Sidang Logo Palu Arit Yang Riuh

Pengadilan Negeri Banyuwangi Mulai Menyidangkan Terdakwa Hari Budiman

 

Akhirnya berlangsung juga sidang kasus demo berlogo palu arit  Pengadilan Negeri (PN) setempat. Untuk menghindari bentrok fisik antar dua kelompok massa, dua jalur Jalan Ahmad Yani depan Pengadilan Negeri Banyuwangi, diblokade polisi. Pagar kawat berduri dibentangkan menutup kedua akses jalan. Puluhan Polisi juga terus berjaga, menyebar mulai dari ruang sidang hingga lokasi blokade.

Massa keluarga terduga Koordinator demo bergambar mirip lambang PKI berada di sisi utara. Sedang massa kelompok anti PKI, yang terdiri dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI), Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Suara Blambangan (Forsuba), berkumpul di sebelah selatan.

 

Massa anti PKI yang hadir di PN Banyuwangi pada 14 September 2017

“Kehadiran kami disini sebagai bentuk dukungan terhadap Pengadilan, kami mendesak penegakan supremasi hukum kasus demo yang mengibarkan logo organisasi terlarang ini,” tegas Ketua FPUI, Kiai Hanan kepada sejumlah wartawan, Rabu (20/9/2017).

Penjagaan ketat polisi tersebut untuk mengantisipasi kalau-kalau terjadi pengerahan massa sepeti pada sidang perdana seminggu sebelumnya. Sidang perdana dengan terdakwa Hari Budiawan alias Budi Pego itu terpaksa ditunda karena diwarnai kehadiran massa anti Partai Komunis Indonesia (PKI).

Puluhan massa anti PKI, yang merupakan gabungan ormas Nasionalis dan Islam hadir di halaman PN Banyuwangi sejak pagi, Kamis (14/9/2017).

Waktu itu, di depan Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, sedikitnya satu peleton pasukan pengamanan tampak siaga di pintu gerbang, sambil memeriksa warga yang hendak memasuki gedung PN Banyuwangi. Humas PN Banyuwangi, Heru Setiyadi mengatakan, agenda sidang pembacaan surat dakwaan dari JPU harus ditunda, mengingat penasihat hukumnya (PH) tidak hadir, dan dalam kasus ini terdakwa harus didampingi PH-nya.

“Dalam pembacaan surat dakwaan oleh JPU tersebut, ada hak terdakwa untuk menanggapi surat dakwaan tersebut dengan keberatan atau eksepsi yang perlu dikonsultasikan kepada PH dari terdakwa. Karena PH terdakwa tidak hadir, maka pembacaan surat dakwaan tidak bisa dilakukan,” jelas Heru. Mengenai kenapa PH tidak hadir dalam persidangan tersebut, Humas PN Banyuwangi ini tidak tahu pasti ketidak hadiran tersebut.

 

Terdakwa Hari Budiawan alias Budi Pego i

Padahal dalam panggilan persidangan sudah ditentukan, bahkan terkait sidang ini, khalayak umum sudah mengetahui. Begitu juga untuk persidangan ini pihaknya sudah dicantumkan dalam website resmi PN Banyuwangi. Terutama dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dan website ini bisa di akses oleh semua masyarakat. “Kami merasa informasi sudah diketahui masyarakat luas, dan kenapa tidak hadir, kami juga tidak tahu alasan PH terdakwa sampai tidak hadir saat persidangan dimulai,” lontarnya. Sementara diluar gedung PN Banyuwangi, massa anti Komunis atau PKI yang terdiri dari Pemuda Pancasila (PP), Forum Suara Blambangan (Forsuba) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, melakukan orasi, pekikan Merdeka, Merdeka, Merdeka sebagai penyemangat para aktivis tersebut kendati sengatan matahari begitu terasa di kulit, namun para aktivis tersebut tidak menghiraukan.

Situasi tambah memanas, tatkala rombongan 3 bus yang penumpangnya warga Pesanggaran didampingi, Koordinator Forum Solidaritas Banyuwamgi (FSB) M. Yunus Wahyudi berhenti tidak jauh dari PN Banyuwangi. Agar tidak terjadi bentrokan, pasukan pengamanan Polres Banyuwangi, langsung mengantisipasi, dan membuat pagar agar tidak terjadi tawuran. Pasalnya para aktivis anti Paham Komunis atau PKI merangsek menuju tempat warga Pesanggaran berkumpul.

Setelah d beri penjelasan oleh aparat, kalau sidang di tunda, massa pun terlihat kecewa. “Setahu saya, sidang di mulai pukul 13.00 WIB. Bukan pukul 10.00,” sergah Yunus yang didampingi kuasa hukum terdakwa Amrulloh, SH. Lantas warga Pesanggaranpun kembali ke bus. Sedangkan massa dari aktivis anti PKI dan bahaya laten masih bertahan di depan gedung PN Banyuwangi. “Kita bersama, FPUI, Forsuba dan PCNU, sengaja tetap berada dikantor PN guna mendukung proses peradilan kasus palu arit ini,” tegas Ketua PP Banyuwangi, Eko Suryono.

Namun sayang, sidang tersebut di tunda, lantaran Kuasa Hukum terdakwa tidak hadir. Terpaksa Ketua Majelis Hakim, Putu Endru Sonata SH MH, harus menunda jalannya persidangan.  “Sidang ditunda pada hari Rabu 20 September 2017,” ucap Putu Endru Sonata, diikuti ketukan palu sidang.

Walaupun demikian, massa anti PKI yang terdiri dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Forum Suara Blambangan (Forsuba), Front Peduli Umat Indonesia (FPUI), dan Pemuda Pancasila (PP), masih enggan membubarkan diri. Sambil sesekali mengucap pekik kemerdekaan dan keagungan Allah, mereka terus menduduki kantor PN. “Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!, Allahu Akbar,” lantang dari kerumunan massa.

Suasana memanas setelah keluarga terdakwa dan pengacara terdakwa yang didampingi Ketua Forum Solidaritas Banyuwangi (FSB), yang juga aktivis kontroversial, M Yunus Wahyudi datang ke PN Banyuwangi.

Begitu keluarga Budi Pego turun dari kendaraan, massa anti PKI mencoba merangsek. Tak ingin kecolongan, Polisi langsung menghalau rombongan massa anti PKI. Bahkan, guna menghindari aksi perusakan, gerbang PN Banyuwangi, dikunci dan dijaga ketat petugas.

“Kita bersama, PCNU, Forsuba dan FPUI, sengaja tetap berada di kantor Pengadilan guna mendukung proses peradilan kasus palu arit ini, karena ini adalah indikasi bahaya Laten,” tegas Ketua PP Banyuwangi, Eko Suryono S Sos.

Sementara itu, aksi mencekam baru mereda setelah rombongan keluarga terdakwa meninggalkan PN Banyuwangi.