Palu Arit Memang Masih Ada

Pemakai Kaos Berlogo Palu Arit Bermunculan

 

Pada 4 April 2017 lalu, Hari Budiman yang dipanggil Budi Pego bersama sejumlah masyarakat menggelar demo menolak tambang di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Mereka mengibarkan spanduk bergambar mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena perbuatannya, demonstran harus menjalani pemeriksaan petugas lantaran diduga telah menyebarkan paham Komunis. Dan  Senin, 4 September 2017 Budi Pego ditahan.

Kasus Budi Pego berlanjut ke pengadilan. Setelah sidang perdana sempat tertunda selama satu minggu, akhirnya berlangsung juga sidang Budi Pego. Sidang ini terkenal dengan nama Sidang Palu Arit. Berlangsung di  Pengadilan Negeri (PN) setempat.

 

Sidang Budi Pego

 

Untuk menghindari bentrok fisik antar dua kelompok massa, dua jalur Jalan Ahmad Yani depan Pengadilan Negeri Banyuwangi, diblokade polisi. Pagar kawat berduri dibentangkan menutup kedua akses jalan. Puluhan Polisi juga terus berjaga, menyebar mulai dari ruang sidang hingga lokasi blokade. Sebab, massa anti PKI dan massa Budi Pego datang sama-sama datang.

Massa pendukung Budi Pego berada di sisi utara. Sedang massa kelompok anti PKI, yang terdiri dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI), Pemuda Pancasila (PP) dan Forum Suara Blambangan (Forsuba), berkumpul di sebelah selatan.

“Kehadiran kami disini sebagai bentuk dukungan terhadap Pengadilan, kami mendesak penegakan supremasi hukum kasus demo yang mengibarkan logo organisasi terlarang ini,” tegas Ketua FPUI, Kiai Hanan kepada sejumlah wartawan, Rabu 20 September 2017.

Penjagaan ketat polisi tersebut untuk mengantisipasi kalau-kalau terjadi pengerahan massa sepeti pada sidang perdana seminggu sebelumnya. Sidang perdana pada Kamis 14 September 2017 dengan terdakwa Hari Budiawan alias Budi Pego itu terpaksa ditunda karena diwarnai kehadiran massa anti Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pengguna Kaos Berlambang palu arit ditangkap polisi

 

Puluhan massa anti PKI, yang merupakan gabungan ormas Nasionalis dan Islam hadir di halaman PN Banyuwangi sejak pagi. Waktu itu, di depan Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, sedikitnya satu peleton pasukan pengamanan tampak siaga di pintu gerbang, sambil memeriksa warga yang hendak memasuki gedung PN Banyuwangi.

Suasana memanas setelah keluarga terdakwa dan pengacara terdakwa yang didampingi Ketua Forum Solidaritas Banyuwangi (FSB), yang juga aktivis kontroversial, M Yunus Wahyudi datang ke PN Banyuwangi.

Begitu keluarga Budi Pego turun dari kendaraan, massa anti PKI mencoba merangsek. Tak ingin kecolongan, Polisi langsung menghalau rombongan massa anti PKI. Bahkan, guna menghindari aksi perusakan, gerbang PN Banyuwangi, dikunci dan dijaga ketat petugas.

“Kita bersama, PCNU, Forsuba dan FPUI, sengaja tetap berada di kantor Pengadilan guna mendukung proses peradilan kasus palu arit ini, karena ini adalah indikasi bahaya Laten,” tegas Ketua PP Banyuwangi, Eko Suryono S Sos

Apa boleh buat, Humas PN Banyuwangi, Heru Setiyadi mengatakan, agenda sidang pembacaan surat dakwaan dari JPU harus ditunda, mengingat penasihat hukumnya (PH) tidak hadir, dan dalam kasus ini terdakwa harus didampingi PH-nya.

“Dalam pembacaan surat dakwaan oleh JPU tersebut, ada hak terdakwa untuk menanggapi surat dakwaan tersebut dengan keberatan atau eksepsi yang perlu dikonsultasikan kepada PH dari terdakwa. Karena PH terdakwa tidak hadir, maka pembacaan surat dakwaan tidak bisa dilakukan,” jelas Heru ketika itu. Mengenai kenapa PH tidak hadir dalam persidangan tersebut, Humas PN Banyuwangi ini tidak tahu pasti ketidak hadiran tersebut.

Padahal dalam panggilan persidangan sudah ditentukan, bahkan terkait sidang ini, khalayak umum sudah mengetahui. Begitu juga untuk persidangan ini pihaknya sudah dicantumkan dalam website resmi PN Banyuwangi. Terutama dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dan website ini bisa di akses oleh semua masyarakat. “Kami merasa informasi sudah diketahui masyarakat luas, dan kenapa tidak hadir, kami juga tidak tahu alasan PH terdakwa sampai tidak hadir saat persidangan dimulai,” lontarnya.

Sementara di luar gedung PN Banyuwangi, massa anti Komunis atau PKI yang terdiri dari Pemuda Pancasila (PP), Forum Suara Blambangan (Forsuba) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, melakukan orasi, pekikan Merdeka, Merdeka, Merdeka sebagai penyemangat para aktivis tersebut kendati sengatan matahari begitu terasa di kulit, namun para aktivis tersebut tidak menghiraukan.

Situasi tambah memanas, tatkala rombongan 3 bus yang penumpangnya warga Pesanggaran didampingi, Koordinator Forum Solidaritas Banyuwamgi (FSB) M. Yunus Wahyudi berhenti tidak jauh dari PN Banyuwangi. Agar tidak terjadi bentrokan, pasukan pengamanan Polres Banyuwangi, langsung mengantisipasi, dan membuat pagar agar tidak terjadi tawuran. Pasalnya para aktivis anti Paham Komunis atau PKI merangsek menuju tempat warga Pesanggaran berkumpul.

Setelah di beri penjelasan oleh aparat, kalau sidang di tunda, massa pun terlihat kecewa. “Setahu saya, sidang di mulai pukul 13.00 WIB. Bukan pukul 10.00,” sergah Yunus yang didampingi kuasa hukum terdakwa Amrulloh, SH. Lantas warga Pesanggaranpun kembali ke bus. Sedangkan massa dari aktivis anti PKI dan bahaya laten masih bertahan di depan gedung PN Banyuwangi. “Kita bersama, FPUI, Forsuba dan PCNU, sengaja tetap berada dikantor PN guna mendukung proses peradilan kasus palu arit ini,” tegas Ketua PP Banyuwangi, Eko Suryono.

Namun sayang, sidang tersebut di tunda, lantaran Kuasa Hukum terdakwa tidak hadir. Terpaksa Ketua Majelis Hakim, Putu Endru Sonata SH MH, harus menunda jalannya persidangan.  “Sidang ditunda pada hari Rabu 20 September 2017,” ucap Putu Endru Sonata, diikuti ketukan palu sidang.

Walaupun demikian, massa anti PKI masih enggan membubarkan diri. Sambil sesekali mengucap pekik kemerdekaan dan keagungan Allah, mereka terus menduduki kantor PN. “Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!, Allahu Akbar,” seru massa anti PKI. Aksi mencekam baru mereda setelah rombongan keluarga terdakwa meninggalkan PN Banyuwangi.

 

Belakangan ini, memang sering ada penampakan lambang palu arit yang cukup menggemparkan. Pada awal tahun 2015, Putri Indonesia, Anindya Kusuma Putri, dilaporkan ke polisi oleh Front Pembela Islam (FPI) Solo setelah ia mengunggah foto dirinya yang sedang mengenakan kaos bergambar simbol “palu arit”, saat ia mengunjungi Vietnam. FPI menuduh Anindya menyebarkan gagasan-gagasan komunis. Seorang pengacara FPI, Pongky Yoga Wiguna, menyatakan bahwa “Karena kaum komunis tidak mengakui Tuhan.”

Bulan Agustus 2015, sepanjang perayaaan 70 tahun Kemerdekaan Indonesia di Pamekasan, Jawa Timur, simbol palu-arit juga muncul bersamaan dengan poster beberapa tokoh PKI seperti Aidit dan Untung. Meskipun semua gambar-gambar ini muncul di dalam pertunjukan teater yang bertujuan memperagakan kekejaman PKI terhadap militer pada tahun 1965, simbol “palu-arit” menurut beberapa media, masih memunculkan ketakutan masyarakat dan sekali lagi dianggap sebagai anti-agama.

Di Jember, dua mahasiswa ditahan pada pertengahan Agustus karena menggambar simbol yang menimbulkan perdebatan ini pada dinding kampus Universitas Jember. Dan belakangan ini, seorang lelaki ditahan oleh Polisi Ngawi, karena menjual kaos dengan gambar palu-arit.

Tapi, apa sesungguhnya latar belakang simbol palu-arit, yang masih menghantui masyarakat Indonesia? Perlu diselidik, disidik, dan diadili.

Hamdani