Kesombongan Dan Arogansi Fredrich Yunadi, Pengacara Setya Novanto

Dalam akun YouTube Najwa Shihab, Jumat (24/11/2017) yang juga dikutip kompas.com (25/11/2017) pengacara Setya Novanto Fredrich Yunadi, menegaskan bahwa kliennya tidak pernah pura-pura sakit untuk menghindari proses hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi. Fredrich menegaskan, selamal berkiprah sebagai pengacara, ia tidak pernah meminta kliennya untuk pura-pura sakit demi menghindari proses hukum.

“40 tahun jadi pengacara saya tidak pernah pakai strategi seperti itu. Saya ini fighter. Siapapun saya hantam. Saya tidak pernah takut pada siapapun,” kata Fredrich seperti ditayangkan dalam akun YouTube Najwa Shihab, Jumat (24/11/2017).

Dalam akun youtube itu, Fredrich juga  bicara soal kekayaan dan gaya hidupnya. Sebagai seorang pengacara kondang, Fredrich mengaku suka hidup bermewah-mewahan. “Saya suka mewah. Saya kalau ke luar negeri, sekali pergi itu minimum saya spend Rp 3 miliar, Rp 5 miliar. Sekarang tas Hermes yang harganya Rp 1 Miliar juga saya beli,” kata Fredrich seperti ditayangkan dalam akun YouTube Najwa Shihab, Jumat (24/11/2017).

“Bagi saya, kalau mau lihat saya, saya seperti pengacara yang sangat top kan, Hotman Paris. Dia itu lebih dari saya, tapi saya enggak kalah dengan beliau,” ucap Fredrich.

Fredrich mengatakan, apabila menjadi pengacara suatu korporasi, maka tarifnya bisa sampai Rp 100 juta per bulan. “Kalau ada 20 perusahaan (dalam sebulan) saya bisa hidup nikmat, nyaman,” kata dia.

Namun, Fredrich menegaskan bahwa kekayaannya saat ini tak hanya berasal dari honor sebagai pengacara, namun juga dari warisan keluarga dan juga sejumlah usaha.

Fredrich tidak secara tegas menjawab berapa honor yang ia dapat dengan membela Setya Novanto. Namun Fredrich mengatakan, apabila membela orang besar, ia justru tidak mengharapkan bayaran.

“Makin besar namanya, free. Karena akan angkat pamor saya kalau saya menang. Setelah saya menolong beliau, efeknya tidak bisa diduga,” ucap Fredrich.

Fredrich pun mencontohkan  pengalamannya saat membela Budi Gunawan pada 2015 lalu. Saat itu, Komjen Budi Gunawan yang dipilih Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kapolri ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan rekening gendut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Fredrich selaku pengacara Budi lantas mengajukan praperadilan melawan KPK. Hakim tunggal Sarpin Rizaldi pun mengabulkan permohonan praperadilan dan membebaskan Budi dari status tersangka.

Meski tak dibayar oleh Budi Gunawan, Fredrich tetap merasa puas karena mendapatkan nama baik. “Dapat nama. Saya dihormati oleh institusi kepolisian karena saya menyelamatkan mukanya polisi,” kata Fredrich.

Singkat kata, pernyataan  Fredrich itu sombong luar biasa. Dia akan menghantam siapa saja. Dia memamerkan kekayaan di tengah banyak warga negara Indonesia yang kekurangan. Dia bangga memenangkan perkara pejabat dan orang kaya. Dia merasa senang dapat memolisikan orang-orang  yang menurutnya menghina kliennya. Ia abaikan perasaan publik. Ia jadikan hukum sebagai alat untuk melindungi pejabat dan orang kaya.

Bagi  Islam dan agama manapun, kesombongan dan sikap arogan seperti itu sangat dilarang. Orang yang sombong dan arogan tidak boleh ditakuti dan tidak pantas dihormati..