Pangeran Saudi: Trump Perusak Stabilitas Timteng

Mantan Kepala Dinas Intelejen Arab Saudi Pangeran Turki al Faisal angkat suara terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pangeran Turki mengatakan, pernyataan Trump telah merusak stabilitas Timur Tengah.

“Itu keputusan yang buruk sekali. Konsekuensinya adalah akan memperbanyak pertumpahan darah dan konflik, ketimbang resolusi konflik,” kata anggota senior keluarga kerajaan Saudi yang mantan duta besar Saudi untuk AS itu, kepada Reuters.

Pangeran Turki menyebut manuver oportunistis Trump di Yerusalem itu akan membahayakan keamanan di Timur Tengah.

Belum lama ini Donald Trump dengan percaya diri mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Padahal, kebanyakan negara di dunia menilai status Yerusalem harus ditentukan lewat meja perundingan. Ucapan Trump telah menjungkirbalikkan kebijakan AS selama ini yuang berhati-hati menyangkut Yerusalem.

President Donald Trump 

Banyak negara di dunia mengecam keputusan keputusan Trump. Salah satunya Raja Salman dari Saudi Arabia. Bahkan Salman mengancam Presiden Trump bahwa begitu AS memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem sebelum penyelesaian perdamaian yang permanen tercapai, maka keputusan itu akan membuat marah seluruh muslim di dunia.

Sayang, Saudi tidak menjabarlan langkahnya sendiri menghadapi keputusan Trump itu. Namun beberapa pejabat Palestina mengungkapkan bahwa Saudi diam-diam menekan Palestina untuk mendukung rencana perdamaian yang dipromosikan AS.

Menurut Palestina, Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas sudah merundingkan rincian tawar menawar dengan Trump dan penasihat yang juga menantunya, Jared Kushner, yang akan dibeberkan pada pertengahan 2018.  Dunia Arab menganggap rencana itu baru pada tahap dini. (SWU-Antara)