Manuver Berisiko Sang Putra Mahkota Arab

 

 

Sebanyak 11 pangeran, empat menteri, dan belasan mantan menteri ditahan pada Sabtu malam 4 November 2017. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed bin Talal, yang namanya masuk daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.

Sebelas pangeran yang dibekuk itu dilaporkan ditahan di Ritz Carlton, Riyadh. Mereka tak ditahan di penjara biasa seperti halnya rakyat kebanyakan. Seperti dilaporkan AP, lima hotel mewah lainnya juga dijadikan lokasi penahanan sementara bagi para menteri dan pejabat.

Ritz Carlton di ibu kota Arab Saudi tak bisa di-booking tamu hingga 1 Desember 2017, mengindikasikan bahwa proses penyelidikan di hotel mewah itu bisa berlangsung berminggu-minggu.

Sementara itu, satu pangeran yang tak masuk daftar mereka yang ditangkap, tewas dalam kecelakaan udara, Minggu, 5 November 2017.

Pangeran Miteb bin Abdul Aziz (AFP Photo/Hassan Ammar)

 

Seperti dikutip dari BBC, Pangeran Mansour bin Muqrin, yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Provinsi Asir, sedang bepergian bersama sejumlah pejabat ketika helikopter yang membawa mereka jatuh. Total, delapan orang tewas.

Penangkapan bos  King Holding Company tersebut diungkap salah satu bawahannya, secara anonim, kepada The Associated Press. Menggunakan bendera King Holding Company, Pangeran Alwaleed bin Talal diketahui punya investasi di sejumlah perusahaan ternama seperti Twitter, Apple, News Corporation, Citigroup, jaringan hotel Four Seasons, dan perusahaan layanan berbagi transportasi asal Amerika Serikat Lyft.

Alwaleed adalah cucu dari pendiri Arab Saudi, Raja Abdulaziz al-Saud, dan keponakan raja yang menjabat saat ini, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Ia juga dikenal sebagai sosok yang blak-blakan, telah lama memposisikann diri sebagai pembela hak-hak perempuan di Arab Saudi. Alwaleed juga pemilik mayoritas Rotana Group.

Sejauh ini, pihak Pemerintah Arab Saudi hanya mengumumkan bahwa penyelidikan antikorupsi sedang dilakukan. Sementara, media yang dekat dengan penguasa, Al Arabiya melaporkan bahwa sejumlah pangeran dan menteri ditangkap, tanpa menyebut siapa saja nama mereka.

Sementara itu, seperti dikutip dari CNN, Minggu (5/11/2017), juga ada dalam daftar mereka yang ditangkap adalah kepala staf istana kerajaan Khaled Al-Tuwaijri, pengusaha media Waleed Al-Ibrahim, dan Pangeran Turki Bin Nasser.

Badr Asaker, manajer biro Putra Mahkota Mohamed bin Salman, mengungkapkan daftar sejumlah nama yang ditahan melalui akun Twitter miliknya.

Selain itu, tiga menteri dikeluarkan dari jabatan mereka, dan puluhan mantan menteri ditahan, sebagai bagian dari kampanye antikorupsi baru yang diprakarsai oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud, demikian seperti dikabarkan Al Arabiya.

“Raja Salman memerintahkan inisiatif antikorupsi baru sebagai bagian dari agenda reformasi aktif yang bertujuan menanggulangi masalah terus-menerus yang telah menghambat usaha pembangunan di Kerajaan dalam beberapa dekade terakhir,” demikian diungkap dalam siaran pers Kementerian Komunikasi Arab Saudi.

Menurut Saudi TV, tiga menteri yang dicopot dari jabatannya adalah  Menteri Ekonomi dan Perencanaan Adel bin Mohammed Faqih, Menteri Garda Nasional Pangeran Miteb bin Abdullah bin Abdulaziz dan Panglima Angkatan Laut Laksamana Abdullah bin Sultan bin Mohammed Al-Sultan.

Dalam keputusan kerajaan disebutkan, badan antikorupsi diperlukan untuk mengatasi permasalahan yang mendera Arab Saudi.

“Karena kecenderungan beberapa orang untuk melakukan pelanggaran, menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan publik, dan mencuri dana publik. Komite akan melacak dan memberantas korupsi di semua tingkat,” demikian dikabarkan Saudi TV.

Tiga menteri yang digulingkan segera digantikan oleh sosok lain. Pangeran Khalid bin Abdulaziz bin Mohammed bin Ayyaf Al Muqren ditunjuk menjadi menteri Garda Nasional.

Mohammed bin Mazyad Al-Tuwaijri terpilih jadi Menteri Ekonomi dan Perencanaan, sementara Wakil Laksamana Fahd bin Abdullah Al-Ghifaili naik pangkat sebagai Panglima Angkatan.

Badan antikorupsi yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman memiliki wewenang untuk menyelidiki, menangkap, mengeluarkan larangan perjalanan, dan membekukan aset-aset yang diduga terkait kejahatan korupsi.

Sebagian besar rakyat Arab Saudi diklaim mendukung aksi pemberantasan korupsi yang digagas pemerintah. Di sisi lain, muncul dugaan motif politik di balik itu.

Meski masih muda, baru 32 tahun, Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah lama menjadi tokoh terkemuka dalam politik Saudi. Ia dipandang sebagai pemain kunci di belakang raja.

Ia juga dianggap sebagai sosok pembaharu, dalam standar Arab Saudi. Sejak pengangkatannya sebagai putra mahkota, beberapa pembatasan yang diberlakukan pada perempuan, dilonggarkan. Misalnya soal larangan mengemudi dan menonton pertandingan olahraga.

Mohammed bin Salman bersumpah untuk menghancurkan ‘ideologi ekstremis’ dalam upaya untuk mengembalikan Arab Saudi ke jalur “Islam yang lebih moderat.”

Dalam sebuah pidato beberapa pekan lalu, Mohammed bin Salman berjanji akan menerapkan Islam yang “moderat dan terbuka” di negaranya. Janji itu diutarakan sang pangeran saat berbicara dalam sebuah konferensi bisnis akbar di Riyadh pada Selasa, 24 Oktober 2017.

“Singkatnya, putra mahkota tengah mencoba melawan kemapanan struktur religius Saudi yang sesungguhnya sudah mulai melemah,” kata Stephane Lacroix, pakar kajian Islam di Science Po, the Paris Institute of Political Studies, seperti dikutip dari The New York Times.

“Sebagian besar sheikh dan ulama konservatif tidak senang dengan apa yang tengah terjadi. Namun mereka dalam posisi dilematis, mempertahankan persekutuan dengan monarki adalah hal yang penting. Jika mereka melawan, mereka akan kalah,” tambahnya.

Di sisi lain, alumni King Saud University itu tak dinilai bermain cantik. “Penangkapan kedua putra Raja Abdullah, Pangeran Miteb dan Turki, merupakan kesalahan fatal. Hal itu justru membahayakan Raja Salman,” kata seorang sumber kepada Asia Times.

Meski para pangeran telah dibungkam, tentara diyakini menyimpan amarah atas penangkapan para komandan mereka. “Dia (putra mahkota Arab Saudi) harus memenjarakan semua anggota angkatan bersenjata. Hanya dengan cara itu dia bisa merasa aman.”

Hanya dalam dua tahun, Mohammed bin Salman menjelma jadi sosok sentral. Tak hanya berstatus putra mahkota, ia juga menjabat sebagai wakil perdana menteri–di bawah sang ayah yang juga menjabat sebagai PM–dan menteri pertahanan. Semua posisi bergengsi itu didapatnya di usia muda, yakni 32 tahun.

Seperti dikutip dari The New York Times, kekuasaannya yang menggurita tentu saja memicu resistensi di dalam maupun luar keluarga kerajaan. Pengangkatan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota bahkan tak disetujui secara bulat oleh para bangsawan. Ia melewati sekitar 36 pangeran lain yang dianggap mampu memerintah Arab Saudi.

Dalam sistem suksesi Arab Saudi, kekuasaan diberikan secara bergiliran antara anak-anak dan keturunan pendiri kerajaan, Raja Abdulaziz atau Ibn Saud sejak kematiannya pada 1953.

Itu mengapa, pemilihan raja Arab Saudi dilakukan dengan mengedepankan primus inter pares alias musyawarah daripada monarki absolut.

Namun, sejarah mencatat, dua raja dilengserkan secara paksa. Raja Saud bin Abdulaziz al Saud digulingkan pada 1964. Sementara, Raja Faisal bin Abdul Aziz dibunuh keponakannya sendiri. Itu artinya, sistem suksesi yang mengedepankan stabilitas “boleh” dilanggar.

Sejumlah dugaan menyebut, Raja Salman yang kini berusia 81 tahun bisa jadi mundur dalam waktu dekat, dengan alasan kesehatan. Atau, ia bisa saja mangkat.

Manuver Mohammed bin Salman diduga untuk memuluskan jalannya menuju takhta. Bisa jadi, ia ingin menyingkirkan bibit-bibit perlawanan. “Sang pangeran muda hendak menggenggam kekuatan eksekutif itu secara agresif demi mendorong agendanya,” ucap David Ignatius.

 

SWU