Istri, Anak, Dan Keponakan Setya Novanto Juga Bisa Jadi Tersangka Dan Masuk Bui

Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Jumat, 3 November 2017 lalu Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi menelusuri peran sejumlah anggota keluarga Setya Novanto dalam kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP.

Saat itu Setya Novanto hadir dan diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Andi Agustinus atau Andi Narogong. . Jaksa mencecar Setya soal keterlibatan istri, anak, hingga keponakannya di PT Murakabi Sejahtera, salah satu perusahaan peserta tender proyek e-KTP.

Dalam persidangan waktu itu , Ketua Umum Partai Golkar ini membenarkan ia pernah menjadi komisaris PT Mondialindo Graha Perdana, perusahaan yang memiliki saham mayoritas di PT Murakabi. “Tapi saya tidak ingat proses sampai saya menjadi komisaris,” jawab Setya Novanto kala itu.

PT Murakabi  dipimpin keponakan Setya, Irvanto Hendra Pambudi. Di perusahaan tersebut, Irvan menjabat direktur operasional. Saham perseroan juga pernah dimiliki Vidi Gunawan, adik Andi Narogong. Keikutsertaan PT Murakabi dalam tender e-KTP pada 2011 disinyalir sebagai bagian rekayasa tender yang telah diatur bakal memenangi konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia.

Meski menjadi komisaris pada 2000-2002, Setya mengaku tak tahu PT Mondialindo memiliki saham mayoritas di PT Murakabi.

Jaksa juga menyebut istri dan anak Setya memiliki saham di PT Mondialindo sekitar 2008 hingga 2011. Istri Setya, Deisti Astriani Tagor, memiliki 50 persen saham, sementara anaknya, Reza Herwindo, 30 persen. “Tidak pernah disampaikan. Yang saya tahu, PT Mondialindo sudah diserahkan ke Heru Taher,” ujar Setya ketika dikonfrontasi jaksa mengenai hal tersebut.

 

Setya Novanto dan istrinya Deisti Astriani Tagor

 

Jaksa mengaku memiliki dokumen yang menyatakan saham PT Mondialindo dijual Heru ke Irvanto, kemudian ke Deisti. Namun lagi-lagi Setya mengaku tidak mengetahuinya.

Jaksa Taufiq Ibnugroho bertanya, “Anda tahu Irvanto jadi direktur PT Murakabai sampai tahun berapa?” Setya menjawab, “Enggak tahu.”

Jaksa kembali bertanya, “Anda tahu kalau anak Anda, Dwina Michaella, juga menjadi komisaris PT Murakabi?” Untuk kesekian kalinya, Setya mengaku tidak tahu keterangan jaksa itu. Kepada Setya, Taufiq menyebut mereka telah memiliki dokumen yang membuktikan semua keterangan yang dipertanyakan tersebut.

Terus dicecar jaksa KPK soal keterlibatan keluarganya, Setya tampak membela diri. Ia mempertanyakan alasan jaksa menyelidiki kepemilikan saham PT Mondialindo oleh istri dan anaknya pada 2008 hingga 2011. “Apa kaitannya, Pak? Ini kan tahun belakangan (sebelum pembahasan e-KTP)?” tuturnya. Namun jaksa tidak banyak menanggapi pertanyaan Setya.

Deisti Astiani Tagor yang diketahui merupakan istri dari Ketua DPR RI Setya Novanto juga dipanggil KPK untuk diperiksa pada Jumat (10/11/2017) . Namun seperti kegemaran suaminya, Deisti mangkir. “Saksi Deisti Astiani Tagor yang telah dipanggil untuk agenda pemeriksaan Jumat, 10 November 2017. Yang bersangkutan tidak datang dan mengirimkan surat pemberitahuan tidak hadir karena sakit,” kata Febri, Selasa (14/11).

Febri mengungkapkan, dalam surat yang disampaikan Deisti, terdapat lampiran surat keterangan sakit dari Aditya Medical Centre. Surat tersebut menjelaskan bahwa Deisti yang juga Ketua Yayasan Komunitas Gerakan Peduli Anak Indonesia (Kugapai) perlu istirahat selama sepekan. “Surat tersebut ditandatangani dokter pemeriksa Okky Khadarusman,” ujarnya.

Adapun, pemeriksaan terhadap Deisti karena penyidik memerlukan keterangannya sebagai mantan Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana. Perusahaan itu diketahui salah satu pemegang saham PT Murakabi Sejahtera, peserta proyek pengadaan KTP-el.

Penyidik KPK pun akan kembali menjadwalkan pemeriksaan Deisti. “Penyidik akan melakukan pemanggilan kembali untuk diperiksa pada Senin (20/11) depan. Kami ingatkan agar yang bersangkutan mematuhi aturan hukum dan hadir memenuhi panggilan penyidik,” kata Febri.

Sedangkan keponakan Setya Novanto lebih kooperatif. Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pada Jumat (27/10) penyidik KPK memeriksa dua saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudiharjo, yakni mantan Direktur Utama PT Murakabi, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang juga keponakan Setya Novanto (Setnov), dan mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini.

“Penyidik mengonfirmasi sejumlah fakta persidangan kepada kedua saksi dari persidangan terdakwa terdahulu yaitu Irman, Sugiharto dan Andi Agustinus,” kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/10).

Usai menjalani pemeriksaan, Irvanto dan Diah bungkam seribu bahasa. Keduanya enggan memberikan komentar terkait materi penyidikan. Dan langsung pergi meninggalkan gedung KPK.

Irvanto merupakan pemilik perusahaan PT Murakabi Sejahtera, salah satu konsorsium yang ikut ambil bagian di lelang proyek KTP-el. Dalam surat dakwaan dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto, disebutkan pelelangan diarahkan agar pemenang lelang konsorsium PNRI dengan konsorsium Astragrapha dan konsorsium Murakabi Sejahtera sebagai peserta pendamping.

 

Irvanto Hendra Pambud, Keponakan Setya Novanto

KPK kembali memanggil keponakan Ketua DPR Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi, Kamis (16/11/217). Irvanto diduga akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus korupsi proyek e-KTP. Pasalnya, dalam jadwal pemeriksaan KPK hari ini, tak ada nama Irvanto sebagai daftar saksi.

Mengenakan kemeja biru muda, Irvanto tak memberikan komentar apapun kepada awak media. Ia langsung berjalan masuk ke gedung KPK.

Irvanto telah beberapa kali menjalani pemeriksaan sebagai saksi di gedung KPK.  Irvanto juga sudah dicegah berpergian ke luar negeri untuk enam bulan ke depan terkait pengusutan kasus korupsi e-KTP. Ia juga pernah bersaksi dalam persidangan korupsi e-KTP dengan terdakwa Irman dan Sugiharto.

Irvanto mengakui ikut dalam rapat Tim Fatmawati, bentukan Andi Narogong untuk mengikuti tender proyek e-KTP.