Mahendradatta :“Pembuat Hoax Ada Dimana-Mana Dan Harus Ditindak”

Hiruk pikuk pesta demokrasi sudah dimulai. Berbagai ungkapan sinis telah ditebar melalui postingan. Bahkan para penebar gosip murahan kian mengarah ke area agama, suku, ras dan golongan. Hanya untuk satu tujuan: agar dikenal publik menjadi parpol paling kritis.

Di antara hiruk pikuk media sosial itu muncullah nama Saracen hingga Moeslem Cyber Army (MCA) yang dianggap bertanggug jawab atas beberapa ujaran kebencian yang menyebar di berbagai lini media sosial. Namun benarkah demikian?

Berikut ini wawancara Sofyan Hadi dari FORUM dengan Muhammad Mahendradatta terkait MCA dan beberapa kasus yang mengiringi MCA. Untuk  diketahui, Mahendradatta adalah juga pengacara kuasa hukum Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Simak penuturannya:

Apa tanggapan Anda soal MCA seperti apa Bang?

MCA kalau yang dimaksud adalah Moeslem Cyber Army, pertama-tama harus diketahui dulu kapan istilah MCA ini dikenal. Silahkan googling dan akan diketahui berita bahkan kata-kata MCA atau Moeslem Cyber Army itu ada setelah Desember 2016. Itu lagi panas-panasnya Pilkada DKI Jakarta dan panas Bela Islam 411 dan 212. Kemudian kalau dibilang akun itu sudah 4 tahun, silahkan dicek, kapan ganti nama menjadi MCA atau lebih tepatnya kapan disebut itu MCA. Belum mengerti MCA saja sudah latah pada menyalahkan, wong saya tanya polisinya, itu mereka ditangkap sebagai apa? Jawabnya kelakuan pribadinya bukan karena MCA.

 

Berarti menurut Anda polisi kebakaran jenggot karena ada desakan dari pemerintah untuk menindak para penebar hoax?

Bukan kebakaran jenggot, pembuat hoax ada dimana-mana dan harus ditindak. Tetapi jangan biasakan memancing-mancing isu MCA, Saracen dan lain-lain. Karena penindakan pidana itu terhadap perbuatan pribadi oknum-oknumnya bukan kelompoknya. Apa kemudian Ananda Sukarlan kita laporkan terus dibilang kelompok atau kaumnya kita usut juga,ya tidak dong

Menurut Anda, apa yang menyebabkan maraknya berita hoaxs?

Karena media massa mainstream tidak menyajikan fakta sesuai harapan. Isinya hanya framing dan propaganda.

Dasarnya apa Anda menyebut media massa tidak menyajikan berita sesuai fakta?

Bukan tidak sesuai fakta, fakta yang ditulis dengan angle tidak sesuai harapan masyarakat. Misalnya kalau banjir bilang saja banjir, kenapa harus dibilang genangan. Atau tidak melaporkan fakta.

Apakah karena alasan itu para pemilik akun menyebarkan hoaxs?

Tidak juga, ada juga perang antar pendukung, yang sudah terpecah belah oleh pilpres dan pilkada. Kemudian sensitifitas pihak aparat keamanan menjadi meningkat seiring dengan turunnya elektabilitas, sehingga ramai-ramai menekan aparat keamanan untuk menindak “lawannya”.

Menurut Anda apa alasan mereka menyebarkan berita hoaxs?

Kadang ada yang memancing tindakan lawan politik, kadang hanya bikin ribut, kadang emosional macam-macamlah tergantung contentnya.

Apakah akun-akun itu seperti Saracen dan MCA ikut juga menyebarkan hoaxs?

Cerita Saracen itu sampai ke Pengadilan Saracennya hilang tuh adanya pemilik akun yang menyebarkan hoax.

Jadi sebenarnya nama Saracen dan MCA itu, apakah ada atau memang tidak ada?

Ada lah tapi berbeda tafsirannya. Semua muslim bisa mengaku MCA, beda dengan Saracen.

Apa yang membedakan antara Saracen dgn MCA?

MCA istilahnya dulu timbul sebagai gerakan moral, kemudian merebak kemana-mana. Sebenarnya itu istilah buat akun-akun orang muslim yang bergerak melawan penghinaan dan penistaan kepada agamanya (Islam). Sedangkan Saracen baru dikenal setelah orang-orang yang mengaku itu ketangkap dan artinya pun malah gelar ledekan bagi pasukan muslim jaman perang Salib.

Apakah benar ada metode yang diajarkan dalam membuat berita hoaxs?

Tidak ada metode yang diajarkan membuat berita hoax. Adanya bagaimana menampilkan fakta yang ditutup-tutupi media mainstream.

Tetapi mengapa berita hoaxs selalu mengarah kepada SARA? Dan apakah dengan SARA sangat menarik untuk di posting?

Batasan SARA harus jelas, saya sendiri bingung batasannya apa.

Mengapa berita hoaxs itu selalu muncul di saat ada pesta demokrasi. Bagaimana tanggapan Anda?

Ya tadi sudah saya katakan, yang terbanyak adalah hoax yang saling menyerang antar pendukung. Bahkan kadangkala tidak lagi memakai nalar. Terbanyak hoax adalah menyerang satu sama lainnya.

Tetapi mengapa materi agama yang sering diposting?

Ya itu “serang menyerang” sudah tidak dapat diklaim siapa yang terlebih dahulu memulai. Materi agama sesuatu yang paling sensitif karena basisnya saja sudah berbeda, mempertajam perbedaan itu jauh lebih mudah daripada create new issue.

Menurut Anda fenomena apa yang terjadi saat ini sehingga muncul aneka macam hoax?

Fenomena perpecahan yang berlarut-larut.

Apakah ada kesengajaan dari para aktor di balik semua ini agar Indonesia bercerai berai?

Saya tidak bisa mengatakan itu, tetapi ini semua akibat salah penanganan, atau salah kontrol. Sehingga konflik menjadi berlarut-larut.

Maksud Anda salah kontrol dari mana? Dan konflik apa yang berlarut-larut?

Ya tentunya mereka yang dipercaya memiliki kekuasaan. Tindakan kekerasan atau pemaksaan walaupun dibungkus dengan hukum sekalipun, akan menimbulkan feedback yang kadangkala diluar dugaan. Penangkapan-penangkapan atau upaya represif terhadap pembuat hoax disatu sisi diharapkan membuat jera masyarakat. Tetapi disisi lainnya bisa membuka sisi kelam yang selama ini tertutup dengan keramahan dan kesantunan.

Maksud Anda para penguasa berpura-pura dalam menyikapi keadaan?

Bukan berpura-pura sisi lain dari represif adalah keras.

Apakah politik pembusukan memang sengaja digulirkan di pesta demokrasi ini?

Justru tuduhan itu adalah pembusukan itu sendiri, karena yang sebenarnya justru politik pembusukan dijalankan untuk membungkam perlawanan terhadap pencitraan. Dalam hal ini banyak fakta yang dilihat secara meneyeluruh dituduh lawan politik sebagai hoax. Contohnya ada hadiah yang diberikan lalu selang beberapa lama diambil kembali. Kemudian ada yang mengungkapkan hal itu, langsung dituduh dengan hoax. Kata “hoax” itu sendiri adalah taktik untuk melawan sebuah fakta yang kadang kala tidak memiliki argumentasi kontranya. Bahkan pendukung salah satu bakal calon presiden mengatakan tidak terhadap tuduhan gagalnya suatu target

Sepengetahuan Anda siapa yang menciptakan ide pembusukan ini?

Sebenarnya awalnya adalah pencitraan, kemudian dilawan dengan sanggahan-sanggahan kemudian menjadi “konflik” bukan debat lagi karena berisi cacian dan hinaan. Kemudian kedua belah pihak mulai memproduksi hoax-hoaxnya masing-masing. Jadi kalau ditanya siapa, akhirnya tidak dapat ditunjuk salah satu pihak manapun. Atau kedua belah pihak jadinya saling membusukan.

Sampai kapan hoaks ini akan berakhir?

Hoax akan berakhir bila media mainstream mau bertindak netral dalam arti mulai seimbang antara berita yang berkonotasi puja puji dengan kritik asal hal itu didasari Fakta. Selain itu suatu fakta pun harus dilihat dari berbagai sisi, tidak saja sisi positifnya saja. Jangan lalu apa-apa untung atau untung terus. Sudah kena kaki diberitakan untung tidak kena perut, begitu kena perut diberitakan untung tidak kena kepala.
Dalam pandangan Anda, apakah media saat ini tidak berimbang?

Iya sangat tidak berimbang,menutup kejadian-kejadian atau fakta yang merugikan satu golongan. Bila terpaksa memberitakan dicari pemberitaan metode Untung terus, mendukung pencitraan. Yang penting bisa berkilah dari pelanggaran aturan pers. Saya sebut aturan karena mulai dari UU sampai etika pers. Termasuk media penyiaran.

 


Apakah karena pemilik media massa merupakan ketum parpol. Sehingga ada kepentingan parpol dalam pemberitaan?

Bisa jadi,juga kepentingan lain misalnya mengamankan usaha, kaum atau golongannya atau memang dihidupi oleh golongan itu. Saya sendiri punya pengalaman, dahulu saya paling sering muncul di salah satu media, namun lama kelamaan tidak pernah muncul sama sekali karena saya berbeda pandangan politik. Kemudian ada media yang sengaja menampilkan terus sisi lawannya yang kelihatan kurang capable yang penting cover both side. Oknum lawannya ya senang-senang saja karena memang sedang mencari panggung.

Untuk menyikapi hal ini harus seperti apa ?

Kembalilah ke parameter semula, rating dan peningkatan jumlah pembaca atau pemirsa. Karena parameter media massa itu sebenarnya bisa memaksanya bersikap netral terus, sekali dia dicap menjadi partisan maka rating dan pertumbuhan pemirsa atau pembaca nya hanya ditentukan oleh banyaknya pendukung golongan yang didukungnya saja. Saya sendiri sudah empat tahun lebih menghindari menonton salah satu media tertentu.

Menurut Anda apakah politik identitas itu buruk. Seperti parpol baru yang ingin dikenal publik tetapi menebarkan hoaks?

Ya jelas itu hampir mirip pencitraan, yang biasanya membesar-besarkan hal yang kecil dan menutup-nutupi yang kurang baik. Oleh karenanya disarankan lebih baik masyarakat melihat sendiri fakta yang ada daripada medsos ataupun media massa yang sudah terlihat berfihak dan tidak fair lagi.

Adakah solusi untuk mengatasi kasus ini?

Ada. Kalau saya bilang itu masyarakat terutama yang dipelosok-pelosok harus diberitahu. Lihatlah fakta yang sebenarnya, jangan gemar dengan status quo atau artinya stagnan, yang miskin tetap miskin dan yang kaya tetap makin kaya. Medsos walaupun sekarang sudah banyak dan menyebar tapi mayoritas rakyat tidak bermain medsos. Karenanya oposisi harus berani turun terus ke pelosok-pelosok dan aparat negara pun perlu menginstropeksi diri apakah alat negara atau alat golongan. Keberanian untuk pengabdian pada negara perlu digiatkan bagi para aparat negara.