Krisis Rasial Melanda Negeri Alengka

Forumkeadilan.com – Pemerintah Sri Lanka mengumumkan kondisi darurat nasional menyusul kerusuhan antara pemeluk Budha dari etnis Sinhale dengan Muslim. Kerusuhan ini menewaskan dua orang.

Distrik Kandy, berada 115 kilometer dari Colombo, ibu kota negara Sri Lanka, selama ini semarak dengan kehadiran turis yang menikmati kemolekan kota dengan beberapa destinasi wisata yang indah.  Di pusat kota ini ada sebuah danau dengan air jernih yang menawarkan kesejukan nan syahdu.  Kandy Lake namanya. Kota ini yang berada di dataran tinggi ini juga terkenal dengan Tooth Temple of Budha di Kandy. Candi di mana konon gigi bungsu Budha tersimpan.

Namun keindahan kota itu mendadak sirna setelah kerusuhan berbau sara membakar emosi sebagian warga. Gara-gara hasutan dari unggahan informasi di facebook, emosi warga tak terkendali dan tindakan anarkhi menghanguskan seluruh penjuru kota.

Massa membakar toko dan menyerang tempat peribadatan di bagian timur negara tersebut. Seorang sumber mengatakan bahwa kekerasan tersebut bahkan telah menyebar ke seluruh negara kepulauan Asia Selatan itu.

“Jam malam diberlakukan untuk mengendalikan situasi di daerah tersebut,” kata juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera, seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa (6/3).

Petugas polisi pun ditempatkan disejumlah tempat di Kandy untuk memastikan tidak ada lagi serangan. Akibat aksi brutal ini, lebih dari dua lusin tersangka telah ditahan oleh polisi.

Hingga berita ini ditulis pada Kamis 8 Maret, bentrokan antara pemeluk Budha etnis Sinhalese dan Islam di Distrik Kandy, masih terjadi. Warga Budha menyerang rumah warga Muslim, rumah, masjid, dan toko-toko, meski pemerintah sudah menerapkan kondisi darurat dan jam malam. Seorang warga tewas dan tiga lainnya luka akibat lemparan granat tangan. Bentrokan terbaru ini menambah jumlah korban tewas menjadi tiga orang.

Pemerintah Sri Lanka menetapkan status darurat nasional di negeri Alengka, demikian orang Jawa jaman dahulu menyebut negara ini, selama 10 hari terhitung sejak Senin 5 Maret, menyusul bentrokan antara Muslim dan pemeluk Budha pecah. Bentrokan itu menewaskan dua orang dan menyebabkan ratusan bangunan dan kendaraan dirusak dan dibakar. Kerusuhan semakin parah setelah mayat seorang pria Muslim ditemukan di rumahnya yang terbakar.

Beberapa jam setelah pemerintah memberlakukan status darurat, bentrokan kembali terjadi sepanjang Selasa malam di pinggiran Kandy, Menikhinna, menyebabkan tiga polisi luka. Polisi lalu menangkap tujuh warga dengan tuduhan melanggar jam malam, serta mencoba memprovokasi massa di daerah tujuan wisata itu.

Seluruh sekolah di Kandy terpaksa diliburkan. Tentara dan polisi satuan khusus juga disebar untuk mengantisipasi bentrok susulan.

Pemerintah mengatakan, penyerangan terhadap kelompok Muslim salah satunya dipicu oleh provokasi atau ujaran kebencian yang menyebar luas di media sosial Facebook serta aplikasi layanan pesan singkat Whatsapp. Isinya ajakan untuk menyerang umat Islam. Pemerintah sudah memblokir Facebook dan Whatsapp untuk mencegah bentrokan lebih besar dan meluas.

 

Bekas kerusuhan antaragama di Kandy Sri Lanka (Foto-AFP)

Dalam pernyataannya, Facebook tengah mengidentifikasi dan menghapus posting-an mengandung ujaran kebencian yang memicu kerusuhan antaragama di Sri Lanka. Perusahaan juga sudah menjalin komunikasi dengan pemerintah dan organisasi lain.

“Kami punya aturan jelas dalam melawan ujaran kebencian dan hasutan yang bisa memicu kekerasan serta bekerja keras untuk menghapusnya dari platform kami,” demikian pernyataan Facebook, dikutip dari Reuters, Kamis (8/3/2018).

Akibat kejadian ini, parlemen Sri Lanka menyampaikan permintaan maaf kepada kelompok minoritas Muslim di Kandy.

“Kami menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas Muslim atas perbuatan tak manusiawi yang telah terjadi,” kata menteri pengembangan usaha, Lakshman Kiriella, di gedung parlemen.

Sementara itu krisis antaragama ini memicu pihak oposisi menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe di parlemen. Dia dianggap gagal mengatasi konflik sektarian ini. Mosi tidak percaya rencananya akan disampaikan pada Senin pekan depan.

Presiden Maithripala Sirisena sudah berkunjung ke lokasi konflik di Kandy dan meminta para pemuka agama berbuat lebih untuk membangun komunikasi yang damai.

Bentrok antaragama di Kandy sebenarnya sudah terjadi beberapa kali, namun peritiswa beberapa hari terakhir ini merupakan yang terbesar dan masif. Banyak versi mengenai penyebab kerusuhan, ada yang menyebut kelompok etnis mayoritas pemeluk Budha marah karena salah satu warganya dibunuh.

Sri Lanka adalah negara yang masih memulihkan diri dari perang saudara yang berlangsung selama 26 tahun antara kubu pemerintah dengan gerilyawan Tamil. Perang itu baru berakhir tahun 2009, disertai dengan laporan pelanggaran hak asasi manusia dari kedua belah pihak.

Populasi Muslim di negara itu hanya sekitar sembilan persen dari total 21 juta jiwa penduduk dan merupakan kelompok minoritas terkecil kedua setelah etnik Tamil, yang kebanyakan beragama Hindu.

Sebelumnya, Kepala Komisi HAM PBB, Zeid Ra`ad al-Hussein, mengaku prihatin atas berulangnya kekerasan terhadap minoritas etnis dan religius di Sri Lanka.

“Tidak boleh ada impunitas, baik terhadap pemicu yang menyebabkan gelombang serangan ataupun terhadap serangan itu sendiri,” kata dia saat berpidato di depan Dewan HAM PBB di Jenewa.

Menyusul bentrokan ini, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dalam surat elektroniknya mengingatkan kerusuhan kemungkinan bisa berlanjut di Kandy, wilayah yang juga terkenal karena ada kuil yang diduga menyimpan gigi sang Buddha.

Pemerintah sendiri mengatakan bahwa kekerasan di Kandy telah diprovokasi oleh orang luar. “Ada konspirasi terorganisasi di balik rangkaian insiden ini,” kata Sarath Amunigama, seorang menteri senior, kepada sejumlah wartawan di Kolombo.

Sementara itu beberapa negara mengeluarkan travel warning ke Sri Lanka, karena mengkhawatirkan kerusuhan berbau SARA ini akan menyebar ke berbagai wilayah.

“Status darurat ini mungkin juga termasuk pemberlakuan jam malam di lokasi-lokasi tertentu. Warga harus berhati-hati, hindari demonstrasi, dan patuhi arahan dari keamanan setempat,” demikian seruan kedutaan besar Inggris kepada warganya di Sri Lanka.

Kementerian Luar Negeri AS juga memperingatkan warganya akan potensi kerusuhan. Kemlu meminta warganya yang mengunjungi Sri Lanka untuk terus memantau kondisi melalui media. SWU