Meskipun Kabur, Bos Timah Ahau Pasti Ditangkap

Forumkeadilan.com, Pangkalpinang – Perintah PN Tipikor Pangkalpinang kepada Jaksa Kejari Pangkalpinang untuk menyeret bos timah Ahau dan pegawai Martin ke meja hijau ditanggapi Plt. Kajari kota Pangkalpinang Meiza Khoirawan.

Atas putusan majelis hakim menurut Meiza pihaknya harus menetapkan Ahau sebagai tersangka guna disidangkan sama seperti Joko Surono. Kalau tidak penyidiknya terancam diperiksa dan disanksi oleh pengawasan Kejaksaan Agung RI. “Pasti dilaksanakan, gak berani gak melaksanakanya. Karena bisa menyidiknya diperiksa, bahaya,” kata Meiza Khoirawan di Kejati Babel, Jum’at (23/2/2018).

Ahau yang diduga kini telah kabur dari rumahnya dikatakan Meiza pasti segera ditangkap. Tetapi dia berharap agar Ahau kooperatif saja. “Daripada ditangkap seperti Beno, mending kooperatif saja. Penyidikan akan segera kita lakukan, karena barang bukti telah dikembalikan kepada kita oleh majelis,” tandasnya.
Ketika disinggung soal tudingan terhadap pihaknya yang terkesan melindungi Ahau dan Martin sehingga keduanya sempat tidak dijadikan tersangka dalam perkara kasus penggelapan barang bukti (BB), Meiza membantahnya. Menurut Meiza pihaknya selaku penyidik, awalnya memang tak memeriksa apapun terhadap Ahau dan Martin.

“Bukan melindungi tetapi memang tidak diperiksa di awal penyidikan. Karena kata penyidiknya, Ahau tak terlibat dalam korupsi ini. Makanya kami hanya menetapkan Joko Surono saja,” elak Meiza saat dicecar wartawan soal kenapa Ahau terkesan dilindungi.

Diketahui sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Pangkalpinang, diketuai Sri Endang Amperawati Ningsih, dengan anggota Siti Hajar Siregar dan Haridi telah menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara. Hukuman ini jauh lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Pangkalpinang yang hanya 1 tahun penjara. Meskipun demikian mantan kepala Rubhasan kota Pangkalpinang akhirnya puas setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Tipikor Pangkalpinang memerintahkan pihak jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Pangkalpinang untuk menetapkan tersangka dan terdakwa baru dalam pusaran korupsi barang bukti timah sitaan negara di Rubhasan yang telah merugikan keuangan negara senilai Rp 435 juta. 2 (dua) calon “penerus” Joko tersebut yakni bos timah Ahau dan Martin als Fatin.

Dalam putusan majelis hakim menyatakan terdakwa dalam melakukan perkara ini tidaklah sendirian melainkan telah dibantu oleh Martin als Fatin selaku anak buah Ahau (bos timah Kampung Dul). Hal ini telah terkait dengan pasal 55 ayat 1 KUHP perkara ini telah dilakukan bersama-sama sehingga tersangka dan terdakwa baru harus segera ditetapkan oleh jaksa penuntut umum.

Plt Kajari, Meyza Khoirawan (romli Muktar)

Dikatakan peran pihak lain dalam perkara ini sudah sangat jelas dan terang. “(Dari fakta) untuk urusan Kejaksaan nanti Ahau yang akan menghubungi dan menyelesaikanya. Sedangkan Martin als Fatin (anak buah Ahau) merupakan orang yang sering mengambil barang bukti yang sudah dieksekusi oleh pihak Kejaksaan. Tetapi bagi majelis Martin als Fatin hanyalah perpanjangan tangan dari bos Ahau,” putusan majelis.

Dikatakan juga dalam pusaran perkara terdakwa Joko Surono juga sudah pernah berhubungan dengan Ahau. “Maka dari itu semua wajib bagi jaksa penuntut umum untuk melakukan penyidikan bagi pihak-pihak yang terkait atau yang bekerja sama dengan terdakwa. Karena terdakwa sudah sangat jelas telah menyebut nama-nama orang yang telah bekerjasama dengan terdakwa. Bahkan Ahau sendiri sudah berjanji bisa menyelesaikan kasus ini langsung kepada pihak Kejaksaan,” ungkapnya.

Apapun alasanya semua orang berkedudukan sama di mata hukum dan keadilan oleh karena itu maka untuk menjunjung tinggi rasa keadilan penuntut umum harus mengusut tuntas Martin als Fatin selaku pembuat barang bukti palsu dan Ahau penampung barang bukti timah milik Kejaksaan Negeri Pangkalpinang. “Sekaligus menjadi rekan terdakwa Joko Surono dalam perkara ini. Karena akan mengusik rasa keadilan yang telah ditunggu-tunggu terdakwa ataupun masyarakat luas apabila hanya ditanggung terdakwa Joko Surono sendiri,” tegas majelis hakim.

Masih kata Sri Endang, agar kasus ini juga terang menderang maka Ahau dan Martin als Fatin segera ditetapkan sebagai tersangka dan segera disidangkan.

“Majelis hakim juga mengembalikan barang bukti timah kepada pihak JPU guna penyidikan dan persidangan terhadap calon tersangka dan terdakwa Ahau dan Martin als Fatin,” tegas ketua majelis hakim lagi.
Sementara itu Joko Surono mengaku lega walau harus menjalani 2 tahun hukuman. Sebab keadilan hukum telah ditorehkan oleh majelis hakim. Dia mendesak agar jaksa penyidik Kejaksaan Negeri Pangkalpinang segera memanggil dan memeriksa Ahau dan Martin als Fatin.

Sebab menurutnya sedari awal 2 calon tersangka dan terdakwa itu memang tidak pernah menjalani pemeriksaan. “Sementara ini saya apresiasi pada majelis hakim. Sedangkan kepada jaksa-jaksa penyidik saya berbaik sangka saja dulu, soal kenapa Ahau dan Martin itu tidak ditetapkan tersangka bahkan tidak diperiksa,” ujar Joko usai menjalani persidangan dan menuju sel tahanan.