Ustad Bersuara Menggelegar

 

Orangnya kerempeng, tampilan sederhana, tapi suaranya menggelegar. Itulah Ustadz Abdul Somad. Ceramahnya bernas. Retorika tajam, diksi gamblang, detail dan argumentatif, tegas, toleran dalam fiqih. Spirit dakwahnya menyala-nyala dalam balutan dialek Riau yang khas.

Semua itu membuat ceramah Ustadz Abdul Somad begitu mudah dicerna dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Banyak dari ceramah Ustadz Abdul Somad yang mengulas berbagai macam persoalan agama. Dan bahkan bukan itu saja, ceramah Ustadz Abdul Somad juga banyak yang membahas mengenai masalah-masalah kekinian, nasionalisme dan berbagai masalah yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat.

Di dunia nyata maupun di dunia maya nama Ustadz Abdul Somad kini banyak dicari orang. Mereka mencari mencari informasi siapa sebenarnya profil dan biodata Ustadz Abdul Somad ini. Selain begitu banyak orang yang penasaran dengan nama Ustadz Abdul Somad, tak sedikit pula yang mencari berbagai kajian dan ceramah Ustadz Abdul Somad.

Lahir di Silo  Asahan Sumatera Utara 18 Mei 1977umur 40 tahun)  adalah seorang pendakwah dan ulama Indonesia yang sering mengulas berbagai macam persoalan agama, khususnya kajian ilmu hadis dan Ilmu fikih. Selain itu, ia juga banyak membahas mengenai nasionalisme  dan berbagai masalah terkini yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat. Namanya dikenal publik karena Ilmu dan kelugasannya dalam memberikan penjelasan dalam menyampaikan dakwah yang disiarkan melalui saluran Youtube Ustadz Abdul Somad saat ini bertugas sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.

Sejak dari bangku sekolah dasar dirinya dididik melalui sekolah yang berbasis pada Tahfiz Alquran. Tamat dari SD Al-Washliyah Medan tahun 1990, ia melanjutkan pendidikannya ke MTS Mu’allimin al-Washliyah Medan. Setelah tamat tahun 1993, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darularafah Deliserdang Sumatera Utara selama satu tahun. Lalu tahun 1994, ia pindah ke Riau  untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu dan menyelesaikannya di tahun 1996. Tahun 1996–1998 ia kuliah di UIN SUSKA Riau.

Tahun 1998, ia merupakan salah satu dari 100 orang yang menerima beasiswa yang dibuka oleh Pemerintah Mesir untuk orang indonesia belajar di Universitas Al-Azhar mengalahkan 900-an orang lainnya yang mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Abdul Somad mendapatkan gelar Lc-nya dalam waktu tiga tahun 10 bulan.

Kemudian pada tahun 2004, kerajaan Maroko menyediakan 15 beasiswa bagi pendidikan S2 di Institut Dar Al-Hadis Al-Hassania yang setiap tahunnya hanya menerima 20 orang murid dengan rincian 15 orang Maroko dan lima orang untuk asing. Abdul Somad pun terpilih untuk masuk dalam kuota penerimaan 5 orang asing tersebut melalui jalur beasiswa S2 yang diselesaikannya dalam waktu satu tahun 11 bulan.

Tapi ada pula yamg menuduh Ustad Somad anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kebhinekaan. Beberapa hari terakhir juga beredar ultimatum kepada Ustadz Abdul Somad untuk tidak mendakwahkan hal-hal yang bertentangan dengan kebhinnekaan. Namun, Abu Janda mengatakan ultimatum yang mencatut namanya itu hoax.

Dalam ceramahnya di Pontianak dan diunggah oleh fan page Jama’ah Ustadz Abdul Somad, Rabu 8 November 2017, Ustadz Abdul Somad menyinggung tentang tuduhan anti kebhinnekaan.

Ustadz Abdul Somad mengajak umat Islam agar mengajarkan sejarah Islam dan para ulama kepada anak-anak sebagai generasi masa depan. “Anak cucu kita harus tahu sejarah itu. Jangan sampai ketika nanti diteriakkan, ‘Syariat Islam, Pemimpin Islam, Allahu Akbar’ tiba-tiba anak keponakan kita malah berbisik, ‘anti kebhinnekaan.’” Ustadz Abdul Somad mengingatkan.

Ustadz Abdul Somad pun mengambil perbandingan, non muslim yang memegang pilihan berdasar agama mereka tidak dituduh anti kebhinnekaan. Contohnya masyarakat Bali saat menolak Ahok usai kalah di Pilkada DKI Jakarta. “Sedangkan Bali tidak mau menerima Ahok padahal sama-sama tak sunat,” lanjut Ustadz Abdul Somad.

Masyarakat Bali waktu itu, kata Ustadz Abdul Somad, memang tidak menolak Ahok karena kafir. Mereka menggunakan istilah lain yang lebih lembut. “Kalau ada orang Bali ya orang Bali saja,” kata Ustadz Abdul Somad menirukan alasan mereka.

 Ustadz Abdul Somad, memberikan keterangan terkait kejadian di Bali, yakni ketika ceramahnya sempat dilarang oleh organisasi masyarakat Komponen Rakyat Bali (KRB). Pelarangan ini karena, Ustadz Somad dinilai oleh KRB sebagai dai yang tidak cinta NKRI.

Ustadz Abdul Somad di Aceh, Masjid Raya Baiturrahman 27 Desember 2017 (youtube)

Ustadz Somad dalam siaran persnya  Minggu 10 desember 2012 menceritakan bahwa dia diminta berikrar oleh Ormas KRB di rumah kebangsaan. “Saya menolak karena, saya bukan pemberontak, saya tidak terdaftar di ormas terlarang, saya mendapat beasiswa Mesir-Indonesia tahun 1998 setelah lulus Pancasila dan P4.

Saya lulus tes PNS 2008 karena bukan anti Pancasila. “Sampai sekarang mengajarkan cinta kebangsaan dari kampus sampai desa terpencil,” kata Ustadz Somad.

Ustadz Somatd menjelaskan  pada Jumat 8 Desember 2017 pukul 16.00 Wita, dirinya ketika beristirahat di kamar Hotel Aston, dirinya dibangunkan “Saya curiga akan ‘disidang’. Saya minta kepada tim untuk membeli tiket. Kita pulang, karena ini di luar kesepakatan. Kelihatannya kita dijebak.” “Saya dibawa ke salah satu ruangan hotel. Disana sudah menunggu sekitar 10-15 orang,” ungkapnya.

“Mereka meminta saya berikrar. Saya klarifikasi bahwa semua yang dituduhkan ke diri saya adalah fitnah. Karena saya menolak berikrar, mereka melontarkan kata-kata tidak layak: ‘Ngeles!’, ‘Seperti PKI’, ‘Panitia mendatangkan Ustadz otak SD’, ‘Pulangkan saja!’, dan lain-lain,” ungkapnya.

“Saya memilih pulang. Saya kembali ke kamar hotel untuk siap-siap pulang,” paparnya.

Sekitar pukul 17.00 WITA, Ustadz Somad lanjut cerita. Saat itu Ketua PW NU Bali yang dari awal mendampingi, menangis, memikirkan apa yang akan terjadi kalau Ustadz Somad pulang. Dari pihak hotel menyampaikan bahwa situasi di seputaran hotel (lobby, halaman) tidak terkendali, massa KRB demo penolakan, hotel tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Seorang Bapak Polisi masuk menyampaikan ada jalan belakang hotel menuju mobil jika ingin meninggalkan hotel karena pintu depan tidak terkendali,” ungkapnya.

“Kapolresta Denpasar dan Dandim masuk, meminta agar mempertimbangkan, selamatkan umat. Di Masjid An-Nur sudah ada 5.000-an jamaah yang siap datang ke hotel. Situasi memanas dan mencekam.”

Sekitar pukul 18.00 WITA, “Bismillah. Saya dan semua yang ada di kamar menuju ruangan mediasi awal. Pak Kapolres memberikan sambutan singkat. Gus Yadi membawa bendera, dicium semua yang ada di ruangan,” tuturnya.

“Kami keluar ruangan menuju lobby hotel. Pengunjuk rasa bergemuruh. Pengawalan ketat,” katanya.

Pengunjuk rasa tetap berteriak: ‘Nyanyikan dari hati, jangan di mulut saja!’. Menyanyikan Indonesia Raya. Saat bersalaman mereka menarik dan mencengkeram kuat. “Setelah usai, kami kembali ke kamar,” katanya.

Selepas Isya, Ustadz Somad dan tim menuju Masjid An-Nur, ceramah 100 menit. Dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW itu, hadir Raja Bali DR. Ida Cokorde Pemecutan XI dan beberapa tokoh Hindu.

Pada Minggu 10 Desember 2017 katanya, selepas shalat Shubuh Ustadz Abdul Somad didampingi MUI, GNPF dan Kepolisian menuju airport. “Mereka (Ormas KRB) masih memunculkan berita-berita di Medsos bahwa dirinya menolak ikrar karena benar anti NKRI,” katanya.

Bahkan, kata Ustadz Somad, mereka menuduh dirinya melalui media sosial, sudah menerima dan makan uang honor dari panitia, sehingga dirinya tidak berani pulang. “Saya sampaikan ini fitnah.

Semua honor di Bali sudah saya kembalikan ke Ketua Panitia, Kami orang Riau walau tidak kaya masih tumbuh sebatang dua batang pokok sawit yang menghantarkan kami ke Cairo tahun 1998 saat 1 Dolar Rp20.000 karena ongkos dibebankan ke siswa,” katanya menegaskan.

Oleh karena banyaknya berita fitnah tersebut viral di medsos, Ustadz Somad meminta aparat untuk mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang sudah merusak Kebhinekaan yang terjaga di Bali selama ini. “Hadirnya Raja Bali DR.Ida Cokorde Pemecutan XI dan beberapa tokoh Hindu pada tabligh akbar tadi malam membuktikan bahwa para provokator ini tidak mewakili rakyat Bali,” jelasnya.

“Agar muslim Bali membentuk Aliansi Muslim Bali untuk menjaga interen dan eksteren tetap menjaga kerukunan dengan saudara Hindu Bali untuk mengantisipasi para provokator yang dapat merusak kerukunan di masa akan datang,” harapnya. “NKRI Harga Mati,” tegas Ustad Somad.

 

BOKS:

Dosen Dan Penulis Buku

Pasca lulus dari Maroko, Ustadz Abdul Somad hingga saat ini aktif mengabdikan diri sebagai dosen dan berbagai lembaga kemasyarakatan.

  • Dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sultan syarif Kasi Riau
  • Dosen Tafsir dan Hadis di Kelas Internasional Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau
  • Dosen Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Yayasan Masmur Pekanbaru
  • Anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode 2009–2014
  • Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode 2009–2014
  • Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode 2009–2014
  • Perbuatan Maksiat Penyebab Kerusakan Rumah Tangga (Judul Asli: Al-Ma’ashi Tu’addi ila Al-Faqri wa Kharab Al-Buyut), Penulis: Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2008.
  • 55 Nasihat Perkawinan Untuk Perempuan, (Judul Asli : 55 Nashihat li al-banat qabla az-zawaj), Penulis: DR. Akram Thal’at, Dar at-Ta’if, Cairo. Diterbitkan oleh Penerbit Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, April-2004.
  • 101 Kisah Orang-Orang Yang Dikabulkan Doanya (Judul Asli: 101 Qishash wa Qishah li Alladzina Istajaba Allah Lahum Ad-Du’a’, Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Azzam – Jakarta, Desember 2004.
  • 30 Orang Dijamin Masuk Surga (Judul Asli: 30 al-mubasysyarun bi al-jannah), DR.Mustafa Murad, Dar al-Fajr li at-Turats,Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Juli-2004.
  • 15 Sebab Dicabutnya Berkah (Judul Asli: 15 sabab min asbab naz’ al-barakah), Penulis: Abu Al-Hamd Abdul Fadhil, Dar ar-Raudhah-Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Agustus-2004
  • Indahnya Seks Setelah Menikah (Judul Asli : Syahr al-‘asal bi la khajal), DR. Aiman Al-Husaini, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Progresif, Jakarta, September 2004.
  • Beberapa Kekeliruan Memahami Pernikahan (Judul Asli: Akhta’ fi mafhum az-zawaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Progresif- Jakarta, September 2004.
  • Sejarah Agama Yahudi (Judul Asli: Tarikh ad-Diyanah al-Yahudiyyah), diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar, Jakarta, Desember 2009.

Ustadz Abdul Somad juga telah menuliskan beberapa buku yang menjadi best seller di kalangan ummat islam, di antaranya:

  • 37 Masalah Populer
  • 99 Pertanyaan Seputar Sholat
  • 33 Tanya Jawab Seputar Qurban