Kejari Pangkalpinang Didesak Segera Laksanakan Perintah Pengadilan, Tetapkan Ahaw & Martin Sebagai Tersangka.

Forumkeadilan.com, Pangkalpinang -Tiga bulan lamanya sudah putusan majelis hakim PN Tipikor soal perintah penetapan tersangka baru dalam perkara korupsi timah Rubasan kota Pangkalpinang. Dua calon tersangka baru yang dimaksud yakni Ahau (bos timah kampung Dul, red) dan Martin als Fatin (anak buah Ahau, red). Namun hingga kini pihak Kejaksaan Negeri Pangkalpinang belum menunjukkan tanda tanda akan melaksanakan putusan Pengadilan tersebut.

Dengan tidak dilaksanakannya putusan PN Tipikor oleh pihak Kejaksaan Negeri Pangkalpinang ini menimbulkan sorotan tajam masyarakat luas, untuk mendorong agar hukuman dapat berlaku adil tidak tebang pilih.

Salah satunya dari aktivis penggiat anti korupsi dari Civitas Akademika Lintas Perguruan Tinggi melalui ketuanya, Marshal Imar Pratama mempertanyakan kapan Kejari Pangkalpinang akan melaksanakan perintah majelis hakim tersebut. Sebab terdakwa awal yakni Joko Surono sudah diganjar dengan 2 tahun penjara.
“Perintah majelis sudah jelas kalau Ahau dan Martin itu agar ditetapkan sebagai terdakwa. Bila Kejaksaan Negeri Pangkalpinang serius tentu tidak butuh waktu lama untuk melaksanakan perintah tersebut. Ini penting sebagai wujud rasa keadilan dalam penanganan perkara ini,” kata Marshal di Pangkalpinang, Senin (26/3/2018).

Marshal meminta pihak kejaksaan untuk tidak terlalu berlama-lama dalam melaksanakan perintah tersebut. Dan butuh keseriusan sehingga tidak menjadi beban di kemudian hari. Selain itu juga akan menumpuk ketidak percayaan publik kepada pihak kejaksaan Negeri Pangkalpinang.

“Kita bukan berburuk sangka, mungkin pejabat yang lalu karena keterbatasan waktu sehingga Ahau dan Martin tak bisa diperiksa. Tetapi kini harapanya Kajari dan Kasi Pidsusnya darah baru. Sehingga semangatnya masih segar, harapanya kasus ini segera dituntaskan sesuai perintah majelis hakim,” ujar mantan presiden mahasiswa IBEK Pangkalpinang.

Mantan Kepala Rupbasan, Joko S Usai Sidang (Romli Muktar)

Diharapkanya Kajari baru, R.M Ari Prio Agung‎ dan kasi Pidsus Dodi Junaidi terbebas dari intervensi apapun. Walau dikatakanya, kasus ini menyangkut pengusaha timah kuat di pulau Bangka. “Kita positif saja dulu, R.M Ari Prio Agung‎ dan Dodi Junaidi kuat. Tentu harapanya mereka juga mengejar prestasi dan bukanya menumpuk pekerjaan rumah dan tanggungan kasus,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan barang bukti perkara telah dikembalikan kepada penyidik. Sementara terdakwa Joko Surono sendiri hanya bisa tersenyum kecut dari kursi pesakitan saat majelis hakim Pengadilan Tipikor kota Pangkalpinang, diketuai Sri Endang Amperawati Ningsih, dengan anggota Siti Hajar Siregar dan Haridi menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara.

Hukuman ini jauh lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Pangkalpinang yang hanya 1 tahun penjara. Namun begitu mantan kepala Rubhasan kota Pangkalpinang akhirnya puas setelah majelis hakim Pengadilan Tipikor kota Pangkalpinang memerintahkan pihak jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Pangkalpinang untuk menetapkan tersangka dan terdakwa baru dalam pusaran korupsi barang bukti timah sitaan negara di Rubhasan yang telah merugikan keuangan negara senilai Rp 435 juta. Dua calon “penerus” Joko tersebut yakni bos timah Ahau dan Martin als Fatin.

Dalam putusan majelis hakim menyatakan terdakwa dalam melakukan perkara ini tidaklah sendirian melainkan telah dibantu oleh Martin als Fatin selaku anak buah Ahau (bos timah Kampung Dul). Hal ini telah terkait dengan pasal 55 ayat 1 KUHP perkara ini telah dilakukan bersama-sama sehingga tersangka dan terdakwa baru harus segera ditetapkan oleh jaksa penuntut umum. Dikatakan peran pihak lain dalam perkara ini sudah sangat jelas dan terang. “(Dari fakta) untuk urusan Kejaksaan nanti Ahau yang akan menghubungi dan menyelesaikanya. Sedangkan Martin als Fatin (anak buah Ahau) merupakan orang yang sering mengambil barang bukti yang sudah dieksekusi oleh pihak Kejaksaan. Tetapi bagi majelis Martin als Fatin hanyalah perpanjangan tangan dari bos Ahau,” putusan majelis.

Dikatakan juga dalam pusaran perkara terdakwa Joko Surono juga sudah pernah berhubungan dengan Ahau. “Maka dari itu semua wajib bagi jaksa penuntut umum untuk melakukan penyidikan bagi pihak-pihak yang terkait atau yang bekerja sama dengan terdakwa. Karena terdakwa sudah sangat jelas telah menyebut nama-nama orang yang telah bekerjasama dengan terdakwa. Bahkan Ahau sendiri sudah berjanji bisa menyelesaikan kasus ini langsung kepada pihak Kejaksaan,” ungkapnya.

Apapun alasanya semua orang berkedudukan sama di mata hukum dan keadilan oleh karena itu maka untuk menjunjung tinggi rasa keadilan penuntut umum harus mengusut tuntas Martin als Fatin selaku pembuat barang bukti palsu dan Ahau penampung barang bukti timah milik Kejaksaan Negeri Pangkalpinang. “Sekaligus menjadi rekan terdakwa Joko Surono dalam perkara ini. Karena akan mengusik rasa keadilan yang telah ditunggu-tunggu terdakwa ataupun masyarakat luas apabila hanya ditanggung terdakwa Joko Surono sendiri,” tegas Sri Endang selaku ketua majelis hakim.

Ketua majelis hakim Sri Endang melanjutkan, “Agar kasus ini juga terang menderang maka Ahau dan Martin als Fatin segera ditetapkan sebagai tersangka dan segera disidangkan. Majelis hakim juga mengembalikan barang bukti timah kepada pihak JPU guna penyidikan dan persidangan terhadap calon tersangka dan terdakwa Ahau dan Martin als Fatin,” tegasnya lagi.

Sementara itu Joko Surono mengaku lega walau harus menjalani 2 tahun hukuman. Sebab keadilan hukum telah ditorehkan oleh majelis hakim. Dia mendesak agar jaksa penyidik Kejaksaan Negeri Pangkalpinang segera memanggil dan memeriksa Ahau dan Martin als Fatin. Sebab menurutnya sedari awal 2 (dua) calon tersangka dan terdakwa itu memang tidak pernah menjalani pemeriksaan. “Sementara ini saya apresiasi pada majelis hakim. Sedangkan kepada jaksa-jaksa penyidik saya berbaik sangka saja dulu, soal kenapa Ahau dan Martin itu tidak ditetapkan tersangka bahkan tidak diperiksa,” ujar Joko usai menjalani persidangan dan menuju sel tahanan.