Selain Vonis Mantan Kepala Rupbasan 2 Tahun, Hakim Perintahkan Jaksa Segera Menyeret Bos Timah Ahau Ke Meja Hijau

Forumkeadilan.com, Pangkalpinang – Sidang perkara kasus penggelapan barang bukti (BB) berupa balok timah dengan terdakwa Joko Surono mantan Kepala Rupbasan Pangkalpinang yang digelar di Pengadilan Tipikor Pangkalpinang dalam agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim, Kamis (22/2/2018) mengungkap kalau dalam perkara kasus tersebut harus berlanjut.

Pasalnya, dalam sidang putusan itu, majelis hakim Pengadilan Tipikor kota Pangkalpinang, diketuai Sri Endang Amperawati Ningsih, memerintahkan JPU untuk menetapkan tersangka baru yakni Ahau dan Martin (anak buah Ahau) agar dijadikan tersangka kasus penggelapan barang bukti (BB) berupa balok timah yang telah merugikan negara sebanyak Rp.435 juta dan segera disidangkan di PN Tipikor.

Kepada terdakwa pertama yakni Joko Surono oleh majelis hakim diputus tinggi dengan 2 tahun penjara. Putusan ini lebih tinggi dari tuntutan jaksa yang hanya 1 tahun dengan pertimbangan majelis kalau Joko merupakan seorang PNS yang juga selaku penegak hukum.  Seharusnya Joko mendukung pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi. Tetapi faktanya dia tidak mendukung dan telah merugikan keuangan negara.

Dikatakan ketua majelis, Sri Endang Amperawati dalam putusanya  terdakwa dalam melakukan perkara ini tidaklah sendirian melainkan telah dibantu oleh Martin als Fatin selaku anak buah Ahau (bos timah Kampung Dul). Hal ini telah terkait dengan pasal 55 ayat 1 KUHP perkara ini telah dilakukan bersama-sama sehingga tersangka dan terdakwa baru, harus segera ditetapkan oleh jaksa penuntut umum.

“Fakta mengatakan untuk urusan Kejaksaan dalam perkara ini  Ahau yang akan menghubungi dan menyelesaikanya di Kejaksaan. Sedangkan Martin als Fatin (anak buah Ahau) merupakan orang yang sering mengambil barang bukti yang sudah dieksekusi  oleh pihak Kejaksaan,” kata Sri Endang.

Masih kata Sri Endang, terdakwa Joko Surono juga dalam perkara ini berhubungan dengan Ahau.  “Maka dari itu semua wajib bagi jaksa penuntut umum untuk melakukan penyidikan bagi pihak-pihak yang terkait atau yang bekerja sama dengan terdakwa. Karena terdakwa sudah sangat jelas telah menyebut nama-nama orang yang telah bekerjasama dengannya. Bahkan Ahau sendiri sudah berjanji bisa menyelesaikan kasus ini langsung kepada pihak Kejaksaan,” ungkapnya.

Agar kasus ini juga terang menderang, ketua Sri Endang memerintahkan JPU untuk segera menetapkan Martin als Fatin dan Ahau (bos timah Kampung Dul)  sebagai tersangka dan segera disidangkan.

Mantan Kepala Rupbasan, Joko S Usai Sidang (Romli Muktar)

“Untuk barang bukti berupa balok timah, pihak majelis kembalikan kepada pihak JPU guna penyidikan dan  persidangan terhadap calon tersangka dan terdakwa Martin als Fatin dan Ahau,” tegasnya.

Dalam sidang sebelumnya, pihak JPU dalam tuntutan yang diketuai oleh Samhori, menyatakan kejadian tersebut pada bulan September 2017 lalu. Dimana Joko Surono selaku kepala Rubasan sebelum memindahkan barang bukti timah tersebut telebih dahulu berkomunikasi dengan Ahau (bos timah Kampung Dul). Ahau dikatakan siap untuk menampung barang bukti tersebut dengan cara melalui seorang anak buahnya terlebih dahulu menggantikan (barang bukti ) dengan timah palsu.

“Anak buah Ahau yakni Martin/ Patin terlebih dahulu mencetak barang serupa dari gudang milik Ahau di Kampung Dul. Setelah itu malam hari barang bukti ditukar, lalu dengan mobil dinas timah itu dibawa ke gudang timah Ahau di Kampung Dul itu.  Usai barang datang terdakwa sempat menelpon Ahau memberitahukan kalau timah asli datang ke gudang, lalu terdakwa pulang,” ungkap Samhori di sidang tuntutan terhadap terdakwa Joko.

Masih lanjut Samhori, di bulan Oktober akhirnya kasus ini terungkap oleh pihak Kejaksaan Negeri Pangkalpinang dan Surono sempat mempertanyakan kepada Ahau kenapa kasus ini sampai berproses hukum.  Ahau ketika itu, sempat “memberi jaminan” akan mengurus ke pihak Kejaksaan.

“Setelah pemeriksaan oleh Kejaksaan, Joko menghubungi Ahau. Lalu   mengatakan kok masalahnya jadi begini. Lalu dijawab Ahaw nanti akan diselesaikan dengan pihak Kejaksaan dan tenang saja,” ungkap Samhori.

Usaha Joko agar kasus ini tidak diproses, Joko juga sempat bertemu berdua dengan Ahau langsung di rumahnya di Kampung Dul pada Sabtu pagi (21 Oktober 2017) guna membicarakan nasib yang menimpa Joko yang sudah dijadikan tersangka.  “Hari berikutnya Ahau sempat ditanya lagi oleh Joko bagaimana penyelesaian dengan Kejaksaan. Lalu dijawab Ahau dirinya sedang di Kejaksaan sedang mengurus kasus tersebut. Hingga akhirnya pada waktu-waktu berikutnya lagi Joko sempat menelpon Ahaw tapi tak pernah diangkat lagi,”  ungkap Samhori di persidangan sebelumnya. (Romli Muktar)