Susilo Bambang Yudhoyono Bertambah Berang Karena Anaknya Diseret Ke kasus e-KTP

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaporkan Firman Wijaya, kuasa hukum Setya Novanto atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang dilakukan Firman, ke Bareskrim Polri.

SBY yang didampingi istrinya Ani Yudhoyono, tiba di Kantor Bareskrim, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Selasa.

Kedatangan SBY ke Bareskrim, langsung diterima oleh Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto.

“Saya sebagai warga negara yang menaati hukum tapi juga ingin mencari keadilan, secara resmi melaporkan Saudara Firman Wijaya yang saya nilai telah melakukan fitnah dan mencemarkan nama baik saya terkait permasalahan e-KTP. Selebihnya saya serahkan kepada kuasa hukum dan tentunya Allah SWT,” kata SBY.

SBY menilai Firman telah melanggar batas kewenangannya sebagai pengacara karena telah memfitnah SBY terlibat dalam kasus korupsi e-KTP.

Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/187/II/2018/Bareskrim tertanggal 6 Februari 2018.

Dalam laporan tersebut, SBY menuduh Firman telah melanggar Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP tentang fitnah dan pencemaran nama baik serta UU ITE.

“Firman memberikan pernyataan yang seperti mengarahkan, menuduh saya sebagai penguasa yang mengintervensi dalam pengadaan e-KTP,” katanya.

Sebelumnya, Firman Wijaya mengungkap fakta persidangan dari keterangan saksi yang menyebutkan aktor besar di balik proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Berdasarkan keterangan saksi, menurut Firman, proyek e-KTP dikuasai oleh pemenang pemilu pada 2009 yakni Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun, saksi yang dimaksud Firman adalah mantan politisi Partai Demokrat, Mirwan Amir.

Susilo Bambang Yudhoyono semakin berang, Sebab dalam buku catatan berwarna hitam yang kerap dibawa Setya Novanto ke persidangan kasus KTP elektronik, Novanto menulis nama Nazaruddin dan Ibas pada salah satu halamannya. Di bagian atas ada tulisan justice collaborator, kemudian dibawahnya tertulis nama Nazaruddin.

Di bawah nama Nazaruddin, Novanto menggambar dua tanda panah. Satu tanda panah menunjuk tulisan nama Ibas, tanda panah lainnya menunjuk tulisan angka USD 500.000. Tulisan itu terlihat wartawan saat melakukan wawancara terhadap Novanto di ruang persidangan.

menyebut perilaku Setya Novanto mengaitkan nama putranya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam kasus korupsi KTP elektronik, ibarat pepatah “air susu dibalas air tuba”.

“Waktu Pak Setya Novanto di-bully macam-macam, dari ICU kemudian sehat, kemudian kecelakaan kendaraan, luka banyak benjol, saya larang teman, saudara jangan ikut melakukan bully, tidak baik. Tapi nampaknya ‘air susu dibalas air tuba’,” ujar SBY saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa.

Belakangan Partai Demokrat menyebut upaya mengaitkan nama Ibas dalam kasus KTP elektronik tidak berdasar.

Presiden keenam RI mengatakan putranya sebagai warga negara memiliki hak untuk mendapatkan keadilan. SBY mempersilakan Ibas untuk menempuh jalur hukum atas tulisan Novanto dibuku catatan tersebut yang menyebabkan nama Ibas ikut terseret dalam kasus KTP elektronik.

SBY sendiri juga melapor ke Bareskrim Polri atas tuduhan yang dilayangkan saksi korupsi KTP elektronik Mirwan Amir dalam persidangan yang sama. Mirwan, yang juga mantan politikus Demokrat, mengaku telah melaporkan kepada SBY saat masih menjabat Presiden, ihwal proyek KTP elektronik yang bermasalah, namun SBY menurut dia, bersikeras tetap melanjutkannya.

SBY menegaskan pernyataan Mirwan seolah memposisikan dirinya sebagai aktor di balik kasus KTP elektronik. SBY menyebut pernyataan Mirwan adalah fitnah yang penuh nuansa rekayasa.