Apa Maksud Edward Soerjadjaja Menyerang Sandiaga Uno Selagi Jadi Pejabat

 

Sebelum isu pemalsuan jual-beli saham itu mencuat, ada dua laporan dari korban bernama Djoni Hidajat, atas tindakan Sandiaga Uno dan Andreas Tjahjadi terkait lenyapnya aset PT Japirex berupa tanah seluas 3.115 meter persegi milik (alm) Happy Soerjadjaja —istri pertama Edward Soerjadjaja— yang dititipkan kepada Djoni Hidajat. Happy Soerjadjaja meninggal pada tahun 1992.

Pada laporan pertama, bernomor LP/1151/III/2017/PMJ/Dit.Reskrimum, Sandiaga Uno dan Andreas Tjahjadi disangkakan dengan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Ia diduga terlibat dalam penggelapan uang penjualan tanah, dengan korban Djoni Hidajat.

Lalu, Djoni Hidajat pun, melalui kuasanya, Fransiska Kumalawati Susilo, melaporkan Sandiaga Uno ke Polda Metro Jaya atas kerugian senilai Rp 12 miliar. Pelaporan ini tercatat pada Laporan Polisi Nomor LP/1427/III/2017/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 8 Maret 2017.

Di sana, Sandiaga Uno dan Andreas Tjahjadi disebutkan melakukan pemalsuan tanda tangan Djoni Hidajat pada kuitansi. Sehingga, seakan-akan Djoni telah menerima uang pembayaran tanah tersebut. Padahal, Djoni mengaku tidak pernah menerima uang apapun, juga sama sekali tidak pernah menandatangani kuitansi pembayaran itu.

“Ketiga perkara itu, baik penggelapan uang hasil penjualan aset, serta pemalsuan tanda tangan pada jual-beli saham maupun kuitansi penerimaan pembayaran tanah, meski dilaporkan secara terpisah, sebetulnya memiliki hubungan sebab-akibat yang sangat erat. Karena, selain sama-sama melibatkan Sandiaga Uno dan Andreas Tjahjadi sebagai terlapor, ketiganya juga berkaitan dengan aset dan perusahaan milik Edward Soerjadjaja,” kata Arnol Sinaga, yang juga —bersama Masrin Tarihoran, — merupakan kuasa hukum pada kantor Edward Soerjadjaja.

Sejatinya, masalah yang terjadi di antara Sandiaga dan Edward bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, Edward melaporkan Sandiaga dangan tuduhan pemalsuan sertifikat lahan Depo Pertamina di Balaraja, Tangerang.

Melalui PT Siwani Makmur Tbk, Edward melaporkan PT Pandan Wangi Sekartaji yang sempat dipimpin oleh Sandiaga, ke Polda Metro Jaya atas dugaan pemalsuan dan penggelapan dokumen.

Pemalsuan diduga dilakukan oleh rekanan PT Pandan Wangi Sekartaji, yakni PT Jakarta Depo Satelit, pada dokumen kepemilikan sertifikat lahan pembangunan Depo Balaraja.

Laporan itu didasarkan pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung tanggal 15 Desember 2009 yang menyatakan sertifikat yang dimiliki Jakarta Depo Satelit sebagai sertifikat palsu.

Namun PT Jakarta Depo Satelit mengajukan banding dan dimenangkan oleh PTUN Jakarta. Pasalnya, dalam proses persidangan, PT Siwani Makmur Tbk tak pernah menghadirkan sertifikat yang asli, tetapi hanya salinan dokumen yang telah dilegalisir oleh Pengadilan Singapura.

 

 

Perselisihan terus bergulir hingga Edward mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA), yang kemudian ditolak. Putusan MA pada 21 Desember 2010 menolak permohonan kasasi Edward atas klaim lahan seluas 199.910 m2 yang dipersengketakan.

Putusan MA itu terdaftar dengan nomor 313 K/TUN/2010 dengan Majelis Hakim Supandi, Achmad Sukardja, dan Paulus E Lotulung. Majelis memutuskan sertifikat lahan Depo Pertamina itu sah milik PT Jakarta Depo Satelit, rekanan PT Pandan Wangi Sekartaji saat Sandiaga menjadi direkturnya.

Kini Edward kembali muncul dengan serangan tuntutan baru kepada Sandiaga tatkala sedang menjajal peruntungan menjadi wakil pemimpin Jakarta. Dia menghantam Sandiaga dengan tuduhan penggelapan tanah yang berujung kerugian pihak lain.

Perkara yang dituduhkan kepada Sandiaga adalah penggelapan pada jual-beli lahan di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan.

Dalam laporannya kepada polisi bernomor LP/1151/III/2017/PMJ/Dit Reskrimum, Djoni Hidayat mengklaim tanah dengan total luas sembilan ribu meter persegi itu akhirnya laku Rp12 miliar.

Persoalan muncul karena Djoni merasa tidak mendapatkan seluruh keuntungan yang dijanjikan Sandiaga. Edward Soeryadjaya pun turut menjadi pihak pelapor dalam kasus itu.

Padahal sebelumnya, Sandiaga Uno dan Edward Soeryadjaya, putera sulung taipan pendiri Grup Astra, William Soeryadjaya, merupkan mitra bisnis yang akrab.

Nama klan Soeryadjaya memang tidak bisa lepas dari Sandiaga. Bagaimana tidak? Kesuksesan bisnis Sandiaga tak lepas dari keluarga tersebut. Sandiaga adalah salah satu ‘murid’ berbisnis William Soeryadjaya, yang akrab disapa Oom Willem.

Bisnis Sandiaga dimulai pada 1997. Saat itu, ia bersama Rosan Perkasa Roeslani mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors. Rosan kini menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Setelah mengenal Oom Willem, kedekatan Sandiaga dengan klan Soeryadjaya berlanjut. Pada 1998, Sandiaga dan Edwin Soeryadjaya, putra kedua Oom Willem, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. Perusahaan itu berkecimpung di bisnis pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Sebagai perusahaan investasi, kinerja Saratoga terbilang moncer. Perusahaan mampu menyedot modal investor untuk mencaplok perusahaan-perusahaan bermasalah, kemudian melegonya setelah dibenahi. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menjadi salah satu perusahaan yang mampu dibenahi Saratoga.

Sejak Saratoga didirikan, Sandiaga menjadi pucuk pimpinan yang langsung mengarahkan bisnis perusahaan. Tak hanya itu, ia juga mengaku memiliki 16 jabatan di seluruh perusahaan dan anak usahanya.

Namun, setelah memilih berfokus di dunia politik bersama Partai Gerindra, Sandiaga pun rela melepas semua jabatan di bisnisnya. Saat ini, tahta bos Saratoga ia serahkan kepada cucu William Soeryadjaya, Michael Soeryadjaya.

Kini, Saratoga mengempit saham beberapa perusahaan besar. Di sektor energi dan pertambangan, terdapat PT Adaro Energy Tbk (ADRO), sektor Infrastruktur menara telekomunikasi ada PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG), dan di lini konsumer otomotif terdapat PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk