Diskotek MG Digerebeg BNN, Izinnya Dicabut, Pemiliknya Buron

 

Badan Narkotika Nasional atau BNN kembali menggerebeg  Diskotek MG International di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jakarta Barat Ahad (17/12/2017) dini hari. Penggerebekan ini meripakan lanjutan dari penggerebegan seminggu sebelmnya, yakni Minggu 14/121/2017 dini hari.

Bila dalam penggerebegan sebelumnya BNN menemukannarkoba di tempat hiburan tersebut, kali ini BNN.menemukan laboratorium yang dilengkapi prekursor untuk pembuatan narkoba sabu berbentuk cair.

Penggerebekan ini bermula dari kegiatan Tim Gabungan BNN Pusat melaksanakan razia dan pemeriksaan terhadap pengunjung dan pengelola serta tempat hiburan malam di wilayah kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat. Mereka mendapati lima orang tersangka yang mengedarkan narkotika jenis pil ekstasi dan sabu.

Gedung Diskotek MG Disegel

Usai menangkap para pelaku, BNN meminta mereka menunjukkan lokasi penyimpanan barang haram itu. Penggeledahan pun dilakukan di seluruh bangunan diskotek MG Club “Ternyata didapati laboratorium dan zat prekursor untuk membuat narkotika di lantai 2 dan 4.”

Setelah diketahui menjadi laboratorium yang memproduksi narkoba, tempat hiburan malam itu pun ditutup dan dipasangi garis polisi untuk pemeriksaan lebih mendalam. BNN kemudian menangkap lima orang tersangka, yakni Wastam (43 tahun), Ferdiansyah (23), Dedi Wahyudi (40), Mislah (45), dan Fadly (40). Sedangkan satu orang tersangka atas nama Rudy, pemilik dan operator laboratorium masih dalam pengejaran.

Selain itu, 120 orang pengunjung digelandang  menggunakan tiga buah metromini. “Iya tadi saya lihat mereka digiring masuk, dibawa pakai tiga metromini,” tutur Syamsuri, 43 tahun, yang tinggal sekitar 30 meter dari lokasi.

Mereka dibawa petugas BNN beserta dengan 20 orang operator laboratorium pembuatan narkoba dan karyawan diskotek setelah BNN menggerebek diskotek yang berlokasi di Jalan Tubagus Angke, Wijaya Kusuma, Jakarta Barat itu pada Ahad, 17 Desember 2017 mulai pukul 02.30 WIB. Dari razia dan penggeledahan itu didapati bahwa ada laboratorium yang dilengkapi prekursor untuk pembuatan narkotika disana.

Para tamu itu telah dites urin dan hasilnya positif menggunakan narkotika. “Dari 120 pengunjung, semuanya positif menggunakan narkoba,” Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandri Atmoko. Selanjutnya, 120 orang yang positif menggunakan narkoba itu, kata Sulistiandri akan direhabilitasi. Sementara, para operator akan diproses hukum.

Belakangan BNNP DKI Jakarta melakukan assement terhadap 120 orang pengunjung dan pegawai yang diamankan saat pengerebekan di Diskotek MG, Tubagus Angke, Jakarta Barat. Hasilnya, 112 orang dipulangkan dan wajib lapor.

“Yang wajib lapor, jumlahnya 112 orang, yang 8 orang adalah pegawai dari sana, belum bisa kita pulangkan, sekalipun dokter mengatakan mereka itu adalah baru pemula,” kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DKI Jakarta, AKBP Maria Sorlury daat dikonfirmasi, Senin (18/12/2017).

Maria menerangkan, ratusan pengunjung Diskotek MG itu dipulangkan sebab masuk dalam kategori pemakai pemula. Mereka diharuskan menjalani rehabilitasi tanpa harus ditempatkan di ruangan tertentu.

“Jadi saran dokter untuk mereka ini, tetap melakukan mengikuti rehabilitasi, rehabilitasi wajib lapor. Kan ada dua, rehabilitas jalan dan rehabilitas yang ditempatkan di tempat rehabilitasi,” terangnya.

Selepas penggrebekan, BNN telah mengantongi barang bukti yakni laboratorium pembuatan narkoba jenis ekstasi dan shabu yg terdapat di lantai dua dan lantai empat berikut prekursor (zat kimia bahan pembuatan pil ekstasi dan shabu).

“Produksi ekstasi cair dan sabu cair, penggunaannya dilarutkan ke dalam air minum,” ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Sulistiandri Atmoko kepada Tempo, Ahad, 17 Desember 2017.

Suliandri mengatakan narkoba berbentuk cair ini memiliki efek yang serupa dengan yang berbentuk padat. Hanya saja, kata dia, narkoba cair ini bisa mengelabui orang lain. “Tujuannya untuk mengelabui petugas atau pengunjung yang lain yang tidak tahu.”

Sulistiandri mengatakan tidak semua pengunjung bisa mendapatkan narkoba berupa ekstasi dan sabu cair itu. Yang bisa membeli, kata dia, adalah pengunjung yang sudah dikenali oleh petugas diskotek atau telah menjadi member diskotek MG.

Laboratorum ekstasi cair Diskotek MG

Narkotik berbentuk cairan itu di jual di dalam kemasan yang sudah dilarutkan ke dalam air minum dengan ukuran 330 mililiter. “Dihargai Rp 400 ribu dan bisa untuk 4 orang,” tuturnya.

Kepala Balai Rehabilitasi BNN Jolan Tedjokusumo mengatakan sabu berbentuk cair memang tampak baru di Indonesia. Namun sebenarnya, narkoba itu sudah beredar sebelumnya di luar negeri. “Misalnya di Jepang yang pemakaiannya dengan cara disuntik.”

Mengenai efeknya, kata Jolan, kembali kepada kualitas narkotika itu. “Efeknya bisa lain-lain tergantung kemurnian dari sabunya juga, apakah itu sabu murni atau bagaimana,” kata dia.

Mendengar kabar tersebut ,akil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengaku sangat terpukul oleh kasus Diskotek MG, yang dijadikan pabrik sabu cair. Dia menegaskan jajarannya akan segera menutup dan mencabut izin diskotek tersebut.

“Kami sangat terpukul melihat kenyataan di mana tempat yang sebetulnya menjadi tempat hiburan dikamuflase menjadi pabrik. Dan ini bukan hanya mendistribusi, tapi memproduksi sabu dalam varian baru, yaitu cair, dan bisa dibagikan dalam botol mineral yang susah sekali terdeteksi,” kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017).

Sandi telah memerintahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta menindak tegas tempat hiburan tersebut. Ia tidak akan menoleransi tempat hiburan yang melakukan pelanggaran, apalagi terkait kasus narkoba.

“Tidak memberikan ampun, tidak memberikan ruang sama sekali. Kita harus tegas, kita harus katakan betul Jakarta tidak akan mentolerir kegiatan yang akan sangat buruk dampaknya pada rusaknya sendi-sendi masyarakat,” tegasnya, seraya menginstrusikan untuk mencabut izin diskotek itu.