Tak Ada Korban Jiwa, Tapi Gempa Lebak Menghancurkan Lebih 300 Rumah

Gempa tektonik berkekuatan 6,1 Skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Lebak, Banten, Selasa, 23/1/2018 menghancurkan sebanyak 311 unit rumah tersebar di 12 kecamatan.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Madias di Lebak, mengatakan gempa itu terjadi di koordinat 7.21 Lintang Selatan dan 105.91 Bujur Timur pukul 13.35 WIB dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. Pusat gempa berada di laut 81 kilometer Barat Daya Lebak.

Gempa tektonik itu mengakibatkan kerusakan rumah milik masyarakat, namun beruntung tidak menimbulkan korban jiwa.

Pusat Gempa

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD dari sejumlah kecamatan sampai pukul 17.30 WIB tercatat 311 rumah terdiri dari 277 unit mengalami kerusakan ringan dan 34 unit rusak berat.

Dari 311 rumah itu tersebar di 12 antara lain Kecamatan Bayah 41 unit, Panggarangan 92 unit, Cilograng 15 unit, Lebak Gedong 11 unit dan Sobang dua unit.

Begitu juga di Kecamatan Cimarga dua unit, Sajira satu unit, Cijaku 120 unit, Bojongmanik tiga unit, Cihara satu unit dan Cirinten enam unit. “Kami hingga kini belum menerima laporan korban jiwa akibat gempa itu,” katanya.

Menurut dia, BPBD kini menerjunkan petugas kebencanaan dan tim relawan tangguh ke lokasi pusat gempa di pesisir selatan yang langsung berhadapan Perairan Samudera Hindia.

Pusat gempa itu berlokasi di pesisir selatan Lebak guna melakukan evakuasi juga penyelamatan warga yang terkena bencana alam tersebut.

Sebab, lokasi gempa tektonik itu cukup jauh hingga mencapai 140 kilometer dari Rangkasbitung Ibu Kota Kabupaten Lebak.

Bahkan, Gubernur Banten Wahidin Halim dan Bupati Lebak Iti Octavia tengah meninjau lokasi pusat gempa di pesisir selatan.

“Kami berharap jumlah kerusakan rumah tidak bertambah lagi,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Kabupaten Lebak hingga kini tidak ditemukan pasien korban reruntuhan rumah yang terkena gempa tektonik.

“Kami belum menemukan ada pasien yang dirawat terkena reruntuhan rumah akibat gempa tektonik berkekuatan 6,1 SR,” ujar Dani (40) seorang pegawai RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.

Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan 115 rumah di Banten rusak.
“Sementara satu masjid rusak dan satu puskesmas rusak di Lebak,” kata Kepala Pusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan di Kabupaten Cianjur sebanyak enam pelajar luka berat akibat gempa tersebut dan dua pelajar luka ringan akibat tertimba genteng. Selain itu, terdapat satu rumah rusak berat di Desa Tanggeung dan satu rumah rusak berat di Desa Pagermaneuh.

Di Kabupaten Sukabumi, kata dia, terdapat sembilan rumah rusak ringan, satu rumah rusak sedang, satu masjid rusak berat dan dua fasilitas umum kesehatan rusak ringan.

Rumah warga rusak akibat gempa Lebak Banten

Selanjutnya, di Kabupaten Bogor terdapat beberapa rumah dan bangunan rusak di Kecamatan Sukajaya, Kecamata Nanggung, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Caringin dan Kecamatan Cijeruk. Sebanyak tujuh rumah rusak berat dan lima rumah rusak ringan. “Data akan bertambah karena diperkirakan masih terdapat bangunan yang rusak,” katanya.

Dia mengatakan di Jakarta, Tangerang Selatan dan Bogor masyarakat merasakan guncangan gempa dengan skala IV-V MMI yang tergolong ringan hingga sedang. Akibat guncangan itu masyarakat berhamburan keluar bangunan dan rumah.

Masyarakat yang berada di perkantoran, apartemen, hotel dan bangunan yang tinggi, kata dia, merasakan guncangan lebih keras sehingga panik dan berhamburan keluar bangunan. Mereka berkumpul di beberapa tempat yang aman.

“Masyarakat diimbau untuk tenang. Jangan terpancing pada isu-isu yang menyesatkan bahwa akan terjadi gempa susulan yang lebih besar. Iptek belum mampu memprediksi gempa secara pasti. Wilayah Selatan Jawa memang rawan gempa sehingga harus diwaspadai. Saat merasakan guncangan gempa segera keluar rumah atau mencari tempat-tempat yang aman,” kata dia.