.

“Waktu itu sudah 2 bulan ada gugatan masuk dan digugat perdata oleh yang pertama. Karena kita jaksa pengacara negara, kami diminta  tim datun menjadi kuasa hukum di pengadilan terkait gugatan ini. Pendek cerita kita mediasi dan mereka sepakat,” ungkapnya.

Lebih jauh Amir menyesalkan, pembangunan ini tidak pernah ada laporan ke Kejati. Kemudian Kejati turun dan dilihat ini tidak akan selesai. “Nah saat disuruh kerja cepat, banyak alasan diantaranya material baja yang telat datang dan lainnya,” tambahnya.

Terakhir pada tanggal 20 Desember saat pembayaran, Kejati Babel menyarankan agar dibayar 40 persen saja. Dalam kasus ini, ditambahkan Asintel, Said Muhammad mengaku sudah menyelamatkan uang negera dari proyek STAIN SAS Babel. Namun dirinya pribadi kata Said Muhammad dari Laporan Informasi (LI) yang bersumber dari pemberitaan di media mengaku akan melakukan penyelidikan terhadap proyek tersebut namun menunggu setelah turunnya audit dari Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).

“Setelah 60 hari turunnya audit dari APIP nanti. Kita akan masuk untuk melakukan penyelidikan meskipun mereka sudah mengeluarkan uang banyak untuk kordinasi sana sini. Kita tidak peduli kalau memang proyek itu nanti ternyata merugikan keuangan negara,” pungkasnya. (Romli Muktar)