Lapas Banda Aceh Kembali Normal, 7 Narapidana Pelaku Kerusuhan Ditangkap

 

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh A Yuspahruddin menyatakan kondisi Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas IIA Banda Aceh sudah kembali kondusif pascakerusuhan diwarnai pembakaran penjara tersebut.

“Kondisi LP Banda Aceh sudah kembali kondusif. Narapidana dan tahanan sudah ditempatkan di sel masing-masing,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh A Yuspahruddin di Banda Aceh, Kamis.

LP Kelas IIA Banda Aceh yang berada di kawasan Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, rusuh dan diwarnai pembakaran bangunan pada Kamis (4/1) sekitar pukul 11.00 WIB.

Akibat insiden tersebut, sejumlah ruang kantor di LP Banda Aceh hangus terbakar. Tidak ada narapidana ataupun tahanan yang menjadi korban jiwa maupun cidera dalam insiden tersebut.

Selain membakar ruangan kantor, penghuni penjara tersebut juga membakar satu unit kendaraan roda empat milik Polresta Banda Aceh. Mobil yang dibakar tersebut merupakan kendaraan penerangan pengendalian massa atau dalmas.

Kerusuhan mampu diredam setelah lebih dari seratus polisi dibantu prajurit TNI mengamankan suasana di dalam penjara tersebut. Namun, lima ruangan di penjara tersebut hangus terbakar kendati delapan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke LP Banda Aceh.

A Yuspahruddin menyebutkan, pihaknya akan melakukan investigasi internal terkait kerusuhan tersebut. Investigasi untuk memastikan penyebab kerusuhan.

Berdasarkan keterangan sementara, kata dia, kerusuhan dipicu penolakan pemindahan tiga narapidana narkoba ke Sumatera Utara. Pemindahan tersebut dalam rangka penertiban di LP Banda Aceh.

“Namun, untuk memastikan penyebab kerusuhan, kami akan melakukan investigasi. Bagi yang terbukti terlibat kerusuhan, akan ditindak tegas,” kata A Yuspahruddin.

Terkait pengamanan pascainsiden, ia mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian meminta dukungan personel. Apalagi kondisi bangunan yang hampir semua ruangan kantor hangus terbakar.

Begitu juga juga dengan pengamanan kunjungan keluarga narapidana maupun tahanan, juga akan koordinasikan dengan kepolisian dalam hal ini Polresta Banda Aceh.

“Kondisi bangunan sebagian hangus terbakar. Jadi akan akan menyulitkan petugas LP melakukan pengamanan. Karena itu, kami koordinasikan dengan kepolisian terkait pengamanan di LP Banda Aceh,” kata dia.

Menyangkut dengan kerugian pascarusuh yang diwarnai dengan pembakaran bangunan, A Yuspahruddin menyebutkan pihaknya belum menghitung secara detail.

“Kerugian akibat kejadian ini belum kami hitung. Begitu juga dengan narapidana dan tahanan, tidak ada yang dievakuasi karena yang terbakar hanya bangunan kantor,” kata A Yuspahruddin.

LP Banda Aceh memiliki kapasitas huni hingga 800 orang. Saat kerusuhan terjadi, penjara Kelas IIA di Provinsi Aceh tersebut dihuni lebih dari 500-an narapidana dan tahanan.

Senada juga diungkapkan Wakil Kepala Polda (Wakapolda) Aceh Brigjen Pol Bambang Soetjahyo. Ia mengatakan mengatakan kondisi LP Banda Aceh sudah berangsur normal,

“Kondisi sudah normal. Tidak ada evakuasi penghuni LP Banda Aceh. Semuanya sudah kembali ke sel masing-masing,” kata jenderal polisi bintang satu tersebut.

Mengenai pengamanan pascakerusuhan, Wakapolda Aceh menyebutkan, pengamanan melibatkan personel Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh.

“Pengamanan pascakerusuhan dibantu satu peleton personel dari Polresta Banda Aceh,” kata Wakapolda Aceh Brigjen Pol Bambang Soetjahyo menyebutkan.

Pasca- kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Banda Aceh, polisi menahan tujuh narapidana yang diduga menjadi provokator kerusuhan di lapas tersebut. Satu di antaranya berinisial GN, seorang napi kasus narkoba yang rencananya akan dipindahkan ke lapas Kelas I Sumatera Utara.

Wakil Kepala Polda Aceh Brigjen Pol Bambang Sutjahyo mengatakan, pihak lapas berencana memindahkan tiga napi narkoba yang sudah divonis 12 hingga 15 tahun penjara, masing-masing berinisial GN, A, dan M.

Ketiga narapidana ini ditengarai sering keluar masuk lapas dengan alasan sakit dan dinilai mengganggu stabilitas lapas. Namun, saat hendak dipindahkan pada Kamis pagi, napi berinisial GN menolak untuk diberangkatkan ke Lapas Kelas I Sumatera Utara, kemudian melakukan aksi yang memicu kerusuhan dan menyebabkan enam ruangan di lapas itu terbakar dan rusak.

“Jadi awalnya petugas lapas dan dibantu polisi mau memindahkan ketiga napi ini, dan rencana pemindahan sudah sejak beberapa waktu lalu. Eksekusinya baru hari ini, tapi ada satu napi yang menolak dan ia pun memicu kericuhan sehingga terjadi aksi pembakaran. Kami sudah menahan napi yang diduga ikut menjadi dalang kerusuhan ini,” jelas Brigjen Pol Bambang, Kamis (4/1/2018).

Ketujuh napi dalang kerusuhan kini sudah ditahan di Mapolda Aceh untuk pemeriksaaan lanjutan.