Heboh Binatang Pemakan Manusia

Forumkeadilan.com – Masyarakat di alur Sungai Batanghari, Jambi, diteror binatang menakutkan. Dalam kurun empat hari, sudah dua orang dimakan reptil peninggalan prasejarah itu.

Samsidar tewas mengenaskan. Jasad ibu berusia 66 tahun ini, ditemukan dalam kondisi tak lagi utuh. Warga Desa Malokointan, Kecamatan Teboulu, Kabupaten Tebo, Jambi, tersebut sebelumnya sempat dinyatakan hilang sejak Rabu lalu.

Samsidar menghilang setelah menyeberangi Sungai Batanghari, dengan menggunakan perahu untuk melihat kebun sayur miliknya. Sanak keluarganya pun panik. Pencarian dilakukan ke mana-mana. Keluarga mengecek ke kebun, keberadaan Samsidar tidak juga ditemukan. Belakangan kaum kerabat menemukan perahu yang ditumpanginya. Namun, tak ada sosok Samsidar. Keluarga hanya menemukan sepasang sandal, pakaian, dan galon air minum miliknya di atas perahu itu.

Misteri ini baru terjawab ketika warga bersama aparat pemerintahan menemukan potongan tubuh Samsidar terapung di sungai pada Kamis pagi. Merujuk kondisi tubuh yang sangat mengenaskan, warga bersama aparat terkait pun meyakini kalau wanita tua itu sudah dimangsa buaya. “Korban ditemukan mengapung di sungai, berjarak sekitar dua kilometer dari lokasi awal kejadian,” jelas Kapolsek Teboulu Iptu Razali.

Saat ditemukan jasad korban sudah tidak utuh. Kedua tangan dan kaki hingga pangkal paha hilang. Kondisi serupa terdapat pada bagian tubuh di dekat pusat perut yang sudah tidak utuh. Sebelum dikebumikan, jasad wanita malang itu terlebih dahulu menjalani autopsi yang dilakukan pihak kepolisian.

Hofsah korban keganasan buaya di sungai Batanghari. Desa Jelmu Tebo ulu (.foto RIHARTONO)

Korban kedua dialami Hofsah warga Desa Pulaujelmu, Kecamatan Teboulu, Kabupaten Tebo. Wanita paruh baya ini juga dinyatakan hilang saat mencuci pakaian di Sungai Batanghari, Sabtu pagi. Hofsah awalnya mencuci bersama seorang temannya di tepi sungai. Kemudian ia bergeser ke tengah sungai untuk mandi.

Hofsah sempat beberapa kali menyelam. Tiba-tiba seekor buaya menyambar kaki Hofsah dan menyeretnya menjauh. Usai memangsa, beberapa saat buaya itu sempat menampakkan diri ke permukaan air, kemudian menghilang.

Camat Teboulu, Yahoza menjelaskan serangan buaya terhadap manusia sudah terjadi sejak tahun lalu. Pada 13 Desember 2016, Rio pelajar SD warga Kelurahan Pulautemiang, Kecamatan Teboulu menjadi korban keganasan predator sungai tersebut. Sehari setelah kejadian, jasad Rio yang masih mengenakan seragam sekolah ditemukan mengapung dengan kondisi mengenaskan.

Sebenarnya, kata dia, ancaman buaya ini tidak hanya ada di Sungai Batanghari. Menurut informasi yang diperolehnya, ancaman serupa juga terjadi di Sungai Telukkuali, Lubukbenteng, Pulautemiang, Pulau Jelmu, Bungotanjung, Tanjungaur dan Melakointan. Namun, menurutnya, kawasan-kawasan itu memang habitat tempat buaya. Yahoza sedikit menyayangkan prilaku manusia yang terlalu jauh merambah habitat buaya hanya untuk sekadar melakukan penambangan emas ilegal, mencari ikan menggunakan setrum. “Aksi-aksi seperti itukan membuat buaya tidak nyaman. Pada dasarnya mereka hanya mempertahankan lingkungannya,” kata Yahoza.

Di Desa Oandanagan, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjabtim justru warga berhasil menangkap seekor buaya pada 10 April 2017. Penangkapan ini bermula saat Rohan sedang memainkan ponsel di tepi sungai menjelang malam. Dalam kegelapan malam diselingi suara arus sungai, Rohan tak sadar kalau dirinya sudah diintai buaya. Untungnya ketika disergap, Rohan masih bisa menghindar. Dia langsung lari sambil berteriak minta tolong yang langsung menghebohkan seisi kampung. “Kami ramai-ramai langsung datang, sambil membawa jaring, Ada yang membawa tombak, ada yang melapor ke Polsek Geragai,” kata seorang saksi, Budi.

Kerja keras warga ini akhirnya berbuah manis karena buaya tersebut berhasil ditangkap dalam kondisi hidup selang satu jam kemudian. Buaya sepanjang empat meter itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Menurut Budi, buaya- buaya itu memang kerap muncul di perairan sungai Desa Pandanlagan dan sekitarnya. Kondisi wilayahnya berawa serta banyak alur sungai kecil, yang merupakan anak Sungai Batanghari. “Kami beberapa kali melihat buaya muncul dengan tiba-tiba dari anak sungai ke rumah warga,” ucap Budi.

Kisah lainnya dialami Ambo Tang, penduduk Desa Caturrahayu, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjabtim. Akibat serangan reptil raksasa ini, Ambo mengalami luka serius di kakinya. Buaya itu sendiri akhirnya berhasil ditangkap dan selanjutnya diserahkan ke BKSDA Jambi.

Kontak fisik antara manusia dengan buaya ini membuat masyarakat dilanda kengerian. Warga yang hidup di bantaran sungai mulai meningkatkan kewaspadaan dan harus rela mengurangi aktivitas di sungai. Padahal selama ini ketergantungan masyarakat di wilayah itu terhadap sungai sangat tinggi.

Sejak lama masyarakat menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan. Mulai dari mencuci, mandi hingga mengambil air untuk masak harus bersentuhan dengan sungai. Kondisi ini membuat konflik manusia dengan hewan yang sudah hidup sejak zaman dinosaurus itu masih sangat terbuka. Ironisnya, bukan tak mungkin konflik kembali berujung maut karena masyarakat mulai terbiasa membawa senjata sebagai alat membela diri dari serangan buaya.

“Paling tidak kami harus membawa parang atau tombak. Dari pada kami yang dimangsa, bagus buayanya kami bunuh,” ucap seorang warga.

Sejauh ini tidak ada data resmi terkait jumlah populasi buaya di perairan Jambi. Namun warga meyakini jumlahnya terbilang banyak. Dugaan ini didasari dari penyitaan bayi buaya oleh Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Jambi pada 23 Januari 2018.

Timsar yang melibatkan TNI dan Polri dalam pencarian nenek Samsidar yang diduga tewas dimaka Buaya. (foto teboonlin)

Sebanyak 12 ekor anak buaya yang akan diselundupkan ke Jawa berhasil digagalkan setelah terdeteksi sinar x-ray Bandara Sultan Thaha. Buaya jenis sinyulong (tomistoma schelegelli) dan bayi buaya muara (crocodylus porosus) itu disembunyikan pelaku menggunakan dua akuarium. Masing-masing akuarium berisi tujuh dan empat ekor bayi buaya berukuran 40-50 centimeter.

Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jambi Rudi Barmara langsung berkoordinasi dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dalam mengusut kasus ini.

Ditegaskannya, penyelundupan bayi buaya melanggar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, tentang Perlindungan dan Keamanan Hayati serta Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan, hewan, dan Tumbuhan.

“Ini bukan aksi pertama, sebelumnya juga pernah kami menggagalkan percoban penyelundupan anak buaya melalui Bandara Sultan Thaha,” kata Rudi.

Diketahui tujuh ekor bayi buaya akan dikirim ke Surabaya, Jawa Timur. Namun sejauh ini pemilik maupun pihak yang terlibat dalam pengiriman belum diketahui. “Pelaku masih terus diusut, kami sudah melibatkan polisi,” ungkapnya.

Sementara Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Jambi, Faried meyakini kalau populasi buaya di Kabupaten Tanjabtim tergolong tinggi. Kondisi Sungai Batanghari yang banyak menciptakan anak sungai diyakini sebagai salah faktor yang menyebabkan kawasan itu sebagai sarang buaya. “Memang habitat asli buaya. Kalau dibilang banyak, ya banyak karena memang jenis sungai seperti ini yang disenangi buaya,” kata Faried.

Terkait konflik manusia dengan buaya yang akhir-akhir ini terjadi, Faried menyarankan agar manusia tidak terlalu jauh masuk ke kawasan sungai. Namun yang menjadi persoalan, konflik ini sulit dicegah menyusul program transmigrasi yang mengharuskan pemerintah membuka lahan di daerah pinggiran. Ini jelas menimbulkan potensi konflik tidak hanya dengan buaya, tapi juga dengan satwa buas lain yang masuk kategori hewan lindung. (Djohan- Jambi)