Farhat Abbas Menduga, Ada Upaya Memutus Rantai Suap e-KTP

Ada jejak istri Setya Novanto

 

Persidangan kasus korupsi e-KTP masih bergulir di Pengadilan Tipikor Jakarta. Senin pekan lalu, sidang perkara megakorupsi ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Pasalnya pengacara kondang Farhat Abbas dihadirkan sebagai saksi.

Farhat dimintai keterangan atas terdakwa Miryam S.Haryani. Dalam sidang yang dipimpin hakim ketua John Halasan Butar-butar ini, Farhat memberikan kesaksian menarik. Farhat menyebut Miryam pernah bercerita kepada Elza Syarief soal anggota DPR yang menekan agar mencabut berita acara pemeriksaan (BAP).

Nama-nama politisi Senayan yang diduga menekan Miryam lantas dikonfirmasi majelis hakim. “Elza pernah cerita ke Anda ya, anggota DPR tekan Miryam. Namanya Djamal, Akbar Faizal, Markus Nari, Setya Novanto dan Chairuman? itu benar?” tanya hakim. Farhat membenarkannya. “Iya benar pernah mendengar dari Bu Elza. Kalau Akbar Faisal itu soal lain,” jawab Farhat.

Miryam S Haryani (tengah) mantan anggota Komisi II DPR dibawa petugas ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (1/5/2017).

Farhat menilai pencabutan BAP diduga dimaksudkan agar nama-nama yang terlibat dugaan korupsi e-KTP tidak ditindaklanjuti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya nama-nama anggota DPR yang diduga terlibat bisa dihilangkan melalui pencabutan BAP Miryam. Alhasil, tidak diketahui siapa yang menerima aliran dana kasus e-KTP. “Kalau dicabut BAP ini nggak akan ketahuan siapa yang akan menerima duit alirannya kemana, ” pungkas Farhat.

Ia mengungkapkan saat itu ada pembicaraan internal alasan pencabutan BAP. “Disampaikan Elza, Bu Yani cabut BAP (agar) selamat semua dan ada orang yang selamat,” ujar Farhat.  Ia sendiri mendengar adanya tekanan yang dilakukan anggota DPR dari keterangan yang disampaikan pengacara Elza Syarief.

Dalam kesaksiannya, Farhat pernah mendengar cerita Elza bahwa istri Setya Novanto menghubungi Elza meminta bertemu. Istrinya Setya Novanto tersebut awalnya ingin membicarakan terkait kasus e-KTP. Akan tetapi kemungkinan isi pertemuan tersebut diubah lagi saat keduanya diperiksa oleh penyidik KPK.

Ia pernah diperdengarkan mengenai rekaman percakapan tersebut, namun tidak tahu persis pembicaraannya dalam pertemua Elza Syarief dengan istrinya Setya Novanto. “Saya nggak nanya lagi, Pak,” kata bekas suami artis Nia Daniati itu.

Di persidangan juga terungkap Farhat pernah berkomunikasi dengan Zulhendri Hasan, guna membahas  Setya Novanto. Hakim pun langsung mengonfirmasi isi komunikasi tersebut yang tercantum dalam BAP Farhat.

“Keterangan Anda di penyidik, dalam perjalanan tersebut ‘saya sempat telepon Zulhendri (Hasan), ada pertemuan yang dihadiri SN atau Setya Novanto dan mengatakan dia aman dan tidak akan terseret kasus e-KTP’, maksudnya ini gimana?” tanya majelis hakim.  Farhat berdalih komunikasinya dengan Zulhendri adalah suatu kerahasiaan dan tidak mengetahui alasan Elza membawa hasil komunikasinya tersebut ke persidangan.

Kemudian, majelis hakim kembali konfirmasi mengenai pengacara sekaligus politikus Golkar, Rudi Alfonso yang kerapkali memberikan arahan dalam perkara. Dalam BAP Farhat, Rudi Alfonso menyarankan untuk pencabutan BAP.  “Menurut Zulhendri, Rudi Alfonso dalam peran advokat sering berikan arahan kepada pihak berperkara dan buat cabut BAP agar tak akan berdampak kepada mereka,” kata Farhat.

Seperti diketahui, Miryam didakwa memberikan keterangan tidak benar pada persidangan kasus korupsi e-KTP, dengan terdakwa dua pegawai Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto, yang divonis 7 dan 5 tahun penjara.

Dalam BAP, Miryam mengatakan kepada penyidik KPK bahwa ia pernah menerima uang dari Djamal dan Akbar Faizal. Sebelum status tersangka diberikan kepada Miryam, Elza Syarief pernah didatangi Miryam membicarakan kasus e-KTP. Kala itu, Miryam mencurahkan keresahannya tentang adanya ancaman dari beberapa anggota DPR sebelum bersaksi.

Bahkan di dalam BAP Elza yang dibacakan jaksa dan hakim, terungkap nama anggota DPR yang menekan Miryam. Di antaranya Ketua DPR Setya Novanto, Politikus Hanura Akbar Faizal, politikus Golkar Markus Nari dan Djamal Aziz.

Miryam juga secara rinci menjelaskan aliran duit yang diterima bersama beberapa anggota dewan. Namun belakangan BAP itu dicabut keseluruhan lantaran pengakuannya karena merasa diintimidasi penyidik. Padahal dalam video rekaman pemeriksaan KPK, Miryam menyebut beberapa anggota DPR telah mengancamnya.

Keterangan Elza Syarief kemudian menguatkan hal itu. Dalam persidangan sebelumnya, Elza menyebut Akbar bersama anggota DPR lainnya seperti Setya Novanto, Markus Nari, dan Djamal Aziz, ikut mengintimidasi Miryam untuk mencabut BAP dalam perkara korupsi e-KTP.

“Yang sempat marah Akbar Faizal dan Djamal Aziz. Bu Yani cerita, dia tidak pernah terima uang dari Markus Nari, tapi dia terima dari Akbar didampingi Djamal Aziz,” kata Elza dalam persidangan. Bahkan Miryam dimarahi oleh Djamal dan Akbar lantaran nama keduanya disebut Miryam dalam BAP saat diperiksa sebagai saksi kasus korupsi e-KTP.

Farhat Abbas yang kemudian mengetahuinya sempat terkejut. “Saya kaget juga ada pengungkapan itu. Jadi ada pembicaraan yang sifatnya internal dan rahasia. Hanya curhat saja, mencari informasi, ” pungkas Farhat.

Menurut Farhat, perbuatan Miryam yang mencabut BAP adalah kesalahan besar. Aliran uang e-KTP akan lama terungkap.  “Berarti kalau dicabut BAP ini enggak akan ketahuan siapa yang akan menerima duit alirannya ke mana, seperti keterangan yang detail yang disampaikan Miryam di BAP sebelum dia cabut BAP itu,” ujar Farhat.

Saat ditanya apakah ada keterkaitan antara Novanto dengan kasus Miryam, Farhat kembali mengingatkan pada kesaksian Elza. “Kalau dilihat dari rangkaian kesaksiannya seperti itu. kesaksian bu Elza dan informasi. Saya hanya menyampaikan itu yang tidak bisa mereka keluar dari jeratan itu,” pungkas Farhat.

Dalam keterangannya, Farhat berpandangan kasus korupsi pengadaan e-KTP merupakan kasus besar. Kerugian negara mencapai lebih dari Rp 2 triliun dan melibatkan banyak penguasa dan orang-orang yang punya pengaruh yang menjadi target KPK. “Pengalaman Farhat memberikan kesaksian yaitu KPK sepertinya mengejar keterlibatan atau konspirasi yang jelas-jelas antara RA, AT, Miryam dan SN,” sambung Farhat.

Adapun AT dan RA yang dimaksud Farhat, adalah Anton Taufik dan Rudi Alfonso. Keduanya advokat yang diduga berkaitan dengan kasus Miryam. Sedangkan SN adalah Setya Novanto.

Dalam kesaksiannya di persidangan, Anton mengaku pernah bertemu Miryam di kantor Elza. Kedatangannya kala itu disuruh Markus Nari untuk mendapatkan BAP Miryam untuk terdakwa Irman dan Sugiharto, dua pegawai Kementerian Dalam Negeri yang sudah terlebih dahulu mendapat vonis.

Bahkan, Markus meminta Aga Khan, pengacara Miryam, untuk menekan Anton.  Markus menjanjikan sejumlah uang ke Anton apabila ia berhasil mendapatkan BAP Miryam. Usai mengantongi BAP Miryam, Markus menyuruhnya untuk menyerahkan salinan tersebut kepada Elza Syarief selaku teman dekat Miryam.

Miryam kemudian mencabut seluruh keterangannya dalam BAP dengan mendapat tekanan dari penyidik KPK.  Markus kini sudah ditahan KPK atas dugaan merintangi penyidikan Miryam di kasus e-KTP.

Sedangkan nama-nama yang disebut menekan Miryam membantah tuduhan tersebut. Salah satu bantahan diungkapkan Djamal Aziz. “Tidak ada. Sekarang begini, kalau saya dengan Akbar Faizal ini tidak sinkron. Karena kalau sudah ada Akbar, saya sudah enggak ada, jadi kepentingannya apa?” ujar Djamal.

Djamal juga membantah bersama-sama dengan Akbar Faizal memberikan uang kepada Miryam terkait proyek pengadaan e-KTP.  Menurut Djamal, dia tidak lagi bertugas di Komisi II DPR.  Pada Agustus 2010, dia dipindah oleh Fraksi Partai Hanura ke Komisi X DPR.

Sedangkan Akbar Faizal pun membantah tudingan. Ia langsung mengirimkan surat somasi kepada Elza untuk mengklarifikasi keterangannya di persidangan. Namun surat yang dilayangkan Akbar tidak ditanggapi Elza yang akhirnya berujung laporan Akbar ke pihak kepolisian.

Farhat merasa heran dengan sikap Akbar Faisal tersebut. Ia tidak mengetahui alasan Akbar yang terkesan panik kemudian melaporkan Elza ke polisi. Jadi kalau tidak ada keterkaitan kan buat apa? Saya tidak tahu kenapa pak Akbar Faisal kemudian panik. Otomatis KPK akan melindungi ibu Elza sebagai saksi, jangan sampai terjadi hal-hal tidak diinginkan,” ujar Farhat.

 

AFHKAR