Savita Dituntut 1,5 Tahun, Ramadhan Pohan 3 Tahun

Sidang Kasus Penipuan Sebesar Rp 15,3 Miliar

Savita Linda didakwa dalam kasus penipuan sebesar Rp15,3 miliar. Savita merupakan bendahara pemenagan Ramadhan Pohan pada Pilkada Medan 2015 lalu.

Savita Linda Hora Panjaitan tertunduk lesu. Wajahnya pucat. Aura sedih terpancar dari raut mukanya yang penuh penyesalan. Mantan bendahara pemenangan Ramadhan Pohan pada Pilkada Medan 2015 ini, seakan tak kuasa menatap jaksa penuntut umum (JPU) yang mendakwanya dengan pasal penipuan.

Savita hanya tertegun saat JPU Emmy menuntutnya dengan hukuman satu tahun enam bulan penjara. “Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 378 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1, jo Pasal 65 ayat (1) ke-1 KUHPidana,” sebut Emmy dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (19/9/2017).

Menurut JPU, terdakwa Savita bersalah turut terlibat dalam tindak pidana penipuan terhadap Rotua Hotnida boru Simanjuntak dan Laurenz Hendry Hamonangan Sianipar. Akibat perbuatannya itu, Rotua dan Laurenze mengalami kerugian sebesar Rp 15,3 miliar. “Hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum. Terdakwa juga tidak menikmati uang itu dan sudah berdamai dengan para korban,” ungkap Emmy seraya meminta majelis hakim untuk melakukan penahanan terhadap Savita Linda.

Sidang selanjutnya digelar 5 Oktober 2017 mendatang dengan agenda pembacaan pledoi. Sebelumnya, JPU Emmy SH juga menuntut Ramadhan Pohan dengan hukuman 3 tahun penjara. Ramadhan dinilai bersalah melakukan tindak pidana penipuan senilai Rp 15,3 miliar. “Meminta agar majelis hakim yang menangani perkara ini, memutuskan menyatakan terdakwa bersalah melakukan penipuan yang berkelanjutan. Meminta agar terdakwa dihukum dengan tiga tahun penjara,” kata JPU Emmy SH dihadapan majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik.

Selain itu dalam nota tuntutannya, JPU juga meminta agar terdakwa ditahan. “Dengan perintah agar terdakwa ditahan,” sebut Emmy.

JPU menilai terdakwa tidak mengakui perbuatannya. Bahkan, selama persidangan terdakwa kerap berbelit-belit memberikan keterangan. “Sedangkan hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum,” terang jaksa.

Usai mendengar nota tuntutan JPU, majelis hakim kemudian menunda persidangan hingga tanggal 28 September 2017 untuk agenda pembelaan terdakwa.

Dalam dakwaan dijelaskan bahwa Ramadhan Pohan bersama Savita Linda melakukan penipuan dengan korbannya adalah Rotua Hotnida Boru Simanjuntak dan Laurenz Hendry Hamongan Sianipar. Dua korban yang berstatus ibu dan anak ini mengalami kerugian dengan total Rp15,3 miliar.

Dari sejumlah pertemuan, keduanya mengaku terbujuk rayu dan janji hingga mau memberikan uang sebesar Rp15,3 miliar untuk kepentingan Ramadhan Pohan, yang maju dalam Pilkada sebagai calon Wali Kota Medan 2016-2021. Lalu uang diserahkan di posko pemenangan pasangan Ramadhan Pohan yang berpasangan dengan Eddy Kusuma (REDI).

Baik Rotua dan Laurenz pun percaya, dengan menyerahkan uang kepada Ramadhan Pohan. Dengan perjanjian akan mengembalikan uang tersebut bersama bunganya. Setelah Ramadhan Pohan tidak terpilih dalam Pilkada Medan, ibu dan anak itu meminta kembali uangnya tersebut. Namun janji tinggal janji, bahkan cek yang diberikan Ramadhan Pohan tidak dapat dicairkan karena dananya tidak mencukupi. Apalagi, Ramadhan yang merupakan pengurus Partai Demokrat selalu mengelak saat ditagih pembayaran.

(ZAINUL ARIFIN SIREGAR)