Sidang Dakwaan Setya Novanto Diskors Lagi, Dia Juga Menolak Diperiksa Dokter

Saat ditanya tentang keluhan sakitnya, Setya Novanto menjawab lancar. Tapi ketika sidang dimulai lagi untuk pembacaan dakwaan, terdakwa kasus dugaan korupsi e- KTP itu kembali diam dan tampil lunglai. Akhirnya untuk kedua kalinya majelis hakim menskors sidang.

Setya Novanto kembali ke ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Jakarta, Rabu (13/12/2017) siang pukul 14.45 WIB.

Selama jalannya sidang babak kedua setelah diskors, di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017), Novanto hanya terdiam dan batuk-batuk saat ditanya nama, tempat lahir, umur jenis kelamin, hingga kebangsaannya oleh ketua majelis hakim Yanto maupun oleh hakim anggota. Baru 15 menit sidang dimulai, majelis hakim memutuskan untuk menskors sidang lagi. Padahal sebelumnya, sidang sempat diskors sekitar 4 jam.

Seblumnya Setya Novanto bisa bercerita dengan lancar tentang keluhan sakit diare sampai 20 kali. Dia juga bisa berkata dengan jelas untuk minta izin ke toilet. Sidang pun sempat diskors.

Usai dari toilet,sidang dilanjutkan. Setya Novanto bicara lancar soal keluhan sakitnya, Sidang sempat diskors sekitar 5 menit karena Novanto ingin ke toilet. Sebelum dari toilet, Novanto tak kunjung menjawab pertanyaan hakim yang memeriksa identitasnya.

Sekembalinya dari toilet, Novanto akhirnya menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Novanto. Sidang diskors lagi untuk pemeriksaan kesehatan Novanto di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Raya, Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017):

Anehnya, Terdakwa kasus korupsi KTP elektronik, Setya Novanto sempat menolak diperiksa dokter, alasannya, dokter yang akan memeriksa mantan Ketua DPR itu hanya dokter umum bukan dokter spesialis. Padahal dokter yang dihadirkan adalah pilihan Setya Novanto sendiri, yakni dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD).


“Tadi yang kami harapkan yang hadir dokter ahli, tapi ternyata yang hadir dokter umum. Menurut beliau (Setya Novanto) tidak akan berimbang pendapatnya. Sehingga kami memutuskan untuk tidak diteruskan pemeriksaannya oleh dokter umum,’ kata pengacara Setya, Maqdir Ismail saat persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/12).

Suasana sidang dakwaan Setya Novanto yang dipimpin Hakim Yanto (berkumis)

Hakim Yanto yang memimpin sidang, dan Jaksa KPK Irene Putri sempat heran dan mempertanyakan penolakan Setya tersebut, karena dokter tersebut diajukan oleh pihak Setnov.

“Terdakwa sudah mengajukan dokter pribadi dari RSPAD. Dokter umum, tapi yang bersangkutan tidak mau diperiksa,” tanya Irene.

Hakim Yanto, menambahlkan, kenapa tidak mau diperiksa sementara terdakwa sendiri yang minta?


Maqdir mengatakan, agar pemeriksaan objektif, dia berharap agar kliennya diperiksa di RSPAD. “Kami harapkan seandainya sesudah pemeriksaan hari ini terdakwa diperiksa di RSPAD,” kata Maqdir.

Hakim Yanto mempertanyakan, komunikasi antara pihak Setnov dengan RSPAD. “Memangnya sebelum berangkat enggak ada komunikasi? Tadi kan minta dikirim yang spesialis. Jangan sampai sudah di sini kemudian ditolak. Majelis sudah beri kesempatan yang baik. Kalau dari IDI gimana?,” katanya.

Mendengar pertanyaan hakim, tiga dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yakni, dr. Yunir, dr. Dono Antono, dan dr. Fredrich Sitorus menyatakan, kondisi kesehatan Setya Novanto normal.

Setelah mendengar pernyataan tiga dokter IDI, Hakim Yanto kemudian menyatakan sidang dilanjutkan. “Saudara dinyatakan sehat sehingga sidang bisa dilanjutkan,” kata Yanto, walau kemudian menskors lagi sidang itu.