Jika Perang Lawan Amerika Serikat, Indonesia Bisa Menang

 

Pada Februari 2015, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu di jejaring sosial twitter menulis bahwa hanya sanggup berperang selama tiga hari.

Pernyataan Menhan ditanggapi oleh pengamat pertahanan asal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mochamad Nur Hasim menilai bahwa pernyataanBahkan, ia memperkirakan seluruh kekuatan pertahanan keamanan (hankam) Indonesia jika berperang selama lima jam saja sudah keteteran. Ia juga sangsi, jika Indonesia mengalami nasib seperti Irak yang diserang negara yang memiliki peralatan perang canggih dan modern seperti Amerika Serikat (AS) mampu bertahan tiga hari.

“Jangankan tiga hari, perang selama lima jam saja Indonesia sudah keteteran,” ujarnya sebagaimana dikutip Republika, Ahad (22/2/2015).

Kopassus

Menurutnya, pernyataan Menhan dan Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Susilo Siswoutomo dalam konteks tertentu.

Ia mencontohkan, kalau Indonesia menghadapi serangan dan terjadi di tiga titik berjauhan yaitu di Pulau Papua, Aceh, hingga Jawa maka yang menjadi problem keterbatasan mobilisasi pasukan untuk bisa mengatasi persoalan-persoalan itu. Kalau mobilitas terlambat, kata dia, tentunya musuh sudah masuk Indonesia.

“Kalau kita benar-benar berperang melawan negara lain yang sistem peralatannya lebih canggih seperti Australia, Singapura maka ada kekhawatiran kita tidak siap menghalau serangan dari wilayah luar,” jelasnya.

Ia menyebutkan, lemahnya pertahanan Indonesia karena beberapa sebab. Pertama, beberapa usia alat utama sistem pertahanan (Alutsista) yang dimiliki Indonesia sudah tua. Sementara alutsista di Tanah Air masih sangat kurang dibandingkan negara-negara pemilik alutsista canggih itu.

Disatu sisi, negara selama ini pemerintah hanya fokus membeli pesawat. Padahal, ada pesawat F16 yang kini masih terkena embargo.

Disinggung mengenai komentar Anggota Komisi I DPR mengenai anggaran untuk Kemenhan yang terbilang besar atau lebih dari Rp 100 triliun, ia menyebutkan bahwa anggaran itu hanyalah untuk Kekuatan Pokok Minimum atau Minimum Essential Force (MEF).

“Anggaran itu sangat kurang dan tidak mencakup apabila terjadi perang modern yaitu perang menggunakan teknologi. Misalnya ada negara yang mengirim pesawat tanpa awak atau rudal ke Indonesia dan jangkauannya sangat jauh, kita tidak bisa menanganinya karena tidak memilikinya,” katanya.

 

Kopassus

Seharusnya, kata dia, besarnya porsi anggaran pertahanan yang diberikan untuk Indonesia bukan dibandingkan dengan pos anggaran lain. Melainkan harus dibandingkan dengan anggaran pertahanan negara lain yang militernya lebih baik seperti Singapura dan Malaysia, bahkan AS.

Belum lagi, energi untuk mendukung sektor pertahanan yang dinilainya masih kurang. Ia menceritakan, selama ini latihan pasukan tentara terkendala akibat kurangnya bahan bakar. Menurutnya, negara ini cenderung mengekspor dibandingkan mendukung kebutuhan dalam negeri, termasuk untuk angkatan perang Indonesia.

Akibatnya ketika tentara akan berlatih menggunakan mesin tempur yang menggunakan bahan bakar menjadi terkendala.

“Padahal, jika ingin memiliki kapabilitas dan kapasitas pertahanan dan keamanan maka latihan perang harus didukung, termasuk jaminan pasokan bahan bakar,” ujarnya.

Belum lagi Indonesia yang belum memiliki kilang bahan bakar. Sehingga, jangka waktu suplai minyak hanya selama 22 hari. Ia mempertanyakan kalau kilang itu ada di tempat jauh dan Indonesia sedang dilanda perang maka kendaraan mau diberi bahan bakar apa.  “Itu riil, itu penggunaan energi nasional itu dalam kondisi darurat,” ucapnya.

Seharusnya, kata dia, pemerintah memberikan alokasi energi khusus untuk suplai pertahanan, terutama untuk menghadapi perang, krisis.

Nur Hasim juga mengkritik Indonesia yang masih menggunakan konsep tradisional atau lama. Indonesia disebutnya menerapkan konsep pertahanan keamanan yang melebur dengan pusat kekuatan sipil atau permukiman masyarakat atau pusat kekuatan sipil.

“Kita tidak membayangkan kalau markas besar TNI dibom karena disekitarnya sudah ada fasilitas sipil seperti rumah penduduk. Sedangkan Kostrad terletak di dekat istana negara,” ujarnya.

Kalau konsep ini dipertahankan, kata dia, seharusnya tentara harus mencegat musuh di wilayah paling luar atau perbatasan. Tetapi, lagi-lagi pertahanan bangsa rapuh, bahkan kasus pencurian ikan secara ilegal saja belum mampu diselesaikan.

“Apalagi kalau ancaman pertahanan. Sementara kalau melihat konsep pasukan tempur modern kan mengguncang lewat laut, darat, dan udara karena proses mobilisasi reaksi cepat,” katanya.

Faktanya, Indonesia masih dominan kekuatan di darat. Padahal, seharusnya ada penyeimbang kekuatan, baik udara, laut, dan darat. Indonesia juga harus memetakan secara jelas siapa yang dianggap sebagai musuh. Mulai dari siapa musuh yang dihadapi, seperti apa, hingga ancaman kekuatannya seperti apa.

Jika memang demikian, kata dia, ia sepakat dengan pernyataan Ryamizard yang dibuka ke khalayak karena supaya mereka paham dan ada kesamaan untuk membangun pertahanan. “Lagipula sudah ada lembaga yang melakukan analisis sistem ketahanan negara,” ucapnya.

Lembaga itu menganalisa mulai pertahanan di Tanah Air, alutsista, jumlah pasukan, hingga berapa mesinnya. Kemudian hasil analisa itu dibuat dalam review tahunan yang sebagian diumumkan ke masyarakat umum dan ada yang tidak. Belum lagi adanya intelijen yang memata-matai kekuatan pertahanan Indonesia.

Indonesia Punya Peluang Menang Lawan Amerika Serikat

Memang benar, militer AS termasuk dalam kategori militer terbaik karena didukung oleh kelengkapan militer yang canggih selain militer Inggris dan militer Israel. Ternyata kehebatan dan kekuatan militer Indonesia juga masuk ke dalam nominasi militer terbaik dunia. Hal ini membuktikan bahwa militer negara kita diperhitungkan sebagai kekuatan militer yang kuat di mata dunia. Sejak dulu, militer Indonesia memang sudah cukup populer di telinga dunia, khususnya di negara-negara adidaya.

 

Tentara Vietnam ketika melawan AS

Terlebih saat Perang Dunia II meletus, dengan semangat perjuangan, militer kita beraksi menumpas penjajahan Jepang meski dengan peralatan perang yang tak secanggih militer Jepang. Kemudian saat NICA membonceng sekutu untuk merebut kembali Indonesia dari negaranya sendiri, dengan sisa-sisa semangat perjuangan 45, militer bersama-sama rakyat menggagalkan niat para penjajah ini.

Tak hanya itu saja, masih ada beberapa alasan lainnya mengapa Amerika enggan ‘menyerang’ Indonesia. Berikut informasinya yang pasti akan membuat Anda rakyat Indonesia bangga dengan Tanah Air ini:

• Perang AS melawan Vietnam atau perang AS melawan Korea Utara adalah sejarah suram bagi AS karena militer AS begitu kuwalahan menghadapi para anggota militer Vietnam dan Korea Utara. Lantas, apa hubungannya dengan Indonesia? Memang tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia disebut-sebut sebagai ‘guru’ Korea Utara dan Vietnam. Militer AS juga sering mengadakan latihan bersama/ latihan gabungan bersama beberapa kesatuan militer negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari momen latihan bersama ini, militer AS melihat bahwa militer Indonesia tak boleh dipandang sebelah mata.

 

Tentara AS yang luka di Vietnam, hingga akhirnya AS angkat kaki

• Terlepas dari kekuatan militernya, Negara Indonesia adalah negara yang besar dan kaya. AS mengakui bahwa Indonesia memiliki segalanya. Hanya saja SDM Indonesia masih belum mampu mengelola kekayaan Indonesia secara optimal. Jika suatu saat SDM Indonesia berhasil, kelak Indonesia akan menjadi negara paling maju di kawasan Asia mengalahkan Cina, Korea Selatan, dan Jepang.

Kopassus juga menjadi kekuatan militer Indonesia yang begitu dikagumi oleh AS. Kopassus Indonesia mampu menginfiltrasi dan menerobos kawasan negara lain tanpa sepengetahuan negara yang bersangkutan. Sebut saja ketika terjadi perang Vietnam, Kopassus Indonesia berhasil menerobos untuk menyelematkan para tahanan perang AS. Banyak negara yang berpendapat bahwa sesi latihan Kopassus Indonesia tergolong brutal. Namun ini kemudian menjadi kelebihan Kopassus di mana kekuatan fisik, mental, dan performa adalah 3 kunci penting dalam hal penilaian kualitas suatu kekuatan militer.

 

• Jikalaupun benar militer AS menyerang Negara Indonesia dengan menggunakan senjata nuklir, AS akan mengalami kerugian besar, terutama kerugian biaya. Mengapa? Biaya pasca perang nuklir akan sangat membengkak. AS perlu mempertimbangkan biaya pemulihan pasca pengeboman nuklir, biaya pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang begitu melimpah, belum lagi biaya eksploitasi SDA yang terkena efek radiasi nuklir.

Tak hanya itu saja, serangan AS ke Indonesia akan mengakibatkan dampak-dampak yang jauh lebih buruk bagi AS, misalnya saja akan terjadi perang agama antara Islam dan Kristen, Rusia , Cina, dan Korea Utara tak segan-segan luncurkan senjata nuklirnya untuk menyerang AS sebagai tindakan antisipasi mereka, masyarakat AS terkenal dengan budaya ‘takut mati’, jadi jikalaupun terjadi perang, rakyat AS enggan ikut andil dalam berperang, dan AS akan menjadi ‘target’ sebagian besar masyarakat dunia karena ada begitu banyak negara di dunia yang sakit hati dan dirugikan oleh AS.