Sri Rahayu Saracen Divonis 1 Tahun Penjara Dalam Kasus Ujaran Kebencian

Saat ini Sri Rahayu dan kuasa hukumnya sedang menyiapkan memori banding atas putusan Pengadilan Negeri Cianjur, Jawa Barat, yang menjatuhkan vonis bersalah atas dakwaan ujaran kebencianyang dituduhkan kepadanya. Sri Rahayu dijatuhihukuman 1 tahun penjara dan denda Rp20 juta.

Namun Sri Rahayu bersama dengan kuasa hukumnya, akan mengajukan banding atas putusan tersebut karena merasa tidak puas. “Saya tidak puas dengan putusan ini, saya banding. Saya tidak diberi kesempatan bicara setelah sidang,” katanya, Senin 18/12/2017 pada wartawan.

Kuasa Hukum Sri Rahayu dari LBH Perempuan dan Anak Cianjur, Nadia Wikerahmawati mengatakan, sangat tidak puas dengan putusan pengadilan karena majelis hakim memutuskan tidak berdasarkan fakta persidangan dan hak asasi manusia.

“Dalam fakta persidangan alat bekerja bukan di Cianjur, melainkan di depok dan Lampung, namun kasusnya ditarik ke Cianjur darimana aturannya. Fakta persidangannya tidak ada, kami akan mengajukan banding,” katanya.

Dia menjelaskan, dalam persidangan yang digelar pada Kamis, 14/12/2017 mulai pukul 15.00 Wib hingga pukul 17.15 Wib itu, berbagai pembelaan dari kuasa hukum dan saksi dari Sri Rahayu ditolak majelis hakim.

Hingga akhirnya, terdakwa tetap diputuskan bersalah atas kejahatan tentang informasi transaksi elektronik.

Sri juga dinyatakan terbukti bersalah dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi menimbulkan kebencian individu dan kelompok berkaitan Suku Agama Ras Antargolongan (SARA) sebanyak beberapa kali.

Sehingga hakim memvonis dengan masa hukuman selama 1 tahun penjara dengan denda Rp, 20 juta atau tidak membayar denda, diganti dengan masa kurungan selama dua bulan.

Kasi Intel Kejari Cianjur, Agus Haryono, mengatakan, atas putusan tersebut, pihaknya berdasarkan aturan diberi waktu 7 hari untuk menyatakan sikap, namun pihaknya menyatakan akan pikir-pikir.

Namun, ungkap dia, jika pihak terdakwa dan kuasa hukumnya melakukan banding, pihaknya akan melakukan kontra memori banding, meskipun tambah dia, dari tuntutan 2 tahun penjara dengan denda Rp 20 juta subsider 3 bulan, putusan majelis hakim lebih rendah.

“Urusan banding itu hak terdakwa, kami akan pikir-pikir sekaligus laporan ke pimpinan apakah menerima atau banding. Tapi memang putusannya lebih rendah dari tuntutan,” katanya.

Sementara itu Humas Pengadilan Negeri Cianjur, Erlinawati, mengatakan, sesuai dengan hasil putusan, Sri Rahayu divonis 1 tahun penjara dan denda Rp 20 juta subsider 2 bulan kurungan jika tidak membayar ganti rugi atau denda.

“Putusan majelis hakim sudah dipertimbangkan dari berbagai aspek yang meringankan ataupun memberatkan dalam kasus tersebut. Kalaupun ada keberatan itu merupakan hal terdakwa,” katanya.

Sidang perdana kasus ujaran kebencian melalui situs Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.com dengan terdakwa Sri Rahayu Ningsih telah digelar di Pengadilan Negeri Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (16/10/2017), dengan agenda pembacaan dakwaan.

Kuasa Hukum Sri Rahayu dari LBH Perempuan dan Anak Cianjur, Nadia Wikerahmawati, mengatakan, dakwaan pertama adalah Sri dituduh melakukan kejahatan sesuai dalam pasal 45 a ayat 1, junto ayat 2 UU RI nomor 19/2016 tentang perubahan UU11/2008 tentang informasi transaksi elektronik.

Dakwaan kedua, Sri dituntut pasal 16 junto pasal 4b (1) UU RI 40/2008 tentang penghapusan diskriminasi ras atau etnis, sedangkan dakwaan ketiga pasal 156 KUHP junto pasal 65 ayat 1 KUHP.

“Awalnya kami akan melakukan eksepsi atas dakwaan tersebut, namun terdakwa membenarkan dakwaan sehingga tidak jadi melakukan eksepsi. Sidang selanjutnya langsung keterangan saksi ahli,” katanya di Cianjur, Senin.