KPK IKLAN

Samadikun Hartono Bayar Hutang 61 Miliar

Samadikun Hartono penghutang kelas kakap alias obligor dari Bank Moderen yang telah ditangkap di Cina. Ternyata Samadikun Hartono baru membayar kerugian negara sebesar Rp61 miliar.

Padahal, kerugian negara akibat mengorupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp168 miliar atau masih Rp100 miliar lebih, uang negara yang belum dikembalikan.

“Sampai Mei 2017, terpidana baru bayar kerugian negara Rp61 miliar,” kata Kasi Pidsus Kejari Jakarta Pusat Dedi Prio saat ditemui usai serah terima jabatan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DKI dari Masyhudi kepada Febri Ardiansyah di Kejati DKI, Kamis (26/10).

Namun, dia mengingatkan kendati baru bayar kerugian negara Rp61 miliar, aset milik terpidana tetap dalam status sita oleh tim jaksa eksekutor. “Jadi, kita masih punya jaminan untuk memenuhi kerugian negara, jika terpidana tidak memenuhi komitmennya.”

Dedi menyatakan aset milik terpidana yang dalam status sita, adalah tanah dan bangunan, di Jalan Jambu, Menteng, Jakarta Pusat dan lahan di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Pembayaran pertama cicilan kerugian negata Rp21 miliar, Juni 2016. Cicilan berakhir, akhir 2017. Semula dijadwalkan selama empat tahun cicilannya.

Sesuai komitmen pembayaran kerugian negara dilakukan secara cicilan, karena terpidana tidak memiliki lagi uang tunai. Namun, dengan jaminan rumah dan bangunan serta tanah terpidana.

Samadikun ditangkap, April 2016, di China. Sampai Indonesia, 16 April. Samadikun adalah terpidana perkara BLBI Bank Modern sebesar Rp 2,5 triliun, namun yang terbukti dikorupsi Samadikun hanya Rp168 miliar.

You might also like