Dusun Lagelang Yang Tekubur Bagai Gomorah Karena Maksiat

Reruntuhan Sodom dan Gomora telah ditemukan di sebelah tenggara Laut Mati. Nama modernnya adalah Bab edh-Dhra, diperkirakan sebagai Sodom, dan Numeira, diperkirakan sebagai Gomora. Kedua tempat tersebut dihancurkan pada saat yang bersamaan oleh kebakaran yang luar biasa dahsyat. Debu-debu reruntuhan tebalnya sekitar tiga kaki.

Penemuan yang mengejutkan di kuburan di Bab edh-Dhra menyingkap penyebab tersebut. Para ahli arkeologi menemukan bahwa bangunan yang digunakan untuk mengubur terbakar mulai dari atap.

Ada cukup bukti mengenai lapisan di bawah tanah berupa bahan berbasis minyak yang disebut bitumen, serupa dengan aspal, di daerah selatan Laut Mati. Materi seperti itu biasanya mengandung belerang dengan prosentase tinggi.

Ahli geologi Frederick Clapp menjelaskan bahwa tekanan dari sebuah gempa bumi dapat menyebabkan endapan bitumen dipaksa keluar melalui garis patahan. Ketika tersembur keluar dari bumi, endapan tersebut dapat terpicu oleh bunga api atau kebakaran. Semburan itu kemudian akan jatuh ke bumi sebagai materi yang terbakar. Sodom dan Gomora ternyata situsnya terletak tepat di atas garis patahan sepanjang sisi timur dataran di sebelah selatan Laut Mati.

Al-Qur`an menceritakan kaum Nabi Luth yang diazab karena perilaku homoseksualnya. Masyarakat Sadum atau Sodom adalah masyarakat yang rendah moral dan rusak akhlaknya. Mereka tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Maksiat, kemungkaran, pencurian, dan perampasan harta merajalela dalam pergaulan hidup mereka.

Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual atau liwath di kalangan lelaki dan lesbian di kalangan wanita. Musafir yang datang pun tidak selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang berharga, maka dirampaslah barangnya tersebut. Jika ia melawan, maka nyawa menjadi taruhannya. Namun, jika pendatang itu adalah seorang lelaki berwajah tampan dan berparas elok, maka ia akan menjadi rebutan di kalangan laki-laki dari mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan begitu pula sebaliknya.

 

Nabi Luth AS kemudian diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada kaumnya. Dia mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah SWT yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan melarang mereka untuk melakukan kejahatan dan kekejian.

Namun, dakwahnya malah dilawan dengan hati yang keras dan jiwa yang sakit serta penolakan yang berasal dari kesombongan. “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang meperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS: Al-Hijr [15]:

 

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara.

Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.

Bagai Sadum, Indonesia kini sudah dihuni oleh kaum hamoseksual, lesbian, biseksual, dan transgender atau yang populer disebut LGBT yang meminta dilegalkan, disahkan, atau diakui keberadaannya secara hukum. Jadi untuk dihancurkan bagai Sodom dan Gomorah sangat besar.

Kita juga punya cerita tentang hubungan antara fenomena alam degan  kemaksitan. Ada daerah yang terkyubur akibat bencana tanah longsor, yakni Dusun Legetang yang terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dusun Lagetang tersebut hilang akibat tertimbun longsor secara tiba-tiba yang terjadi pada 16 April 1955.

Kisah ini diceritakan secara turun-temurn. Masyarakat di sekitar bekas Lagelang, mengisahkan bahwa penduduk Lagelang terbiasa menjalankan molimo. Madon (main perempuan), mabok, berjudi, maling, melek (begadang).

Berdasarkan cerita setiap malam warga dusun tersebut mengadakan tarian erotis yang dibawakan para penari perempuan sehingga berujung kepada perzinahan.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Saat tengah malam hujan reda. Namun tiba-tiba terdengar suara seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan.

Pagi harinya masyarakat di sekitar dukuh atau Dusun Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-Amun sudah terbelah dan belahannya itu menimbun Dusun Legetang.

Dalam bahasa Ibrani, Sodom berarti terbakar, dan Gomorah berarti terkubur. Lagelang entah apa artinya. Yang pasti sudah terkubur. Apakah kita ingin Indonesia terbakar dan terkubur? Jika tidak, singkirkan kaum LGBT dari Indonesia.