Ilmu Kebal dan Kekebalan Hukum Adalah Ajaran Setan

 

Priyono B. Sumbogo     

Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak pernah memberikan ilmu kebal kepada para Nabi, sejak Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Dan para Nabi sendiri tidak pernah belajar ilmu kebal, tidak pula mengajarkan ilmu sejenis itu kepada ummatnya.

Pada Perang Uhud gigi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam patah. Bahkan Nabi Muhammad menderita luka-luka ketika masuk ke dalam sumur perangkap yang disediakan musuh. Nabi Yahya Alahissalam kepalanya dipenggal dan dijadikan mahar (maskawin) oleh raja kafir yang dzalim.

Sayyidina Hamzah ditombak oleh Wahsi seorang hamba sahaya milik Hindun, kemudian oleh Hindun jantung sayyidina Hamzah dicincang-cincang dengan penuh dendam. Sayyidina Umar ketika sedang shalat terbunuh dengan pisau (semacam pisau belati) oleh Abu Lu’ Lu’ seorang majusi yang pura-pura masuk Islam.

Sayyidina Utsman bin Affan terbunuh oleh demontran yang terhasut provokasi Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Padahal ketika itu sayyidina Utsman bin Affan sedang menjalankan ibadah shaum. Sayyidina Ali ditusuk oleh Abdurahman bin Muljan seorang khawarij.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan ilmu kebal kepada para Nabi sekalipun. Bila kepada para Nabi saja tidak, apalagi kepada orang biasa.

Memang ada sebuah riwayat mengenai ilmu kebal yang dimiliki al-­Harits ad-Dimasyqi yang muncul di Syam pada masa pemerintahan ‘Abdul Malik bin Marwan. Al Harits juga mengaku  sebagai nabi. Setan-setan telah melepaskan rantai-rantai yang melilit di kedua kaki­nya, membuat tubuhnya menjadi kebal terhadap senjata tajam, menjadikan batu marmar bertasbih saat disentuh tangannya, dan ia melihat sekelompok orang berjalan kaki dan menunggang kuda terbang di udara seraya berkata ia adalah malaikat padahal jin.

Ketika kaum muslimin berhasil menangkap al-Harits ad-Dimasygi untuk dibunuh, seseorang menikamkan tombak ke tubuhnya, namun tidak mempan. Maka ‘Abdul Malik bin Marwan berkata kepada orang yang menikam al-Harits: “Itu adalah karena engkau tidak menyebut Nama Allah Ta’ala ketika menikamnya.”  Maka sang penikam mencoba lagi menikam al Harits dengan terlebih dahulu membaca bismillah. Dan tewaslah al-Harits seketika.

Bagaimana dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam yang tidak terbakar ketika dimasukkan ke dalam kobaran api oleh raja Namruz? Sebagai Nabi Allah yang sedang menegakkan kalimat Allah (agama Tauhid), Allah memberikan karomah kepada baginda, dengan cara munajat kepada Allah supaya api untuk tidak membakar Ibrahim.

Karomah itu diberikan Allah sebagai jawaban atas doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Karomah yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam bukanlah ilmu kebal, karena tidak boleh dipelajari (bersifat spontan) dan tidak dipertontonkan. Juga tidak dapat diulang kembali, karena tidak permanen. Hari-hari berikutnya Nabi Ibrahim tetap merasa panas bila dijilat api.

Bahkan Nabi pun tidak kebal dari hukuman. Nabi Yunus dihukum Allah SWT karena meninggalkan umatnya. Ketiak berlayar dia ditelan ikan paus. Di dalam perut ikan ia senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahannya. ”Laa ilaha illa Anta, Subhanaka inni kuntu min al-zhalimin (Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zalim),” demikian doa Yunus sebagaimana termaktub dalam surah Al-Anbiyaa’ ayat 87.

Jelaslah bahwa Allah SWT tidak membenarkan ilmu kebal. Juga tidak memberikan kekebalan hukum kepada manusia, sekalipun kepada Nabi.

Lantas darimana para pemilik ilmu kebal mempelajarinya? Sudah tentu seperti yang dilakukan al-­Harits ad-Dimasyqi, yang belajar ilmu kebal  dari setan-setan yang dipuja dengan ritual tertentu.

Sekarang para wakil rakyat membuat undang-undang yang memberikan mereka imunitas atau kekebalan. Untuk menindak mereka secara pidana, pelaksana hukum harus meminta izin dari Presiden. Dan Presiden baru bisa memberikan izin bila ada rekomendasai dari Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) bentukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sendiri.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut para terduga kasus korupsi di kalangan wakil rakyat. Padahal dalam berbagai survey lembaga ini menempati urutan atas sebagai lembaga terkorup.

Jika Nabi Yunus pun dihukum, lantas darimana para wakil rakyat itu bernafsu memiliki kekebalan? Sudah tentu bukan karena bisikan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan dari setan yang menyusup ke hati dan pikiran mereka. Karena disusupi setan, maka akan semakin banyak wakil rakyat yang  korupsi atau bicara seenaknya.

You might also like