“Tolonglah Jangan Digoreng Ke Wilayah Politik”

 

Ustaz Abdul Somad menjadi fenomena di tanah air akhir-akhir ini. Di Bali beberapa waktu lalu menjadi gaduh, kemudian ia ditolak masuk ke Hongkong. Kenapa seorang ustad Abdul Somad menjadi momok dan viral di dunia media sosial?
Sampai-sampai fenomena Ustaz asal Pekanbaru ini menjadi pembicaraan dalam Seminar Nasional Keislaman dan Kebangsaan di Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta, Rabu (27/12/2017).

Berikut pendapat tertulos Ustad Soleh Sofyan, Wakil Sekjen Ittihadul Mubalighin (Persatuan Mubaligh Indonesia).

Apa tanggapan, Anda terhadap fenomena Ustad Abdul Somad? 

Fenoma seperti ini biasa saja di era ketebukaan, dan ini pernah terjadi pada ustadz-ustadz sebelumnya yang begitu booming di media elektronik dan media sosial, masing-masing membawa nilai kekhasan tersendiri dalam mengusung nilai dakwah yang dia sampaikan, dalam hal ini fenomena ustadz Abdul Somad menjawab kebutuhan umat yang selalu mencari jawaban atas persoalan agama di media sosial dan ustadz Abdul Somad mampu memenuhi kebutuhan umat itu dengan lugas dan mendalam. Kita harus syukuri. Walaupun disisi lain timbul kekhawatiran ttg fenoma umat yang lebih suka ngaji via Google dan youtube dibanding langsung mendatangi para Guru di masjid atau majelis Ta’lim.

 

Anda pernah pengalaman berceramah di Hongkong, apa yang Anda rasakan, apakah ada kesamaan dengan Ustad Abdul Somad?

TKW Hongkong memang paling aktif mendatangkan para dai untuk berceramah di Hongkong hampir setiap minggu, dengan jumlah TKI tidak kurang dari 200.000 mereka membentuk majelis ta’lim yang jumlahnya puluhan, dan saya pikir perlakuan terhadap para ustadz relatif sama.

 

Tahun 2011 pasca peristiwa Bom WTC Amerika, kami pernah mengalami hal serupa, salah satu di antara kami harus dideportasi hanya karena namanya mirip dengan salah satu terduga teroris.

 

Bagaimana pandangan organisasi mubaligh Indonesia terhadap kasus Ustad. Abdul Somad, sudah sejauh mana kepedulian sesama mubaligh? 


Tentu kita prihatin dengan mendalam, sebenarnya peristiwa pemulangan dai dari Hongkong bukan kali ini saja, karena memang negara yang bebas Visa seperti Hongkong biasanya memiliki standart kehati-hatian yang sangat tinggi kalau tidak kita bilang “terlalu lebay”, hanya karena kartu nama berlogo arab saja bsa jadi masalah san berujung deportasi

 

Sebagai organisasi mubaligh kita selalu mensosialisan hal-hal seperti ini, dan yang perlu di catat Hongkong memberikan peraturan larangan menerima honor ketika kita menghadiri acara di Hongkong. Kalaupun panitia memberikan honor harusnya via transfer, sekali lagi ini faktor teknis, tapi kalau salah jawab di imigrasi, akan menjadi masalah dan ancamannya deportasi.

 

Dalam peristiwa itu, apakah ada muatan politis atau bagaimana tad?

Kita ber andai-andai sebelum medapatkan jawaban langsung dari otoritas di Hongkong dan ini tugas pemerintah dalam hal ini kemenlu RI.  Tolong lah kasus-kasus begini jangan digoreng-goreng terus di paksa masuk pada wilayah politik. Kasian bangsa ini terlalu panas suasananya karena kebanyakan tukang gorengan hahahaha.

 

Menurut Anda, pemerintah Indonesia harus melakukan apa terhadap kasus ini, apalagi para petinggi partai, anggota dewan mengecam keras tindakan otoritas bandara Hongkong terhadap ustad terkenal itu?

 

Memang ini hak imigrasi Hongkong mencekal atau meloloskan seseorang masuk kenegara mereka, tapi sebagai negara yang berdaulat dan memiliki harga diri, kitapun berhak menuntut hak jawab dari otoritas Hongkong. dalam hal ini kemenlu yang harus lebih aktif memperjuangkan warganya mendapatkan hak jawabnya dlm hal ini ustadz abdul somad.

 

Sejauh ini apakah Anda kenal dekat dengan ustd Abdul Somad, bagaimana pandangan Anda sosok ustd Abdul Somad?

 

Kenal sebagai sesama Dai, kita ada di satu organisasi di Ittihadul Mubalighin, beliau menjabat menjadi dewan penasehat. Sementara saya diwasekjen, Satu organisasi nasional yang konsen begerak di bidang dakwah dengan anggota & cabang hampir ada di setiap propinsi

 

Bagaimana peran organisasi Anda terhadap penzaliman para dai bila ingin melakukan kegiatan baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti kasus Ustd Abdul Somad, apa yang sudah dilakukan secara konkritnya? Lalu bagaimana MUI berperan?

 

Saya tidak bsa berandai-andai apakah ini kedzaliman atau hanya benturan prosedur imigrasi saja. Tunggulah mudah-mudahan ada pengumuman segera dari pemerintah.