Clarita Disiksa Ibu Kandungnya Hingga Meninggal Di Rumah Sakit

Penderitaan Clarita (9) menahan rasa sakit di sekujur tubuh akhirnya berakhir. Dia mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat 19 Februari 2018, setelah dua hari berjuang dan mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Derah (RSUD) Wamena.

Kondisi tubuh Clarita saat pertama kali dibawa ibunya berinisial R ke rumah sakit sangat memprihatinkan. Dia sudah tidak sadarkan diri sejak awal masuk RS hingga dua hari perawatan dan ajal menjemputnya. Bagian kepala gadis mungil itu penuh luka terbuka dan luka bakar.

Keterangan seorang kerabat korban, Clarita diduga menjadi korban penganiayaan ibu kandungnya. Ibu korban diketahui telah bercerai dengan suaminya seorang anggota brigade mobile (brimob).

“Ini sudah sangat keji. Waktu korban dibawa ke RSUD, R bilang ke dokter anaknya (Clarita) terkena penyakit sarampa. Lalu dokter yang memeriksa kondisi korban membantah dengan mengatakan korban alami penganiayaan, korban diduga mengalami luka bakar sekujur tubuh,” ucap seorang kerabat korban yang enggan menyebutkan namanya.

Kematian Clarita lalu dilaporkan ke Polres Jayawijaya oleh seseorang yang menilai penyebabnya karena tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur. “Kami sudah menerima laporan soal dugaan kekerasan dan sedang diselidiki unit perlindungan perempuan dan anak (PPA),” kata Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba, Sabtu (20/1/2017) siang.

Dia mengatakan, segera memanggil keluarga dekat korban untuk dimintai keterangan, termasuk ibu korban R. Polisi juga akan memeriksa para bidan dan dokter yang merawat anak itu hingga meninggal dunia.

“Kondisi anak ini yang kritis hingga meninggal dunia cukup parah karena di sekujur tubuh dipenuhi luka-luka,”  kata Reba.

Reba menilai, kasus ini tergolong bukan kasus biasa. Kepolisian telah menemukan adanya tindak kekerasan fisik pada anak tersebut. “Kami akan mengonfirmasi dan mencari tahu pelaku yang tega menganiaya. Untuk hasil visum, kami sudah menyurati RSUD Wamena segera menyerahkannya begitu sudah keluar,” tuturnya.

Kasus ini juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya. Wakil Bupati  Jayawijaya Jhon R Banua menyempatkan waktu menengok jenazah korban. Dia sangat menyayangkan tindakan kekerasan pelaku terhadap anak di bawah umur hingga akhirnya tewas. Jhon juga berharap pihak kepolisian segera menangani kasus itu.

“Kami serahkan semuanya kepada kepolisian untuk mengungkap kasus ini sehingga tidak terulang kembali di Jayawijaya,” ucapnya.

Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba mengatakan dari hasil otopsi diketahui bocah Clarita meninggal dunia karena ada penyumbatan darah pada otak sehingga tidak ada asupan oksigen.

“Penyumbatan di otak ini lantaran seringnya kepala korban dibenturkan ke dinding, dan ini memang sengaja dan dilakukan terus berulang kali sehingga kami perkiraan saat dianiaya, kepalanya dibenturkan ke dinding secara berulang kali dalam waktu yang berbeda,” kata Yan di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya usai pemakaman Clarita di Tempat Pemakaman Umum Sinakma.

Yan menyatakan hasil visum lengkap kemungkinan akan dikirim dari Kota Jayapura ke Jayawijaya esok Rabu, 24/1/2018

Dari hasil visum ini polisi menjadi memiliki cukup bukti untuk menjerat pelaku penganiyaan yang menyebabkan Clarita meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUD Wamena.

Walau hasil visum sudah diterima nanti, polisi akan terus melanjutkan penyelidikan untuk memastikan apakah perlakuan kekerasan terhadap anak itu dilakukan oleh satu orang atau lebih.

“Hasil visum akan kita jadikan bukti yang kuat sebagai dasar untuk menindak tersangka yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri, dan dimungkinkan kita juga akan mengembangkan untuk mencari pelaku lain yang terlibat,” kata Yan.

Jenazah Clarita yang sebelumnya dikirim dari Jayawijaya ke Kota Jayapura untuk diotopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, telah dikirim kembali ke rumahnya untuk selanjutnya dimakamkan.