Menulis Indonesia Belum Merdeka Dari Cina, Jonru Ginting Divonis 1,5 Tahun

 

Massa pengawal sidang terdakwa kasus ujaran kebencian Jon Riah Ukur Ginting (Jonru), sudah datang dalam ruang sidang utama di Pengadilan Negeri Jakarta Timur sejak sidang dimulai. Salah satu di antara mereka, yakni anggota syiar Islam Bekasi, Nani Sumarni, menyebutkan sidang Jonru ibarat wayang.

“Perkataan Jonru justru sebagai sebuah kritik yang harusnya didengarkan,” ujar Nani pada media massa sidang, Jumat (2/3/2018).

Bagi dia, tidak ada perkataan Jonru yang salah dalam akunnya. Lagipula, masyarakat juga tidak lantas terpengaruh begitu saja oleh perkataan Jonru, kenapa harus dibawa ke meja hijau.

“Kalau mau dipenjarain ya itu para koruptor. Urus tuh para koruptor, masayang begini-begini diurusin, ini tuh hal sepele dan mengada-ada. Orang tidak bersalah dibawa ke pengadilan, koruptor didiemin saja,” papar dia.

Sementara kuasa hukum Jonru, Djudju Purwantoro mempermasalahkan pada personal yang dimejahijaukan adalah orang-orang yang pro-Islam. Sementara kasus Ade Armando dan Victor Laiskodat justru tidak kedengaran lagi kelanjutannya.

“Saya tidak mau bilang kasus ini ada kepentingan atau tidak. Tapi yang pasti bisa dilihat siapa yang dijerat, Islam, Jonru dan Asma Dewi. Kasus seperti Ade Armando dan Victor Laiskodat, coba dibiarkan begitu saja,” papar Djudju.

Usai vonis dibacakan hakim ketua, Jonru bertakbir dengan lantang menyentak seisi ruangan. Bagi Jonru, selain vonis bebas adalah tidak adil. “Saya tegaskan, selain vonis bebas, itu adalah ketidakadilan bagi saya,” tutur Jonru usai sidang.

Hakim Ketua, Antonius Simbolon, dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Timur, memvonis terdakwa Jon Riah Ukur Ginting (Jonru) bersalah. Ia pun harus menjalani masa tahanan selama 1 tahun 6 bulan.

“Terdakwa terbukti bersalah dan melakukan pelanggaran, akan menjalani masa tahanan 1 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta. Apabila tidak membayar denda maka kurungan ditambah tiga bulan,” papar Hakim Ketua dalam sidang tersebut, Jumat (2/3).

Saat ditanyakan untuk langkah hukum selanjutnya oleh Hakim, tim kuasa hukum dari Jonru mengatakan akan memikirkan ulang terlebih dahulu. “Kami pikir-pikir dulu,” ujar salah satu dari mereka.

Untuk diketahui, penyidik Polda Metro Jaya melimpahkan tahap dua berkas berita acara pemeriksaan (BAP) tersangka ujaran kebencian Jonru ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Penyidik Polda Metro Jaya menyerahkan berkas BAP dan tersangka Jonru ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Penyidik kepolisian telah melengkapi berkas berdasarkan petunjuk kejaksaan terkait tambahan saksi ahli hukum pidana dan keterangan tersangka. Setelah berkas tahap dua diterima kejaksaan maka Jonru kemudian segera mengikut sidang pengadilan perdana.

Sebelumnya, pengacara Muannas Al Aidid melaporkan Jonru ke Polda Metro Jaya berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP/4153/VIII/2017/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 31 Agustus 2017. Jonru dituduh melanggar Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45 ayat 2 Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Muannas Al Aidid melaporkan Jonru Ginting ke polisi lantaran diduga menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Dalam laporan ini, Muannas menyertakan bukti berupa screenshot postingan Jonru di media sosialnya dari Maret hingga Agustus 2017. Muannas menilai postingan Jonru di media sosialnya banyak yang memenuhi unsur penyebaran ujaran kebencian. “‘Kita merdeka dari jajahan Belanda tahun 1945, tapi 2017 belum merdeka dari jajahan China’. Nah ini kan bukan kritik, tapi ujaran kebencian, karena mendorong, membenturkan agama dan etnis tertentu,” ujar Muannas di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/9/2017).