Gatot Nurmantyo Pesaing Terkuat Joko Widodo Dalam Pilpres 2019

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belakangan ramai diperbicaraan di kancah perpolitikan nasional. Sejumlah partai politik pun dikabarkan mulai melirik Gatot untuk diusung menjadi calon pemimpin nasional pada Pilpres 2019.

Dengan UU Pemilu yang mensyaratkan calon presiden harus mengantongi 20 persen dukungan di kursi legislatif, pengusungan Gatot harus menghitung ulang kembali.

Seperti diketahui, Jokowi sebagai petehanan sudah memborong dukungan dari PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Sedangkan dua anggota koalisi lainnya, yaitu PKB dan PPP hanya tinggal menunggu waktu untuk mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi.

Sementara itu, Partai Gerindra masih keukeuh untuk mengusung ketua umumnya Prabowo. Sedangkan Demokrat sepertinya juga masih akan memaksakan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju di Pilpres 2019.

Lembaga survei PolMark mensimulasikan capres-capres alternatif selain Jokowi dan Prabowo. Dari hasil survei yang dirilis PolMark, Senin (18/12/2017), nama Jenderal Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, Ketum PAN Zulkifli Hasan, dan mantan Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung merupakan empat pasangan alternatif yang dipilih responden. Lantas bagaimana elektabilitas keempat calon jika disimulasikan tanpa Jokowi dan Prabowo?

Joko Widodo dan Prabowo Subianto

 

Jenderal Gatot memiliki elektabilitas tertinggi jika dipasangkan dengan Anies untuk maju Pilpres 2019, keduanya bisa mendulang elektabilitas sebesar 53,3 persen. Namun, elektabilitas Anies akan lebih tinggi jika dipasangkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono dengan perolehan 55,3 persen.

Kemudian Zulkifli Hasan jika dipasangkan dengan Anies akan mendapatkan elektabilitas sebesar 45,8 persen. Sementara itu, Chairul Tanjung jika dipasangkan dengan Anies akan mendapatkan 46,1 persen.

Berikut simulasi lengkap pasangan alternatif versi PolMark:

Gatot Nurmantyo-Anies Baswedan 53 persen.
Gatot Nurmantyo-Agus Harimurti Yudhoyono 51 persen.
Gatot Nurmantyo-Zulkifli Hasan 46,4 persen.
Gatot Nurmantyo-Chairul Tanjung 46 persen.

Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono 55,3 persen.
Anies Baswedan-Chairul Tanjung 47,8 persen
Anies Baswedan-Gatot Nurmantyo 50,4 persen.
Anies Baswedan-Zulkifli Hasan 46,9 persen.

Zulkifli Hasan-Anies Baswedan 4,8 persen
Zulkifli Hasan-Agus Harimurti Yudhoyono 45,4 persen.
Zulkifli Hasan-Gatot Nurmantyo 44,4 persen.

Chairul Tanjung-Anies Baswedan 46,1 persen
Chairul Tanjung-Agus Harimurti Yudhoyono 45,1 persen
Chairul Tanjung-Gatot Nurmantyo 44,8 persen.

Bila Joko Widodo dihitung ia mendapatkan suara 41,2% dan Prabowo Subianto 21% jika pilpres dilakukan saat ini. Tapi tren pemilih keduanya yang menurun, karena diduga ada suara yang cenderung ke calon alternatif. “Survei ini memperlihatkan benar bahwa Pak Jokowi nomor 1, dengan 41%. Pak Prabowo nomor 2, dengan 21%,” kata Direktur Polmark Indonesia Eep Saefullah Fatah di restoran Batk Teras Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (22/10/2017).

Survei Polmark ini dilakukan terhadap 2.250 responden yang tersebar di 32 provinsi. Survei dilakukan pada 9-20 September 2017 dengan metode multi stage random sampling dengan margin of error +/- 2,1%.

Survei digelar 13-25 November 2017 dengan sampel 2.600 responden yang dipilih secara acak (multistage random sampling) di seluruh provinsi, dan 260 desa. Margin error +/- 1,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.