Dokter ‘Jagal’ Jadi Pesakitan

Forumkeadilan.com – Dokter kandungan yang melakukan praktik aborsi bersama empat pegawainya menjalani persidangan. Sang dokter dituntut 18 bulan penjara dan denda 100 juta.

Karier Trisna Utami, 30 tahun,  yang menyandang gelar dokter spesialis kandungan (SpK) kandas sudah.  Dokter yang masih belia itu kini juga menyandang gelar dokter ‘jagal’ karena membuka praktik aborsi ilegal. Dia tak lagi bisa melakukan perbuatan biadabnya karena Trisna kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja persidangan.

Keterangan yang dihimpun Majalah FORUM, Dokter Trisna bersama empat orang lainnya, diantaranya; Bidan Wulandari, 25 tahun, lalu Sely Puspitas Sari dan Melinda yang sehari-harinya merupakakan pegawai klinik. Lalu Sriwiyati alias Mpok Ati, 45 tahun, yang tercatat sebagai petugas kebersihan, dijadikan terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yani Ernawati. Mereka menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jambi. Dengan tuduhan, telah melakukan aborsi atau menggugurkan kandungan terhadap sejumlah pasien.

Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ledis Meriana Bakara disebutkan oleh JPU Yani Ernawati, bahwa dokter Trisna sebagai tenaga medis, bersama bidan Wulandari, sebagai asistennya, telah memberikan tindakan medis, untuk menggugurkan kandungan, terhadap dua pasien aborsi.  Yakni, Sely Puspita Sari, 34 tahun, dan Melinda Riska Indrani. Peristiwa ini terjadi pada bulan Januari 2017.

Terkait dengan perbuatan itu, dr Trisna dan terdakwa Wulandari, Kamis pekan lalu, 22 Februari dituntut oleh JPU dengan hukuman 18 bulan penjara dan denda Rp100 juta, subsidair 3 bulan kurungan penjara. Sedangkan untuk tiga terdakwa lainnya, Sely, Melinda dan Mpok Atik, dikenai pidana penjara selama 1 tahun beserta denda Rp50 juta, subsidair dua bulan kurungan penjara.

Menurut jaksa penuntut umum, dihadapan hakim, kelima terdakwa itu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, sebagaimana tertuang dalam Pasal 194 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan atau Pasal 239 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 dan pasal 56 KUHP. Dokter dan Bidan, adalah tenaga medis, seharusnya mengetahui kode etik, setiap tindak tanduk perbuatan medis yang dilarang.

Kasus Aborsi ini terungkap, berawal dari adanya laporan masyarakat yang ditindak lanjuti oleh tim Sat Reskrim Polresta Jambi, pada 31 Mei 2017 lalu. Kapolresta Jambi AKBP Fauzi Dalimunthe, ketika itu bersama Wali Kota Jambi Sy Fasha mendatangi dua tempat lokasi pemakan di Kelurahan Penyengat Rendah dan Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.

Terdakwa kasus aborsi-ketika di Pengadilan Negeri Jambi (foto -dedi)

Setelah dilakukan penelitian di dua lokasi itu, Polisi menemukan tujuh makam bayi, yang mencurigakan. Setelah makam itu dibongkar, Polisi menemukan janin bayi yang terbungkus plastik, dikubur dalam pemakaman itu. Menurut Kapolresta Jambi, AKBP Fauzi Dalimunthe ketika itu, “Setidaknya ada lima sampai enam tulang janin yang diketemukan ketika itu, diduga kuat, janin tersebut hasil aborsi,” jelasnya.

Terkait dengan hal itu, pihak Polresta Jambi kemudian melakukan pemeriksaan terhadap lima orang saksi. “Kelima orang saksi itu semuanya bekerja di sebuah klinik bersalin yang berlokasi di Kecamatan Telanaipura. Klinik tersebut diduga dikelola oleh seorang dokter ahli kandungan. Dari penyelidikan awal, diduga praktik aborsi sudah dilakukan cukup lama,” jelas Kapolresta Jambi Fauzi.

Dalam persidangan sebelumnya, dihadirkan dua orang saksi, yakni Widyati dan Rts Ida Asmaini, untuk terdakwa dr Trisna. Menurut saksi Widyati, terdakwa dr Trisna pernah dua kali menitipkan sejumlah peralatan yang diduga digunakan untuk praktek kurek di klinik milik saksi. Penitipan itu diantarkan langsung oleh Wulandari, selaku asisten dr Trisna. “Dia pernah nitip alat itu dua kali. Pada bulan Mei 2017 kalau ndak salah, pertama dititip, kemudian diambil lagi, terus dititip lagi,” kata saksi.

Saksi Widyati juga mengakui, jika dirinya pernah menerima uang dari dokter Trisna sebesar satu juta, uang itu diantarkan langsung oleh Wulandari. “Pertama saya diberi uang satu juta, uang itu diantar oleh Wulandari,” kata Widyati,  ketika menjawab pertanyaan ketua majelis hakim.

“Uang itu merupakan upah penitipan barang, berupa alat USG dan kuret?” tanya hakim. Namun dengan cepat saksi membantah. ” Iya, tapi itu bukan upah, melainkan hadiah,” katanya. Terkait masalah pemberian uang satu juta itu, dr. Trisna, melalui penasehat hukumnya juga sempat bertanya kepada Saksi Widyati, “Kapan anda menikah, apakah uang itu hadiah pernikahan atau upah penitipan peralatan,” tanya.

Saksi Widyati menjawab, “Itu adalah hadiah pernikahan saya menikah, pada April 2017. Tidak ada hubungannya dengan penitipan barang.” Dalam sidang juga  terungkap, bahwa dugaan praktek aborsi itu dilakukan pada dua tempat, diantaranya pada Klinik Puri Medika yang beralamat di Perumahan Aur Duri Kecam atan Telanaipura Kota Jambi dan di Klinik bersalin Dewi yang berada di kawasan Sipin Kota Jambi.

JPU  juga membeberkan, “Melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang No 36 tahun 2009, tentang kesehatan, yaitu terhadap kandungan saksi Sely Puspita Sari -terdakwa dalam berkas penuntutan terpisah- dan kandungan saksi Melynda Riska Indriani.”

DJOHAN, Jambi