Modernisasi Di Tengah Musibah Alutsista TNI

Tank M-113 Kostrad tenggelam. Kapal Motor Cepat AD-16-05 milik Kodam Jaya dan KRI Sibarau-847 TNI-AL juga karam. Rentetan peristiwa ini kembali memunculkan wacana modernisasi alutsista TNI.

Wacana modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI kembali dihembuskan. Sayangnya, rencana ini dilambungkan ketika kendaraan tempur TNI kembali terlibat insiden yang merenggut korban jiwa.

Dua orang gugur dalam insiden tenggelamnya tank M-113 milik Kostrad di Sungai Bogowonto, Purworejo, Jateng, Sabtu dua pekan lalu. Pratu Randi Suryadi meninggal di RSU Dr Tjitro Wardoyo dan Kepala Paud Ananda Iswandari meninggal di RS Panti Waluyo).

Kepala Penerangan Kostrad Letkol Inf Putra Widyawinaya mengatakan, kejadian naas tersebut bermula ketika dilaksanakan kegiatan outbond yang diikuti siswa TP dan PAUD dari sejumlah wilayah di Purworejo. Salah satu kegiatan itu adalah keliling asrama markas Yonif Mekanis Raider dengan menggunakan kendaraan tempur.

Tujuan kegiatan ini dijelaskan Putra untuk mengenalkan para siswa dengan lingkungan. Kecelakaan ini diakuinya sama sekali tidak diperkirakan sebelumnya. Menurut dia, dasar sungai yang tidak kokoh diduga menjadi penyebab kendaraan tempur tersebut miring dan terperosok. Sementara para penumpang yang berada di atasnya sebagian jatuh ke sungai hingga terbawa derasnya aliran.

Dalam kegiatan ini Batalyon Infanteri Mekanis 412 Divisi Infanteri 2/Kostrad mengerahkan tiga unit tank. Tank pertama dan ketiga berhasil berjalan mulus. Nahas, tank kedua yang diawaki lima anggota TNI dan 17 penumpang terdiri 16 siswa serta satu guru, tergelincir hingga tenggelam.

Pengamat Militer, Arista Atmadjati berharap TNI bersedia melakukan investigasi lanjutan untuk mengusut kejadian yang telah merenggut dua korban jiwa. Dalam pandangannya kegiatan outbond anak-anak PAUD menggunakan alat tempar tidak lazim. Dari sisi spesifikasi pun, tank tersebut diketahui merupakan tank yang baru dibeli oleh TNI.

“Ini enggak lazim kok digunakan untuk mengangkut anak PAUD. Secara yang pasti saya belum pernah dengar boleh dipergunakan untuk seperti itu. Kalaupun naik hanya boleh di pabriknya saja atau pameran khusus. Sedangkan ini lokasinya berada di luar teritorial mereka,” tutur Arista.

Kegiatan outbond ini diikuti lima sekolah, yaitu PAUD Ananda sejumlah 16 anak dan satu guru meninggal, PAUD Lestari sebanyak 20 anak, empat guru, TK Masitho III berjumlah 71 anak, empat guru, PP Handayani 38 anak, empat guru dan YK Siwi Peni sebanyak 35 anak, empat guru. “Ini sedang kita selidiki. Tim masih melakukan penyelidikan di sana,” ujar Kadispenad Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh ketika disinggung apakah outbound menggunakan tank sudah sering dilakukan.

Hasil invenstigasi mengungkapkan kecelakaan ini disebabkan kesalahan prosedur. Ternyata penggunan tank untuk kegiatan outbond tidak diketahui pimpinan TNI AD. “Itu prosedurnya menyalahi, laporannya tidak sampai ke atas. Jangankan sampai ke KSAD, itu berhenti di tingkat Batalyon, sehingga pengawasannya tidak ada,” timpal Asisten Peengamanan KSAD, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad, Rabu pekan lalu.

Kapal Motor Cepat AD-16-05 milik Kodam Jaya (Istimewa)

Menurutnya, TNI akan menindaklanjuti kesalahan prosedur tersebut. Dalam kesalahan prosedur ini tanggung jawab ada di Komandan Batalyon. Kesalahan prosedur ini menyebabkan tank terperosok ke sungai dan air masuk ke mesin tank. Ruang sirkulasi yang dibutuhkan untuk pembakaran pun terisi air dan menyebabkan mesin tank mati. Tank terperosok ke sungai dengan kedalaman 150 sentimeter.

Di sisi lain, ia memastikan kondisi tank dalam kondisi baik dan siap beroperasi. Namun karena kegiatan tersebut tidak dilaporkan ke Komandan Brigade 6 Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad dan Pangkostrad, sistem pengawasan tidak dilakukan dengan baik. “Ada tiga tank yang digunakan. Ketiga tank melakukan kegiatan yang sama, mengelilingi delta Sungai Bogowonto dan kembali ke markas, yang berjarak sekitar 300 meter,” ucapnya.

Berselang dua hari giliran Kapal Motor Cepat (KMC) AD-16-05 milik Kodam Jaya yang tenggelam di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (12/3/2018). Untungnya 65 prajurit yang diangkut berhasil diselamatkan.

Nur menjelaskan saat itu kapal berangkat menuju Pulau Pramuka sekira pukul 07.10 WIB dengan membawa personel dalam rangka kegiatan bakti sosial memperingati HUT ke-72 persatuan isteri prajurit. Pengecekan pada 9 Maret 2017 kapal dinyatakan dalam kondisi baik untuk berlayar.

Berdasarkan keterangan ABK, air masuk ke ruang mesin akibat adanya kebocoran dari bagian pipa strainer. Pipa strainer berfungsi menyedot air laut sebagai pendingin mesin yang berujung matinya mesin. Saat kejadian, tinggi gelombang kurang lebih 2,5 meter. Diduga hal itu

menjadi penyebab masuknya air laut ke ruang mesin sehingga nahkoda kapal mematikan mesin yang sudah terendam air laut. “Air semakin deras sehingga mengakibatkan kapal tenggelam secara perlahan,” katanya.

Nur mengetahui ada polemik di media massa yang menganalisis musibah ini akibat kelebihan muatan. Untuk menepis kecurigaan ini, dia menyebut kapal tersebut memiliki kapasitas 28 ton sehingga pada kondisi muatan yang ada pada saat itu kapal masih bisa berlayar secara normal.

Akhir tahun lalu KRI Sibarau-847, kapal patroli TNI Angkatan Laut tenggelam saat melaksanakan patroli di perairan Sumatera Utara. Untungnya insiden yang terjadi 2 Dsember 2017 ini tidak merenggut korban jiwa. Seluruh awak kapal yang dulunya dipakai tentara Australia itu berhasil menyelamatkan diri.

Rentetan insiden ini membuat Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu akan mengevaluasi terhadap seluruh alutsista TNI. Sikap ini didukung penuh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto.

Saat ini pemerintah terus berupaya melakukan modernisasi terhadap alutsista. “Sekarang Presiden (Joko Widodo/Jokowi) mencoba untuk melakukan langkah-langkah yang adil, seimbang, dan bijak. Agar di satu sisi tetap bisa memodernisasikan alusista kita,” beber Wiranto.

Ia menegaskan, terkait modernisasi alusista bakal menjadi bagian dari tujuan negara, sehingga, tidak perlu diributkan lagi mengenai peremajaan terhadap peralatan tempur tersebut. Meski begitu, ia menyatakan bahwa dalam melakukan peremajaan alusista harus terencana baik. Sebab, hal tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. “Itu kan butuh biaya ya. Butuh biaya besar. Tetapi, saya kira jangan sampai merugikan pembangunan ekonomi nasional, pembangunan kelayakan listrik yang memadai. Semuanya itu butuh kebijakan,” tandasnya.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan uji kelayakan secara berkala terhadap seluruh alutsista yang dimiliki TNI. Selain itu, ia mengingatkan TNI agar pengunaan alutisista sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. “Kejadian-kejadian seperti sangat disayangkan. Kami meminta Komisi I DPR mengawasi investigasi yang dilakukan TNI agar penyebab kecelakaan tersebut terungkap,” kata Bambang.

Untuk kapal yang tenggelam di perairan Kepulauan Seribu, Arista mengatakan perlu adanya penelaahan terkait usia dan kelaikan jalannya. Jangan sampai Kodam Jaya tidak melakukan pemeriksaan sesuai prosedur terhadap kapal yang akan digunakan karena memandang enteng jarak tempuh yang pendek. “Harus ditelaah lebih lanjut, kapalnya umurnya berapa tahun dan track record perawatannya seperti apa. Kelaikannya juga, jangan mentang-mentang Pulau Seribu dekat lalu menggampangkan,” paparnya.

Dia menilai pemerintah masih belum memprioritaskan perawatan alutsista milik TNI baik Angkatan Darat, Laut dan Udara. Padahal, Indonesia digadang-gadang sebagai negara maritim dengan 17.500 kepulauan dan memiliki garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. “Banyak alutsista yang sudah lama dan harus diperbaiki. Perhatian pemerintah masih jauh dari ideal karena anggaran pertahanan belum menjadi prioritas,” tandasnya. Zainul Arifin Siregar