Jalur Laut Paling Rawan Penyelundupan Narkotika

Tertangkapnya para penyelundup lebih dari 1 ton sabu oleh TNI AL di Batanm menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara tujuan para bandar narkoba internasional dan 80 persen menggunakan rute laut mulai timur Sumatera hingga timur Kalimantan dan Barat Kalimantan, kata Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Arman Depari.
Arman Depari di Batam, Sabtu, mengatakan pihaknya bersama institusi lainnya terus berupaya menekan dan menghilangkan sindikat jaringan narkoba internasional yang mencoba masuk ke Indonesia.
“Negara kita benar-benar menjadi target sindikat narkoba internasional, saat ini sindikat Iran, Afrika barat, Nigeria sudah jarang masuk ke Indonesia,” katanya.
Tetapi, lanjut Arman, yang saat ini masih sangat aktif, adalah jaringan sindikat narkoba dari Malaysia, Taiwan, Tiongkok, Myanmar, Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya masih kerap mencoba menyusup ke Indonesia.
Jalur favorit para sindikat barang haram tersebut, adalah rute laut dan itu menjadi konsen bersama semua institusi penegak hukum terutama TNI Angkatan Laut. Karena BNN kata Arman tidak mempunyai kapasitas untuk mengamankan garis pantai Indonesia.
“Maka saat kita operasi dengan segala hormat kita meminta bantuan dari TNI AL dan itu cepat sekali direspon. Maka hasil operasi yang baik ini bisa kita saksikan sekarang,” ujar Arman.
Menurut Arman, jalur laut yang rawan dimasuki sindikat narkoba internasional mulai dari pantai timur Pulau Sumatera yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung kemudian Provinsi Kepri dan ke pantai timur Pulau Kalimantan dan pantai barat Kalimantan.
“Angkatan Laut Laut benar-benar menjaga dan bertindak keras di wilayah ini dan sekarang kita harus waspadai mereka jika akan bergeser lebih ke timur lagi,” katanya.
Tetapi kata Arman, kondisi ini tidak hanya dirasakan Indonesia tapi juga negara Asia lain. BNN kata Arman akan terus menjalin kerjasama dengan TNI AL dan seluruh pemangku kepentingan lainnya agar seluruh garis pantai Indonesia terawasi dengan baik.
Arman menduga akan masih ada sindikat internasional yang akan tetap mensuplai narkotika ke Indonesia. Tiongkok dan Filipina katanya saat ini mengeluarkan kebijakan yang sangat keras terhadap upaya-upaya peredaran gelap narkoba.
“Ini tentu akan membuat pasar narkoba di negara mereka akan menjadi berkurang karena itu kita harus waspada, karena bisa saja akan memasuki pasar Indonesia,” katanya.
Para sindikat narkoba internasional, kata Arman dinilai sangat besar karena jumlah penduduknya yang mencapai 250 juta dan 20 persennya adalah generasi muda yang sangat potensial untuk menjadi penyalahguna narkoba.
“Kemajuan ekonomi Indonesia yang saat ini pertumbuhannya 5,1 persen membuat mereka mempunyai anggapan bahwa di Indonesia ada uang,” katanya.